Kaligrafi Tiongkok

Cegah Tumpukan Sampah, Ibu-ibu di Medan Ubah Lahan Kosong Jadi Kebun Sayuran | Foto: Tayangan YouTube DAAI Magazine

Sahabat DAAI, apakah kalian sering melihat lahan kosong yang ditumpuk oleh sampah? Siapa sangka kalau ada sekelompok ibu-ibu yang mampu menyulap lahan tidak terpakai, menjadi lahan pertanian di tengah kota Medan.

Sekumpulan ibu-ibu asal Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru, Medan, berhasil memberdayakan lahan kosong yang penuh tumpukan sampah menjadi lahan pertanian untuk menambah pemasukan warga sekitarnya.

Mulanya, kekhawatiran ini dirasakan oleh Desi Sri Pasca selaku Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) karena melihat banyak lahan kosong yang menjadi tempat pembuangan sampah di sekitar lahan kelurahan.

Kemudian, Desi berinisiatif untuk membersihkan lahan dan mengajak masyarakat sekitar untuk ikut mengubah lahan tersebut menjadi lebih bermanfaat.

Luas lahan kosong yang mencapai setengah hektare, kini diubah menjadi ladang sayur yang ditanami kangkung, bayam, bawang merah, dan pakcoy.

“Sore-sore kita menanam, warga lewat, mereka tertarik, dan mereka singgah. ‘Yuk, Pak kita buat, yuk’, gitu awalnya. Lama-lama makin ramai yang ingin tahu. Jadi kita buatkan seperti lesson and learned,” jelas Desi dikutip dari tayangan YouTube DAAI Magazine, Kamis (18/4).

Sampai saat ini, setidaknya sudah ada 20 ibu-ibu yang membantu mengelola lahan pertanian ini. Kegiatan ini berkembang bukan hanya sekadar peduli lingkungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan pangan lokal.

 

Memotivasi dan Menyejahterakan Warga

Kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk peduli lingkungan dari para warga, tetapi sebagai kegiatan untuk silaturahmi antar warga dan menyejahterakan warga.

Beberapa di antara ibu-ibu menggunakan kegiatan ini sebagai sarana melepas penat, tetapi beberapa warga juga mengaku kegiatan ini menjadi ladang berkah.

Biasanya, para warga diperbolehkan untuk membawa sayur hasil panen secukupnya. Kemudian, sebagian dari hasil panen akan dijual kembali ke wilayah pasar.

Selama 3 bulan sekali, setidaknya masyarakat mampu menghasilkan panen sebesar 50 kg serai dan dihargai sekitar Rp5.000 per kilo.

Pada kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memanen saja, tetapi ikut serta mengasah kreativitasnya dengan menciptakan produk dari hasil tanaman mereka.

 

Menghasilkan Produk Sendiri

Salah satu warga yang menggunakan kegiatan ini menjadi ladang berkah adalah Dona Triana.

Ia mengaku, hasil panen tanaman serai ini akan diolah menjadi jus atau minuman kesehatan dan akan dijual kembali dengan harga Rp5.000 per botol.

Dona menjelaskan, ada agen-agen yang membeli hasil panen dari ladangnya untuk dijual kembali.

Alasannya biar tidak banyak ibu yang menganggur, biar ada mereka juga bisa nambah penghasilan,” tutup Dona.


Penulis: Kerin Chang

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: