Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi kereta cepat (Foto: Instagram @keretacepat_id)

Tiket Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) akan digratiskan selama masa uji coba terbatas sampai Oktober 2023 mendatang.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan tiket kereta cepat Jakarta-Bandung akan dijual secara cuma-cuma selama tiga bulan pertama mulai Agustus mendatang.

Rencananya uji coba terbatas KCJB akan dilaksanakan pada 18 Agustus 2023. Pada saat itu, masyarakat diperbolehkan menjajal kereta cepat ini dari Stasiun Halim, Jakarta sampai Stasiun Padalarang, Bandung.

“(Tiket KCJB) GRATIS SELAMA 3 BULAN PERTAMA, untuk masyarakat yang ingin mencoba Kereta Api Cepat Jakarta Bandung. Dari 18 Agustus sd Oktober,” ujar Kang Emil dikutip dalam keterangan di Instagram-nya, Senin (26/6).

Menurut Kang Emil, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga telah menyetujui gagasan ini saat diusulkan ketika mengetes kecepatan kereta cepat.

Saat melakukan uji coba beberapa hari lalu, Kang Emil menyatakan kecepatan maksimal yang bisa ditempuh kereta cepat Jakarta-Bandung telah mencapai 354 km/jam.

Menariknya, jarak dari Stasiun Halim, Jakarta sampai Stasiun Padalarang, Bandung hanya menghabiskan waktu 20 menitan saja.

“Doakan proses pengetesan lancar dan akhirnya kemajuan infrastruktur transportasi ini bisa kita gunakan bersama-sama,” kata Kang Emil.

Kehadiran Kereta Cepat Jakarta-Bandung, diharapkan mampu menggaet wisatawan dalam dan luar negeri sebagai salah satu segmen penumpangnya.

Kecepatan dan kenyamanan yang ditawarkan KCJB, menjadi nilai tambah bagi para wisatawan yang ingin bepergian dengan aman, cepat, dan nyaman.

Hanya dengan waktu tempuh 30-40 menit saja, masyarakat bisa pergi dari Jakarta menuju Bandung dan sebaliknya dengan menggunakan KCJB.

Artinya, penumpang bisa menghemat waktu untuk liburan, mengunjungi tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya. Waktu tempuh yang lebih singkat, tentunya menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan.

Nantinya, masyarakat yang dapat menaiki KCJB secara gratis akan dibatasi untuk sekitar 600 penumpang. Adapun cara pendaftarannya akan dilakukan secara online dengan sistem siapa cepat dia dapat.

Ke depannya, jangkauan kereta cepat akan diperluas hingga Surabaya, Jawa Timur. Namun, saat ini studi kelayakan masih dalam proses.

“Tahap 2 adalah Bandung-Kertajati-Yogya-Solo-Surabaya. Studi kelayakan disepakati untuk segera dilakukan,” tutup Kang Emil.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi stunting (Foto: kuarmungadd via Getty Images)

Stunting adalah kondisi yang membuat tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya yang disebabkan oleh kondisi kekurangan gizi dalam jangka panjang.

Seorang anak dikatakan mengalami stunting, jika tinggi badan untuk usia mereka lebih dari dua standar deviasi (SD) di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO.

Spesiali Gizi Klinik dr. Jenni, M. Gizi., Sp.GK., menjelaskan, stunting adalah suatu keadaan yang irreversible atau membuat anak hampir tidak bisa balik kembali.

“Sangat susah untuk memperbaiki stunting, tapi saat ini kalau dengan pemenuhan gizi yang bai kita harapkan di masa pubertas nanti anak bisa mengejar kembali walaupun tidak bisa maksimal,” ujar dr. Jenni dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, Jumat (23/6).

 

Perbedaan Stunting dan Malnutrisi

Menurut dr. Jenni, stunting adalah kondisi yang berada di dalam malnutrisi. Malnutrisi sendiri dibagi menjadi protein, energi, malnutrisi, dan mikronutrien defisiensi.

“Jadi stunting adalah kondisi kurang protein, energi, atau kurang mikronutien tertentu. Misalnya kekurangan vitamin A, zat besi, seng, dan sebagainya. Nah, stunting ini termasuk di dalam PEM ini,” kata dr. Jenni.

Pada kasus stunting, tidak jarang orang tua seperti tidak begitu sensitif untuk melihat ini. Padahal, stunting bukanlah suatu hal yang terjadi sesaat.

“Artinya sudah lama juga kekurangan gizi, tapi ini tidak mengancam jiwa. Pada kasus stunting akut, anak masih bisa kembali lagi, tapi untuk kasus stunting kronis ini sudah tidak bisa,” jelasnya.

 

Penyebab Stunting

Kondisi stunting biasanya disebabkan oleh asupan yang tidak kuat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Meski demikian, kondisi stunting tidak hanya bergantung pada kondisi sosial-ekonomi seseorang. Pasalnya, kondisi stunting juga ternyata bisa terjadi pada masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah atau menengah ke atas.

Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh ketidaktahuan dari sang ibu, sehingga pendidikan seorang ibu sangat penting dalam membesarkan dan merawat anaknya.

Penyebab kedua, stunting disebabkan karena kurangnya gizi sejak dalam kandungan. Ketiga, stunting disebabkan oleh infeksi yang berasal dari daerah dengan sanitasi yang kotor.

Stunting itu dimulai sejak seorang wanita hamil, jadi sejak dalam kandungan. Untuk itu, kita harus memberikan pengertian atau pengetahuan gizi yang baik untuk ibu hamil, bahkan para remaja putri,” ungkap dr. Jenni.

 

Asupan Gizi untuk Ibu Hamil

Ada beberapa asupan gizi penting yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil untuk mencegah stunting pada anak.

Menurut dr. Jenni, pada trimester pertama dari kehamilan ibu hamil harus memperbanyak asupan asam folat untuk membentuk sel otak, sistem saraf, dan sebagainya. Selain itu, ibu hamil juga tidak bileh kekurangan kalsium dan zat besi untuk mencegah kondisi anemia fisiologis.

Untuk itu, dr. Jenni menyarankan agar ibu hamil bisa berpatokan pada pola makan gizi seimbang, yakni harus mempertimbangkan karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah yang cukup untuk melahirkan anak yang sehat.

 

Ciri-ciri Anak Stunting

Seorang anak yang mengalami stunting, akan terlihat dari perawakannya yang lebih pendek dari usia anak-anak sebayanya. Selain itu, anak dengan wajah yang terlihat lebih muda dan lebih kecil dibandingkan anak seusianya juga bisa menjadi ciri-ciri stunting.

Pada beberapa kasus, stunting yang berlanjut sampai dewasa juga bisa mengganggu fungsi kognitif anak yang menyebabkan anak dia kurang cerdas dibandingkan teman-teman sebayanya.

Kemudian, kondisi stunting juga bisa mempengaruhi produktivitas anak ke depannya, sehingga bisa berpengaruh pada produktivitas kerjanya.

“Jadi sebenarnya pada stunting ini selain dari fungsi kognitif, juga terlihat dari fisiologisnya bahwa dia gampang sakit, sering karena penyakit infeksi, Di dalam jangka panjang, anak-anak ini bisa mendapat penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes, hipertensi, sampai peningkatan kolesterol,” jelas dr. Jenni.

 

Pengobatan Stunting

Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami stunting, mereka bisa melakukan pemeriksaan atau ke posyandu secara teratur. Jika anak terkonfirmasi mengalami stunting, dokter atau ahli gizi akan memberikan terapi gizi dengan melakukan perbaikan pola makan atau pemberian vitamin.
Pemberian gizi yang maksimal ini, diharapkan bisa membuat anak mengejar ketertinggalannya meski tidak maksimal.

“Saya memberi saran kepada ibu-ibu yang punya anak perempuan untuk memberikan gizi yang baik, serta mengawasi pola makan dan diet anak agar tidak terjebak tren diet yang salah,” tutup dr. Jenni.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi stunting (Foto: kuarmungadd via Getty Images)

Stunting adalah kondisi yang membuat tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya yang disebabkan oleh kondisi kekurangan gizi dalam jangka panjang.

Seorang anak dikatakan mengalami stunting, jika tinggi badan untuk usia mereka lebih dari dua standar deviasi (SD) di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO.

Spesiali Gizi Klinik dr. Jenni, M. Gizi., Sp.GK., menjelaskan, stunting adalah suatu keadaan yang irreversible atau membuat anak hampir tidak bisa balik kembali.

“Sangat susah untuk memperbaiki stunting, tapi saat ini kalau dengan pemenuhan gizi yang bai kita harapkan di masa pubertas nanti anak bisa mengejar kembali walaupun tidak bisa maksimal,” ujar dr. Jenni dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, Jumat (23/6).

 

Perbedaan Stunting dan Malnutrisi

Menurut dr. Jenni, stunting adalah kondisi yang berada di dalam malnutrisi. Malnutrisi sendiri dibagi menjadi protein, energi, malnutrisi, dan mikronutrien defisiensi.

“Jadi stunting adalah kondisi kurang protein, energi, atau kurang mikronutien tertentu. Misalnya kekurangan vitamin A, zat besi, seng, dan sebagainya. Nah, stunting ini termasuk di dalam PEM ini,” kata dr. Jenni.

Pada kasus stunting, tidak jarang orang tua seperti tidak begitu sensitif untuk melihat ini. Padahal, stunting bukanlah suatu hal yang terjadi sesaat.

“Artinya sudah lama juga kekurangan gizi, tapi ini tidak mengancam jiwa. Pada kasus stunting akut, anak masih bisa kembali lagi, tapi untuk kasus stunting kronis ini sudah tidak bisa,” jelasnya.

 

Penyebab Stunting

Kondisi stunting biasanya disebabkan oleh asupan yang tidak kuat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Meski demikian, kondisi stunting tidak hanya bergantung pada kondisi sosial-ekonomi seseorang. Pasalnya, kondisi stunting juga ternyata bisa terjadi pada masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah atau menengah ke atas.

Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh ketidaktahuan dari sang ibu, sehingga pendidikan seorang ibu sangat penting dalam membesarkan dan merawat anaknya.

Penyebab kedua, stunting disebabkan karena kurangnya gizi sejak dalam kandungan. Ketiga, stunting disebabkan oleh infeksi yang berasal dari daerah dengan sanitasi yang kotor.

Stunting itu dimulai sejak seorang wanita hamil, jadi sejak dalam kandungan. Untuk itu, kita harus memberikan pengertian atau pengetahuan gizi yang baik untuk ibu hamil, bahkan para remaja putri,” ungkap dr. Jenni.

 

Asupan Gizi untuk Ibu Hamil

Ada beberapa asupan gizi penting yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil untuk mencegah stunting pada anak.

Menurut dr. Jenni, pada trimester pertama dari kehamilan ibu hamil harus memperbanyak asupan asam folat untuk membentuk sel otak, sistem saraf, dan sebagainya. Selain itu, ibu hamil juga tidak bileh kekurangan kalsium dan zat besi untuk mencegah kondisi anemia fisiologis.

Untuk itu, dr. Jenni menyarankan agar ibu hamil bisa berpatokan pada pola makan gizi seimbang, yakni harus mempertimbangkan karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah yang cukup untuk melahirkan anak yang sehat.

 

Ciri-ciri Anak Stunting

Seorang anak yang mengalami stunting, akan terlihat dari perawakannya yang lebih pendek dari usia anak-anak sebayanya. Selain itu, anak dengan wajah yang terlihat lebih muda dan lebih kecil dibandingkan anak seusianya juga bisa menjadi ciri-ciri stunting.

Pada beberapa kasus, stunting yang berlanjut sampai dewasa juga bisa mengganggu fungsi kognitif anak yang menyebabkan anak dia kurang cerdas dibandingkan teman-teman sebayanya.

Kemudian, kondisi stunting juga bisa mempengaruhi produktivitas anak ke depannya, sehingga bisa berpengaruh pada produktivitas kerjanya.

“Jadi sebenarnya pada stunting ini selain dari fungsi kognitif, juga terlihat dari fisiologisnya bahwa dia gampang sakit, sering karena penyakit infeksi, Di dalam jangka panjang, anak-anak ini bisa mendapat penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes, hipertensi, sampai peningkatan kolesterol,” jelas dr. Jenni.

 

Pengobatan Stunting

Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami stunting, mereka bisa melakukan pemeriksaan atau ke posyandu secara teratur. Jika anak terkonfirmasi mengalami stunting, dokter atau ahli gizi akan memberikan terapi gizi dengan melakukan perbaikan pola makan atau pemberian vitamin.
Pemberian gizi yang maksimal ini, diharapkan bisa membuat anak mengejar ketertinggalannya meski tidak maksimal.

“Saya memberi saran kepada ibu-ibu yang punya anak perempuan untuk memberikan gizi yang baik, serta mengawasi pola makan dan diet anak agar tidak terjebak tren diet yang salah,” tutup dr. Jenni.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: