Kaligrafi Tiongkok

Penyerahan bantuan tas dan alat tulis sekolah kepada anak-anak di Desa Mata Kapore, Sumba Barat Daya oleh DAAI TV, BRIN, VRI, donatur, guru dan tokoh masyarakat, Sabtu 9 Mei 2025. Sebanyak 283 anak di Desa Mata Kapore mendapat bantuan.

Penulis:
Paulus Florianus
GM Corporate Communication DAAI TV

Berbagai riset menyebutkan kebaikan itu menular. Saking menularnya, bahkan orang yang hanya mendengar ceritanya dari orang lain ikut tertular. Psikolog sosial Profesor Jonathan Haidt menyebutnya sebagai elevasi moral; perasaan hangat, kagum, haru, dan optimistis ketika kita melihat dan mendengar perbuatan  baik,  dan memotivasi orang untuk turut berbuat baik, sehingga menciptakan efek gelombang kebaikan di sekitarnya. Perjalanan saya ke Sumba membuktikan itu.

 

Benih Kebaikan itu Bermula di Mata Kapore

Sudah dua kali, DAAI TV memberi kesempatan kepada saya untuk pergi ke Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur. SBD terkenal dengan perpaduan alam yang mempesona, pantai yang eksotis, kampung adat yang unik, dan tentu saja tenun ikatnya yang indah. Saya ke Sumba Barat Daya bukan untuk berwisata namun untuk melihat dan merasakan bahwa kebaikan itu menular, melampaui batas wilayah, suku, agama, ras dan golongan.

Pertama kali, pada akhir Agustus 2025. Saya datang ke Mata Kapore, desa terpencil berjarak sekitar 47 kilometer dari Kota Tambolaka, ibukota SBD. Tujuannya meresmikan sebuah jembatan perintis, Jembatan Hasan Hasanuddin. Jembatan sepanjang 60 meter dengan lebar 120 sentimeter, membelah aliran Sungai Limbu Kawango, sungai yang selama ini mengisolasi warga Mata Kapore dari dunia luar. Jembatan dibangun atas kolaborasi DAAI TV, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Vertical Rescue Indonesia (VRI), donatur dan warga setempat. Jembatan Hasan Hasanuddin adalah donasi dari keluarga Rachmansyah Cong dan serta rekan-rekannya. Koh Acong, demikian biasa disapa, membangun jembatan untuk mengenang almarhum ayahanda, Hasan Hasanuddin. Hati pengusaha asal Jakarta ini tergerak setelah menyaksikan tayangan DAAI TV yang mengangkat perjuangan Mariana Noda Ngara. Wanita asal Desa Bondo Bella ini memiliki mimpi membangun jembatan untuk membantu akses warga Sumba Barat Daya, yang selama bertahun-tahun warga harus bertaruh nyawa menerjang arus sungai untuk pergi ke kebun, pasar, puskesmas dan sekolah. Pada saat peresmian jembatan, Koh Acong berjanji akan mengetuk pintu hati lebih banyak donatur untuk ikut serta membantu membangun beberapa jembatan yang sangat dibutuhkan oleh warga SBD.

“Semoga tahun depan saya kembali lagi ke sini,” janji Koh Acong, saat peresmian Jembatan Hasan Hasanuddin, 31 Agustus 2025.

(Anak sekolah sedang menyeberangi jembatan Hasan Hasanuddin di Sungai Limbu Kawango, Desa Mata Kapore, Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Jembatan mendukung aktivitas  ekonomi, pendidikan,  kesehatan, dan sosial budaya  warga Mata Kapore.)

Koh Acong menepati janjinya. Sembilan bulan kemudian, Sabtu 9 Mei 2026, saya dan Koh Acong kembali lagi ke tanah Marapu. Kami mendarat di Bandara Lede Kalumbang sekitar pukul 10 siang. Setelah menunggu bagasi cukup lama, kami menuju penginapan di Kota Tambolaka. Habis makan siang, berangkat menuju ke Jembatan Hasan Hasanuddin di Desa Mata Kapore, yang berlokasi di Kecamatan Kodi Bangedo. Perjalananan dari Tambolaka ke jembatan kami tempuh sekitar 1,5 jam, menggunakan mobil 4WD agar bisa menembus medan yang berat, tanjakan dan turunan, dengan bebatuan kasar. Mobil berhenti di Kampung Tamiyo.  Lalu, kami lanjut berjalan kaki sekitar 15 menit, menyusuri kebun warga, melalui jalan setapak, menurun, cukup terjal, dan licin. Namun semua rasa letih kami hilang, ketika bertemu dengan ratusan anak sekolah, para guru, dan warga yang antusias menunggu sejak pagi, di tepi Sungai Limbu Kawango. Selain bersilahturahmi dengan warga dan melihat kondisi jembatan, kami juga menyalurkan bantuan dari DAAI TV, Koh Acong, dan para donatur untuk anak-anak di Mata Kapore. Bantuan berupa tas dan perlengkapan sekolah yang terdiri dari buku tulis, pulpen, pensil kayu, pensil warna, penggaris, penghapus, serutan, dan tempat pensil. Sebanyak 283 siswa-siswai SD mendapat bantuan.

Koh Acong terharu bisa kembali ke Mata Kapore. “Saya seperti pulang kampung, karena Mata Kapore selalu ada di hati saya,” ujar Koh Acong berkaca-kaca saat berinteraksi dengan warga.

“Semoga tahun depan saya bisa datang lagi, dan mau ajak sanak keluarga juga” janji CEO PT Gaya Makmur Putra, sebuah  perusahaan yang bergerak di bidang peralatan berat. Kepala Sekolah SD Negeri Kareka Ndara, Markus Dana Tamo, mengatakan bantuan yang diberikan akan  memotivasi anak-anak untuk lebih rajin datang ke sekolah.

“Karena selama ini, mereka untuk belajar di sekolah itu alat tulisnya tidak lengkap. Apalagi dengan pensil warna, serut, terus tempat pensil, itu jarang yang pakai kecuali anak-anak yang orang tuanya guru, atau yang kelas ke atas, yang ada, itupun tidak semua juga punya itu. Apalagi ada tas, nah itu sangat bermanfaat, dan merupakan motivasi yang real untuk arahkan mereka ke sekolah,” ujarnya. Momentum ini sangat bagus, tambahnya, sehingga mendorong anak-anak untuk tidak minder lagi ke sekolah karena mereka sudah memiliki semua perlengkapan sekolah yang memadai. Sherly, salah satu siswi SDK Mata Kapore yang mendapat bantuan mengaku senang.

“Saya makin semangat belajar dan rajin ke sekolah,” ujarnya, dan berjanji untuk  menjaga tas dan alat tulis dengan  baik.

Sementara itu, Kepala Desa Mata Kapore Oktavianus Umbu Halato Tana mengaku banyak sekali manfaat jembatan bagi warga desa.

Selain anak-anak bisa pulang pergi sekolah dengan aman, kata Oktavianus, banyak warga juga sudah berani buka kebun di seberang sungai, sehingga penghasilan mereka meningkat drastis.

“Yang berkebun di seberang sekarang jumlahnya sudah bertambah banyak, karena tidak memikirkan lagi pertaruhan nyawa mereka, biasanya kalo sebelumnya itu mereka penuh perhitungan sekali karena apa guna juga pergi berkebun di seberang kalau nanti juga korbanya nyawa,” ujar Oktavianus penuh syukur. Dan tahun ini, lanjutnya, rata-rata hasil panen  padi warga lebih dari satu ton.

Mentari menuju ke ufuk Barat, kami pun meninggalkan jembatan Hasan Hasanuddin. Berjalan kaki, melewati tanjakan cukup terjal. Tiba di Kampung Tamiyo, kami kembali disambut secara adat oleh kepala desa dan warga. Dan rupanya mereka telah menyiapkan makan sore. Kami meriung di tengah kampung, di antara rerimbunan pohon kelapa, sambil menikmati kelapa muda yang disiapkan warga, saling bertukar cerita. Cuaca yang bersahabat semakin menghangatkan suasana. Bersama puluhan warga, kami menyantap makan sore, di alam terbuka. Sederhana tapi penuh makna, warga menyiapkan yang terbaik dengan sepenuh hati.

Sementara kami bercerita, anak-anak bermain dan berlari-lari riang di tanah lapang, masih menggendong tas di punggung kecil mereka. “Kami senang Papa karena kami akhirnya punya tas, baru kali ini kami dapat sumbangan seperti ini”, bisik seorang anak kepada saya. Matahari di Kampung Tamiyo mulai memerah, saatnya kami kembali ke penginapan di Tamboka.  Di sepanjang perjalanan Koh Acong membuka kaca mobil membalas lambaian tangan warga yang memberi salam perpisahan. Dan saya masih tetap mengenang wajah gembira anak-anak, sapaan tulus bapak-bapak, dan senyuman ramah para ibu.

(Anak-anak berjalan di Jembatan Cinta Kasih, Hasan Hasanuddin, di Sungai Limbu Kawango, Desa Mata Kapore. Jembatan ini menjadi akses penting bagi anak-anak untuk pergi dan pulang sekolah.)

Guncangan mobil sepanjang perjalanan tak menghalangi saya untuk menikmati indahnya alam Marapu,  menghirup udara bersih, sambil menikmati  lagu-lagu pop barat  yang diputar dari flashdisk di mobil. Sopir, Lalo Benolon, ternyata memiliki selera musik masa kini. Sepanjang perjalanan, pemuda 28 tahun ini, memutar lagu-lagu yang lagi viral di Spotify, namun mulutnya tidak pernah berhenti mengunyah sirih pinang, yang menurut pengakuannya itu bagian dari caranya menjaga adat dan tradisi Sumba.  Lalu lagu “As It Was” karya Harry Styles mulai diputar. Lagu ini cukup familiar bagi saya karena anak perempuan saya sering mendengarnya di rumah.

In this world, it’s just us. You know it’s not the same as it was. As it was, as it was. You know it’s not the same. (Di dunia ini, hanya kita berdua. Kamu tahu ini tidak sama seperti dulu. Seperti dulu, seperti dulu. Kamu tahu ini tidak sama). Benar bahwa dunia, situasi, waktu, kita, orang-orang akan terus berubah. Namun, ada juga hal-hal yang tidak akan pernah berubah dan selalu sama; kebaikan, perhatian dan tolong menolong, selain tentu saja; keserakahan, kerakusan, ketakutan, dan kekerasan.

Namun, ada kabar baik. Kata para ilmuwan, tidak seperti kebaikan yang mudah menular dan menyebar, kekerasan justru tidak mudah menular dan menyebar. Seperti kata Sosiolog Amerika Randall Collins; “manusia punya sifat solidaritas bawaan; itu yang membuat kekerasan amat sukar menular”.

(Anak-anak senang mendapat bantuan tas dan perlengkapan sekolah. Mereka lebih  semangat  dan tidak minder lagi untuk pergi ke sekolah.)

Setelah beberapa lama melalui jalanan tanah berbatu, mobil kami akhirnya tiba di  jalan beraspal. Saya merogoh saku celana, mengambil handphone, coba   menguggah foto ke media sosial.  Aduh, masih tidak ada sinyal. Lalu saya tanya Lalo, “Sampai di mana ada sinyal?”  Di Sumba, kata Lelo, “Kita pakai GSM Papa, (artinya) geser sedikit mati.”

Lalo tersenyum, memperlihatkan giginya yang merah karena kebiasaanya mengunyah sirih dan pinang. Sedikit kecewa, namun saya ingat sebuah pesan dari penulis dan jurnalis Inggris, Johann Hari. Dalam bukunya Stolen Focus (Mengapa Perhatian Kita Mudah Teralihkan), Hari mengatakan, teknologi seperti media sosial dirancang untuk merebut perhatian, merusak fokus, dan merampas hal yang paling sederhana namun penting dalam hidup kita, melamun. Ketika fokus dan perhatian kita hancur, jelas Hari, kemampuan kita untuk memecahkan masalah dan melakukan  hal-hal penting di ranah apa pun dalam hidup kita  akan sulit dilakukan. Sementara dengan meluangkan waktu untuk melamun dan merenung, kita secara perlahan bisa memahami dunia, memahami hidup kita, memahami sesama, melatih empati dan lebih kreatif. Hari menyarankan agar kita membatasi penggunaan teknologi dan media sosial.

“Selama ini kita terlalu menundukkan kepala (memandang layar ponsel atau komputer), kita perlu mendongakkan kepala untuk  melihat sekeliling kita, pepohonan yang ada di sekitar kita, orang-orang yang tidak seberuntung kita,” pesannya. Saya memasukkan kembali handphone ke dalam saku celana; melamun, memandang pohon-pohon, jalanan yang sepi, dan langit Sumba yang mulai gelap.

Sekitar pukul 7 malam kami tiba di penginapan di Tambolaka. Istirahat, karena besok pagi kami akan pergi ke Sungai Polapare, meresmikan Jembatan Cinta Kasih Polapare. Jembatan kedua ini adalah sumbangan dari para donatur di Jakarta, setelah mereka menyaksikan tayangan DAAI TV, dan melihat dampak positif  jembatan  pertama,  bagi warga di Desa Mata Kapore.

Medan menuju ke Sungai Polapare jauh lebih berat, namun kisahnya jauh lebih seru dan menggugah hati. Benar, kebaikan itu menular! Ibarat melempar batu ke sungai, riaknya bisa menyebar ke segala arah.  Batu kebaikan yang dilempar di Sungai Limbu Kawango  di Desa Mata Kapore riaknya kini  sampai ke Sungai Polapare di Desa Bondo Bella dan Desa  Rita Baru.

 

Bersambung ke bagian kedua.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: