Profesor M. Alie Humaedi  (tengah) dari BRIN bersama warga dari Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru. BRIN melakukan riset, survey lokasi, pemetaan sosial, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Profesor M. Alie Humaedi  (tengah) dari BRIN bersama warga dari Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru. BRIN melakukan riset, survey lokasi, pemetaan sosial, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Penulis:
Paulus Florianus
GM Corporate Communication DAAI TV

Ahli biologi evolusi Stephen Jay Gould mengatakan kebaikan selalu ada, entah kita menyadarinya atau tidak. Tetapi mengapa kita sering merasa dunia penuh kejahatan, padahal sebenarnya tindakan baik jauh lebih banyak terjadi? Setiap tindakan kejahatan yang spektakuler, kata Profesor di Harvad University, akan diimbangi oleh 10.000 tindakan kebaikan yang tidak terlihat dan tidak diberitakan. Di Sumba, saya melihat banyak sekali kebaikan kecil, dan saya perlu menceritakannya.

 

Pentahelix Kebaikan; Kolaborasi Lima Pihak untuk Menggerakkan Kebaikan di Tanah Marapu

Di atas sebuah batu besar, di tepi Sungai Polapare, Aristo dan saudara kembarnya Arnold, duduk berdampingan. Masih mengenakan seragam sekolah mereka mengatakan ini kepada DAAI TV: “Kami senang sudah mau ada jembatan. 12 tahun berpisah dari orang tua,” ujar Aristo.

Ya, arus deras dan dalam Sungai Polapare memaksa kedua siswa kelas 12 SMA Generasi Penerus Ede ini tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Aristo dan Arnold tinggal dan sekolah di Rita Baru, sementara kedua orang tua mereka tinggal di Bondo Bella. Dan Jembatan Cinta Kasih Polapare menyatukan keluarga ini kembali.

“Kami rindu sama orang tua. Sekarang sudah ada jembatan. Perasaan kami senang bahwa sudah ada jembatan sering pulang ke rumah orang tua. Dan sudah gampang pergi kemana-mana,” Aristo berkata. Setali tiga uang dengan Yumingsih Srisusanti Bulu. Siswi kelas satu SMPN  6 Wewewa  Selatan, kini tidak  lagi takut ke sekolah. Selain karena lokasi sekolahnya jauh, dia juga harus melintasi Sungai Polapare.

“Saya bangun jam 4, berangkat  jam 5, sampai di sini jam 6, saya sampai di sekolah jam 7. Dulu saya sampai di sini jam 6, saya menyeberang ke sebelah, saya pakai tali, saya takut. Tapi sekarang sudah ada jembatan, saya tambah semangat dan senang. Saya mau rajin belajar, nanti saya mau menjadi perawat,” ujarnya di tepi Sungai Polapare.

Wajar saja warga takut dan khawatir. Arus deras dan dalam  Sungai Polapare pernah merenggut  korban jiwa. Leonardos Lelobora bercerita ada kerabatnya meninggal dunia karena terseret arus Sungai Polapare beberapa tahun lalu. “Jadi untuk warga Desa Rita Baru sudah tiga orang mereka yang tenggelam di kali ini,” kenang warga Rita Baru ini.

Oleh karena itu, pemuda 28 tahun ini sangat aktif membantu membangun jembatan. “Sangat-sangat terima kasih karena tanpa perjuangannya bapak ibu yang punya hati untuk membangun daerah yang terpelosok, terpencil di tempat ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa, dan kemungkinan bisa saja kami terus tertinggal kalau  kami hanya  berharap kepada pemerintah daerah,” ujarnya.

Seorang anak sedang menyeberangi Sungai Polapare. Sebelum ada jembatan mereka harus menyeberangi sungai untuk ke sekolah dengan bantuan batang kayu atau tali.

(Seorang anak sedang menyeberangi Sungai Polapare. Sebelum ada jembatan mereka harus menyeberangi sungai untuk ke sekolah dengan bantuan batang kayu atau tali.)

 

Tidak mudah membangun sebuah jembatan di Sungai Polapare. Lokasinya sangat terpencil dan medannya berat. Namun tidak ada hal yang mustahil jika semua pihak bersatu hati untuk berbuat baik. Jembatan Cinta Kasih Dua Polapare adalah bukti pentahelix kebaikan; kolaborasi yang melibatkan lima unsur: akademisi (BRIN), pelaku usaha (Koh Acong dan para donatur) komunitas dan masyarakat (VRI dan warga Bondo Bella serta Rita Baru),  media (DAAI TV), dan pemerintah Sumba Barat Daya untuk menggerakan dan memperluas kebaikan sosial di masyarakat.

Medan  berat tidak menyurutkan semangat para relawan dari Vertical Rescue Indonesia (VRI) datang ke Sungai Polapare. VRI adalah sebuah komunitas yang fokus memberi bantuan, penyelamatan,  dan evakuasi medan esktrim. VRI memiliki program kemanusiaan Ekspedisi 1000 Jembatan Gantung di seluruh Indonesia terutama di daerah terdepan, tertinggal, terluar atau wilayah-wilayah terisolasi akibat bencana alam atau keterbatasan infrastruktur untuk membuka akses ke dunia luar. Jembatan Cinta Kasih Dua Polapare adalah jembatan yang ke-259 di seluruh Indonesia yang dibuat VRI. Jembatan kedua yang berkolaborasi dengan DAAI TV dan BRIN.

Tim dari VRI, BRIN, DAAI TV dan warga sedang beristirahat di tenda. Tenda yang berlokasi di tepi Sungai Polapare ini menjadi tempat tinggal dan posko koordinasi selama proses pembangunan jembatan selama dua puluh lima hari.

(Tim dari VRI, BRIN, DAAI TV dan warga sedang beristirahat di tenda. Tenda yang berlokasi di tepi Sungai Polapare ini menjadi tempat tinggal dan posko koordinasi selama proses pembangunan jembatan selama dua puluh lima hari.)

 

Untuk membangun jembatan di Polapare, VRI mengirim empat orang relawan. Mereka  datang dari berbagai daerah. Dadan Ridwan Hamdani sebagai komandan lapangan dan Ikhsan Sigit Pratama datang dari Bandung, Jawa Barat. Theresia Keren Shinta Pramesti dari Malang, Jawa Timur. Lalu Wajihhuddin atau Aji, jauh-jauh dari Kalimantan Selatan. Dadan dan Aji sebelumnya pernah terlibat dalam pembangunan Jembatan Cinta Kasih Pertama, Hasan Hasanuddin di Mata Kapore, Agustus 2025 silam.

Tim VRI datang paling awal dan pulang paling akhir. Mereka datang tanggal 21 April dan pulang  14 Mei, total 25 hari di Sumba. Tugas mereka sangat berat dan menantang. Survei lokasi yang cocok untuk membangun jembatan, mengangkut material dan membangun jembatan.

“Untuk aksesnya di sini sangat menantang, dikarenakan kita harus membawa material dari posisi rumah terakhir sampai ke lokasi jembatan tuh, kurang lebih sekitar tiga kilo, dengan kondisi medan tebing lerengan dengan kemiringan sekitar 80 derajat,” kata Dadan.

Tim VRI juga mengajak dan mengajar warga  cara  membuat jembatan gantung. Tujuannya agar warga bisa  merawat dan memperbaiki jembatan secara mandiri jika ada kerusakan. Juga untuk membangun rasa kepemilikan jembatan sehingga warga akan menjaga dan merawat jembatan ini dengan baik. Pagi, siang, malam, panas, hujan, mereka bekerja keras.

Bolak balik menyeberangi sungai, memasang rangka-rangka jembatan, mengelas besi, bergelantung di kawat sling di atas ketinggian belasan meter di atas Sungai  Polapare. Penuh risiko dan sangat melelahkan. Selama proses pembangunan mereka harus menginap di tenda terpal di tepi Sungai Polapare, sisi Desa Rita Baru. Namun semua rasa relah mereka hilang ketika melihat semangat dan antusiasme warga untuk membantu membangun jembatan.

“Selama kami di sini yang sangat luar biasa antusias masyarakat. Masyarakat saling bergotong-royong berjibaku untuk percepatan pembangunan jembatan ini. Dan kita pun ketika membangun bersemangat dikarenakan masyarakat yang sangat luar biasa antusiasnya,” ujar Dadan.

(Relawan dari Vertical Rescue Indonesia (VRI) sedang mengerjakan jembatan di Sungai Polapare. Selama 25 hari mereka bekerja keras; siang, malam, panas dan hujan, agar warga bisa segera memiliki jembatan yang aman dan nyaman.)

 

Semangat dan antusiasme warga terlibat dalam membangun jembatan tak lepas dari peran serta Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan BRIN. Di bawah komando Profesor M. Alie Humaedi, tim BRIN melakukan survey lokasi, pemetaan sosial, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat desa selama hampir tiga tahun.

Prof. Alie dibantu oleh Agus, dari Universitas Sriwijaya,Palembang, Sumatera Selatan dan Deana Syifa Puspaningrum dari  Bogor, Jawa Barat. Tim BRIN tiba di Polapare 24 April, mengoordinasikan dan menggerakkan masyarakat untuk membantu membangun jembatan. Mengajukan ijin, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, mengurus persiapan peresmian, administrasi, dan lain-lain.

Tim BRIN juga membantu mengoordinasikan kebutuhan makan dan mimum untuk semua pihak yang membantu pekerjaan jembatan, yang jumlahnya puluhan orang setiap harinya. Prof Alie, demikian kami biasa memanggilnya, mengatakan apa gunanya para peneliti, melakukan penelitian dan riset, menerbitkan jurnal internasional tapi tidak memberi dampak nyata bagi masyarakat setempat.

Dan yang paling penting, lanjutnya, selain membangun jembatan fisik adalah pemberdayaan sosial masyarakat. Melakukan proses pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, tambahnya, untuk terlibat penuh dalam pembangunan jembatan.

“Salah satu contoh dari pemberdayaan masyarakat itu adalah membangun komitmen bersama bahwa jembatan ini berguna bagi kehidupan mereka, kesadaran itu menjadi penting, mimpi bersama itu harus dibangun bersama terlebih  dahulu,” ujarnya. Bersama VRI dan warga, tim BRIN juga menginap di tenda di tepi Sungai Polapare, selama 16 hari.

Lalu tim DAAI TV. Tugas utama DAAI TV  adalah  meliput  perjuangan warga, aktivitas VRI dan BRIN dalam membangun jembatan. Melalui liputan ini, DAAI TV berharap bisa memberi inspirasi dan harapan bagi masyarakat bahwa selama ada manusia pasti selalu ada kebaikan dan cinta kasih. DAAI mengirimkan 4 tim.

Produser Bernadeta Santhi, kameramen Dio Mairizki dan Henry Pramudya, dan  saya sendiri mewakili manajemen DAAI TV. Selama hampir satu minggu, Bernadeta, Dio, dan Henry meliput proses pembangunan jembatan dan berbagai aktivitas lain warga di Sumba Barat Daya. Hampir seminggu, mereka juga menginap di tenda di tepi Sungai Polapare. Sementara, saya sendiri, tiga hari di Sumba, 9 Mei sampai 11 Mei. Saya menginap di sebuah hotel di Kota Tambolaka, bersama Koh Acong.

(Kameraman DAAI Dio Marizki bersama anak-anak di Sungai Polapare. DAAI TV berharap melalui liputannya bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk saling membantu dan berbagi.)

 

Tentu saja pembangunan jembatan kedua ini tidak mungkin ada tanpa dukungan dana. Dan itu semua berkat dukungan Koh Acong. Setelah berhasil  membangun Jembatan Hasan Hasanuddin di Mata Kapore, Koh Acong semakin bersemangat mengajak para donatur untuk membantu membangun jembatan lainnya di Sumba Barat Daya. Usaha keras Koh Acong berbuah hasil. Beberapa donatur membuka pintu hatinya menyumbang dana membangun jembatan kedua di antaranya Edi Wiranto dan Nimin Angsari.

Di tengah kesibukan pekerjaannya, Koh Acong menyempatkan diri datang dan melihat langsung kondisi warga di Sumba. Koh Acong sangat bersemangat. Saat kami tiba di tepi Sungai Polapare, Koh Acong menyalami warga, berbaur dengan masyarakat, mengajak anak-anak ngobrol.  Saya melihat Koh Acong sangat enjoy dan happy.

Dan tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada warga Bondo Bella dan Rita Baru. Tanpa bantuan dan kerja keras warga, jembatan ini sulit direalisasikan. Di tengah segala keterbatasan dan kekurangan, di tengah kesibukan mereka bertani dan memanen, warga tetap menyisihkan waktu, tenaga, dan harta untuk  membantu membangun jembatan. Laki-laki, perempuan, anak-anak bahu membahu.

Ada yang mengangkut material seperti besi, semen, batu dan pasir, memotong kayu, dan menggali tanah. Ada yang bertugas di dapur, memasak dan menyiapkan makan pagi, siang, dan malam. Bergantian mereka menemani dan menjaga tim VRI, BRIN, dan DAAI TV. Meriana Tamuinah, salah seorang warga yang ikut membantu mengakui ingin segera memiliki jembatan. Karena selama ini, katanya, susah ke kebun, ke pasar, dan puskesmas.

“Kalau mau menyeberang kali pakai tali yang diikat di batang-batang pohon, sambil kami membawa beban di kepala, menyeberang dan berenang pakai tali,” ceritanya. Tak hanya itu, mereka juga kesulitan jika hendak membawa bayi ke posyandu atau mengantar jenazah ke pemakaman. “Kalau ada yang meninggal dari sini karena kampung besar yang ada di sana, di sebelah kali,  mau tidak mau harus pikul  mayat dalam peti sambil langgar ini kali,”  tutur istri kepala Desa Bondo Bella ini.

(Para mama dari Desa Bondo Bella sedang memasak di tepi Sungai Polapare. Mereka menyiapkan makan untuk puluhan warga yang membantu membangun jembatan.)

 

Dan yang terakhir pembangunan jembatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah Sumba Barat Daya. Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wulla, mengakui Jembatan Cinta Kasih Polapare akan membantu meningkatkan sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga Sumba Barat Daya. Dengan adanya jembatan ini, kata Ratu Wulla, mobilisasi barang, jasa, dan hasil dari petani  akan lebih muda dibawa  ke pasar atau ke wilayah perkotaan. Begitu juga dengan  pendidikan, tambah Ratu, anak-anak yang dulu ketika musim hujan tidak  bisa bersekolah, namun dengan  adanya jembatan, akan  membantu anak-anak untuk bersekolah.

“Karena  memang kondisi di Sumba Barat Daya itu angka putus sekolah cukup tinggi, angkanya  14 ribu, angka lama belajar hanya 6,3 tahun,  rata-rata hanya tamat SD. Sehingga dengan  hadirnya jembatan tentu akan berdampak pada sektor pendidikan, kesehatan, perekonomian masyarakat,” ujar Ratu.

Akhirnya, setelah hampir dua puluh lima hari kerja keras, berjibaku di tepi Sungai Polapare, kerinduan  warga untuk memiliki sebuah jembatan yang aman dan nyaman, tercapai. Jembatan Cinta Kasih Dua Polapare tidak saja menghubungkan dua desa, Desa Bondo Bella dan Rita Baru, tetapi juga membantu  akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya dan sosial warga. Juga menyatukan Aristo dan Arnold dengan kedua orang tuanya, memberi harapan bagi Yumingsih Srisusanti Bulu untuk menggapai cita-citnya menjadi perawat, mempermudah warga mengantar jenazah ke tempat peristirahatannya yang terakhir, dan mempererat hubungan sosial warga dari dua desa. Jembatan Cinta Kasih Polapare adalah bukti bahwa  cinta dan kebaikan itu ada, banyak, dan di mana-mana. Tetapi mengapa kita kurang  menyadari itu? Kita lebih suka melihat sisi buruk dunia dan sesama?

Sebelumnya: Catatan Perjalanan ke Sumba (Chapter 2)
Selanjutnya: Catatan Perjalanan ke Sumba (Chapter 4)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: