Peresmian Jembatan Cinta Kasih Polapare  di Sungai Polapare, Minggu 10 Mei 2026. Jembatan ini menghubungkan ribuan warga dari dua desa yakni Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru di Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya.

Peresmian Jembatan Cinta Kasih Polapare  di Sungai Polapare, Minggu 10 Mei 2026. Jembatan ini menghubungkan ribuan warga dari dua desa yakni Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru di Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya.

Penulis:
Paulus Florianus
GM Corporate Communication DAAI TV

Elizabeth Dunn, profesor psikologi sosial dari University of British Columbia yang terkenal atas penelitian eksperimentalnya tentang kebahagiaan dan perilaku manusia, mengatakan membantu orang lain membuat kita lebih bahagia, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita melakukannya. Saya melihat dan merasakan itu di Sumba.

 

Lalu Kebaikan itu Menular ke Bondo Bella dan Rita Baru

Minggu, 10 Mei 2026. Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIT, saya menuju ke lokasi peresmian jembatan kedua di Sungai Polapare. Sungai ini memisahkan dua desa, di sisi utara Desa Bondo Bella dan sisi selatan Desa Rita Baru. Keduanya berada di Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya. Rute yang dilewati cukup berat. Setelah melalui jalan raya beraspal, lalu melewati jalan tanah berbatu yang dikelilingi semak belukar. Mobil terpaksa berhenti di sebuah bukit yang berada di Desa Bondo Bella. Lanjut dengan berjalan kaki.

Kali ini medannya lebih berat dari Mata Kapore. Menyusuri jalan setapak padang ilalang, jalan menurun cukup terjal, licin, berjalan di antara pepohonan, jalan dengan perlahan dan hati-hati. Di tengah perjalanan saya disusul oleh belasan anak sekolah dasar, mereka membawa peralatan masak, seperti baskom dan kuali, sambil berlari dan bernyanyi riang dalam bahasa lokal. Mereka sangat bersemangat menuju lokasi peresmian jembatan. Sesekali anak-anak ini mengingatkan saya, “Hati-hati Papa, jalannya licin”, ujar mereka sambil terus berjalan meninggalkan saya di belakang yang mulai terengah-engah.

Tiba di Sungai Polapare sekitar pukul 09.00 WIT. Di tepi sungai, puluhan warga sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan peresmian jembatan. Asap putih mengepul dari sebuah tenda biru yang dibuat seadanya, melindungi mama-mama dari sengatan matahari Sumba bulan Mei yang panas. Mama-mama sibuk memasak untuk makan siang. Bapak-bapak membereskan lokasi untuk acara persemian. Anak-anak bermain riang, sebagian asyik mandi di Sungai Polapare yang dingin, segar, dan jernih.

Sementara relawan dari Vertical Rescue Indonesia (VRI) masih sibuk membereskan detail kecil jembatan, mengecat, dibantu beberapa warga. Mereka berburu dengan waktu.  Relawan dari VRI, BRIN, dan warga bahkan harus bekerja hingga larut malam agar jembatan bisa diresmikan tepat waktu. Mereka sudah bekerja keras, siang malam, selama hampir tiga minggu.

Saya dan Koh Acong duduk di tepi Sungai Polapare, di atas batang-batang  kayu yang disiapkan warga. Ngobrol dengan anak-anak yang sejak pagi sudah ada di lokasi. Sebagian mengenakan seragam sekolah, beberapa anak memakai baju adat khas Sumba, banyak di antara mereka yang bertelanjang kaki, tidak memakai sandal atau sepatu. Mama-mama menawarkan kopi khas Sumba dan pisang bakar. Jujur ini perpaduan yang sangat sempurna. Rasa kopinya mantap disaji dengan pisang setengah matang yang dibakar di atas bara kayu bakar, masih hangat. Saya menyeruput kopi Sumba ditemani pisang bakar, di tengah hutan, di tepi sungai, sambil melihat jembatan yang sebentar lagi akan dibuka untuk warga. Saya menarik napas panjang, alhamdulillah!

Waktu menunjukan pukul 9 lewat. Produser DAAI TV, Bernadeta Santhi, mengarahkan anak-anak dan warga untuk berkumpul. Kak Berna, demikian biasa disapa, meminta anak-anak menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku…. Indonesia Raya, merdeka! Merdeka! – Bergema di tengah rimba, di antara pohon-pohon, di antara riak Sungai Polapare yang selama ini membuat mereka tidak  merdeka untuk ke sekolah.

Namun, sebentar lagi mereka akan merdeka. Bisa pulang pergi sekolah dengan aman dan nyaman, atau tidak perlu menginap di rumah saudara lagi, terpisah dari orang tua, agar bisa bersekolah.

Langit Sumba semakin menghangat. Ratusan anak sudah siap. Saya mewakili DAAI TV, Koh Acong mewakili para donatur, Prof. Dr. M. Alie Humaedi dari BRIN, Dadan Ridwan Hamdani dari VRI, perwakilan JNE Tambolaka, Kepala Desa Bondo Bella dan Rita Baru, Kepala sekolah dan guru dari SDN dan SMPN Rita Baru, tokoh masyarakat, dan tokoh adat menyerahkan bantuan kepada ratusan anak. Bantuan berupa tas dan perlengkapan sekolah.

Anak-anak berbaris, satu per satu maju menerima bantuan. Kami memberi bantuan sambil membungkukkan badan, bentuk  wujud syukur dan terima kasih, karena masih ada orang  yang  mau menerima bantuan, karena  tanpa ada yang mau menerima, kami tidak bisa menyalurkan kebaikan dari para donatur. Anak-anak menerima dengan penuh  sukacita.

Ratusan tas dan perlengkapan sekolah ini bisa sampai di tepi Sungai Polapare dan sebelumnya di Sungai Limbu Kawango di Desa Mata Kapore, berkat bantuan berbagai pihak. DAAI TV dan Koh Acong memberi bantuan tas sekolah. Perlengkapan alat tulis adalah sumbangan dari 32 orang Sahabat DAAI. Dan pengiriman perlengkapan alat tulis sekolah dibantu oleh PT.Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) sehingga bisa sampai di Sumba tepat waktu. Sebanyak 300 anak dari Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru mendapat bantuan. Menurut Margariawati Winigoleh, Kepala Sekolah SD Negeri Rita, bantuan ini sangat membantu anak-anak didiknya. “Tas ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak karena anak-anak yang lain kalau tidak punya tas merasa minder, tapi melalui kesempatan ini, sangat mendukung mereka dalam berpendidikan,” katanya. Salah satu penerima bantuan, Fransiska Ana Putri D Lodo, membenarkan. “Selama ini saya dan teman-teman tidak mudah mendapat alat tulis dan juga tas sekolah. Saya akan menggunakan dengan baik dan akan lebih semangat lagi belajar,” kata siswi kelas dua SMP Negeri 6 Wewewa Selatan ini.

Suasana pembagian tas dan perlengkapan sekolah di Sungai Polapare, Minggu, 10 Mei 2026. Anak-anak senang mendapat tas dan perlengkapan sekolah. Sebanyak 300 anak mendapat bantuan.

(Suasana pembagian tas dan perlengkapan sekolah di Sungai Polapare, Minggu, 10 Mei 2026. Anak-anak senang mendapat tas dan perlengkapan sekolah. Sebanyak 300 anak mendapat bantuan.)

 

Mengapa Membangun Jembatan di Sumba?

Saya perlu menceritakan sekilas tentang alasan DAAI TV dan donatur  membangun jembatan di Sumba.  Berawal ketika  para peneliti dari BRIN  melakukan penelitian di Sumba Barat Daya. Para peneliti melakukan riset sosial tentang pontensi sosial dan ekonomi di SBD. Mengapa Sumba Barat Daya? Karena SBD termasuk salah satu wilayah miskin di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik mencatat kabupaten seluas 1.445 km2, termasuk salah satu kabupaten paling miskin di NTT. Persentase penduduk miskin di Sumba Barat Daya pada tahun 2025 mencapai 25,66 persen atau setara dengan 91,119 jiwa dari total penduduk yang mencapai 355.022  jiwa. Artinya, sekitar 1 dari 4 penduduk Kabupaten Sumba Barat Daya masih berada dalam kategori miskin.

Potensi alam dan budaya SBD kaya. Tapi mengapa miskin? Menurut hasil riset BRIN, salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya akses sarana dan prasarana seperti jalan dan jembatan. Sulitnya akses menghambat kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan. Bapak-bapak susah ke kebun, ibu-ibu sulit ke pasar, anak-anak khawatir ke sekolah. Bahkan, setelah meninggal pun warga kesulitan mengantar jenazah ke pemakaman. Warga yang mengusung jenazah hampir  terseret arus banjir  di Sungai Polapare. Videonya bisa dilihat di Instagram DAAI TV.

BRIN memberi solusi. Membangun jembatan perintis salah satunya. Total sebanyak 8 jembatan yang perlu dibangun di SBD untuk mempermudah akses warga. Profesor DR. M Alie Humaedi yang kala itu menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas BRIN menceritakan kondisi ini kepada DAAI TV.

Bekal informasi dan riset dari tim BRIN, DAAI TV kemudian melakukan liputan. Lalu melalui Program Mimpi Jadi Nyata (MJN), DAAI TV mengundang Mariana Noda Ngara datang ke Jakarta. Mimpi Jadi Nyata adalah program reality show DAAI TV yang bertujuan memujudkan mimpi seseorang untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, atau komunitas masyarakatnya.

Di atas panggung MJN wanita kelahiran Desa Bondo Bella ini menceritakan pengalaman pahit keseharian warga Bondo Bella termasuk trauma masa kecilnya di Sungai Polapare. Pada usia tiga tahun, Ibu satu anak ini hampir meninggal karena terseret arus Sungai Polapare saat  pergi  berobat. Kuda yang ditunggang bersama pamannya ke puskesmas terseret arus banjir. Beruntung Mariana masih selamat. Namun tidak semua warga bernasib baik seperti Mariana. Beberapa warga harus kehilangan nyawa terseret arus sungai. Sebagian meninggal akibat terlambat mendapat pelayanan kesehatan karena akses yang sulit dijangkau. Nenek dan ayahanda Mariana turut menjadi korban.

“Ayah saya hanya salah satu korban terdekat dari sulitnya akses dan koneksi masyarakat terhadap layanan kesehatan,” tutur Mariana, wanita pertama yang meraih gelar sarjana dari desanya, di program MJN. Sang ayah meninggal dalam perjalanan berobat ke puskesmas. Meninggal persis di tepi sungai, setelah berhasil menyeberangi jembatan kayu di Sungai Polapare.

“Kenapa mau berjuang malam ini, karena saya tidak mau anak-anak yang seperti saya, mereka harus mengalami kesulitan untuk bersekolah, lalu harus kehilangan orang yang dicintai karena memang sulitnya akses”, ujar Mariana di hadapan para juri di studio Program MJN, awal Juli 2025 lalu.

Mariana pun bermimpi bisa membangun sebuah jembatan untuk warga di Bondo Bella dan Rita Baru. Perjuangan Mariana akhirnya mengerakkan hati Rachmansyah Cong. Koh Acong, demikian biasa disapa, mewujudkan mimpi Mariana membangun sebuah jembatan. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, jembatan pertama yang dibangun bukan di kampung halaman Mariana, di Sungai Polapare namun di desa tentangga, Desa Mata Kapore, di Sungai Limbu Kawango. Maka, terbentanglah, Jembatan Cinta Kasih pertama, Jembatan Hasan Hasanuddin.

Mimpi Mariana, perjuangan warga Mata Kapore, ketulusan hati para peneliti BRIN dan VRI dalam membangun Jembatan Hasan Hasanuddin, serta dampak nyata jembatan bagi warga yang ditayangkan oleh DAAI TV, kemudian mengerakkan hati para donatur dan pemirsa DAAI TV lainnya untuk membangun Jembatan Cinta Kasih dua. Dan kali ini di Sungai Polapare, kampung halaman Mariana.

Anak-anak mencoba Jembatan Cinta Kasih Dua, di Sungai Polapare. Jembatan memberikan jaminan keselamatan, meningkatkan akses terhadap fasilitas kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan mempererat interaksi sosial masyarakat di Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya, NTT.

(Anak-anak mencoba Jembatan Cinta Kasih Dua, di Sungai Polapare. Jembatan memberikan jaminan keselamatan, meningkatkan akses terhadap fasilitas kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan mempererat interaksi sosial masyarakat di Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya, NTT.)

 

Jembatan Cinta Kasih Polapare

Matahari bulan Mei di atas Tana Humba semakin panas. Ratusan warga dari dua desa, Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru berkumpul di tepi Sungai Polapare. Minggu, 10 Mei adalah hari yang baik bagi warga kedua desa. Arus deras Sungai Polapare yang memisahkan sekaligus mengisolasi mereka dari dunia luar puluhan tahun, akan segera berakhir.

Acara peresmian jembatan menandai terhubungnya kedua desa, sekaligus mempermudah akses ekonomi, sosial, budaya, kesehatan dan pendidikan. Hadir dalam peresmian Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wula beserta jajaran pemerintahan SBD, perwakilan donatur, perwakilan DAAI TV, BRIN, VRI, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan siswa siswi. Dalam sambutannya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi berbagai pihak dalam pembangunan jembatan.

“Pemerintah Daerah Sumba Barat Daya saat ini menghadapi tantangan pembangunan dengan adanya pemangkasan dana sebesar Rp215 miliar. Pembangunan jembatan dengan melibatkan banyak pihak seperti ini tentu menjadi salah satu sarana untuk terus melanjutkan pembangunan di tengah kebutuhan masyarakat Sumba Barat Daya yang sangat besar,” ujarnya.

Pembangunan Jembatan Cinta Kasih, lanjutnya, menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan lebih banyak jembatan gantung di berbagai titik wilayah Sumba Barat Daya.

Sementara itu, Prof. Dr. M. Alie Humaedi, M.Ag., M.Hum. dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN mengatakan, pembangunan infrastruktur seperti jembatan perlu dilakukan untuk memperkuat kehidupan sosial masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah terpencil.

“Pembangunan Jembatan Cinta Kasih yang menghubungkan Desa Bondo Bella dan Rita Baru ini adalah sarana perwujudan imajinasi komunitas terkait masalah konektivitas di atas Sungai Polapare yang berarus deras dan dalam. Harapannya selain memberikan jaminan keselamatan dan mengurangi risiko kesakitan, jembatan ini mampu meningkatkan akses terhadap fasilitas kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan mempererat interaksi sosial masyarakat,” ujarnya.

Rahmansyah Cong, perwakilan donatur dalam sambutannya berharap jembatan ini bisa menjadi solusi bagi warga yang selama ini mengalami kesulitan. Koh Acong, mengaku bahagia karena dapat mewujudkan harapan masyarakat untuk memiliki jembatan.

“Saya tadi bicara dengan Mama-mama, Bapak-bapak, memang di sini sangat membutuhkan jembatan,” ujarnya.

Setelah melihat langsung dampak nyata jembatan bagi warga, melihat wajah gembira bapak-bapak dan ibu-ibu, serta senyum tulus anak-anak, Koh Acong berjanji untuk mengetuk pintu hati lebih banyak donatur agar  bisa membangun lebih banyak jembatan lagi  di Sumba.

“Senang sekali ya, saya lihat jembatannya sudah jadi. Saya senang sekali dengan suasana teman-teman di sini, pas saya datang pada happy semua. Saya lihat senyuman mereka tuh, membuat saya jadi bahagia, ya, so simple,” ujar Koh Acong berkaca-kaca, sebelum meninggalkan Sungai Polapare karena harus segera ke bandara untuk mengejar penerbangan ke Bali lalu ke Jakarta. Kembali ke rutinitasnya sebagai seorang CEO perusahaan alat berat di Jakarta.

Bapak dan anaknya sedang mencoba jembatan. Jembatan membantu bapak-bapak ke kebun, ibu-ibu ke pasar, dan anak-anak ke sekolah tanpa rasa takut lagi.

(Bapak dan anaknya sedang mencoba jembatan. Jembatan membantu bapak-bapak ke kebun, ibu-ibu ke pasar, dan anak-anak ke sekolah tanpa rasa takut lagi.)

 

Elizabeth Dunn, pakar terkemuka dalam ilmu kebahagiaan, yang mengkaji tentang bagaimana waktu, uang, dan teknologi memengaruhi kebahagiaan dan kesejateraan emosional manusia mengatakan membantu orang lain bisa membuat hidup kita lebih bahagia.

Namun agar dampaknya lebih maksimal bagi kebahagiaan kita, psikolog asal Kanada ini menyarankan, agar perlu adanya koneksi sosial dengan orang yang kita bantu, terlibat langsung, melihat dan merasakan dampak bantuan kita kepada orang yang kita bantu. Menghargai koneksi hubungan sosial antara kita dan orang yang kita bantu, katanya, membuat kita akan jauh lebih bahagia daripada sekadar memberi bantuan.

Terlibat langsung, menjalin hubungan dengan masyarakat, dan melihat dampak nyata pembangunan jembatan bagi warga di Desa Bondo Bella dan Rita Baru, memberi rasa senang dan bahagia bagi tim dari VRI, BRIN, DAAI TV, dan Koh Acong. Tak hanya itu, saya juga melihat dan merasakan mereka semakin jatuh hati dengan tanah dan warga Sumba.

 

Sebelumnya: Catatan Perjalanan ke Sumba (Chapter 1)

Selanjutnya: Catatan Perjalanan ke Sumba (Chapter 3)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: