Producer DAAI TV, Bernadeta Santhi,  bersama anak-anak di Jembatan Hasan Hasanuddin di Sungai Limbo Kawango, Desa Mata Kapore, Sumba Barat Daya.

Producer DAAI TV, Bernadeta Santhi, bersama anak-anak di Jembatan Hasan Hasanuddin di Sungai Limbo Kawango, Desa Mata Kapore, Sumba Barat Daya.

Penulis:
Paulus Florianus
GM Corporate Communication DAAI TV

Efek Ben Franklin adalah fenomena psikologis di mana perbuatan baik tidak hanya membuat penerima merasa lebih baik, tetapi juga dapat meningkatkan kedekatan dan perasaan positif pada pihak yang memberi bantuan. Kita akan lebih menyukai orang setelah kita berbuat baik kepada orang tersebut. Ini juga yang dirasakan oleh tim VRI, BRIN, DAAI, dan Koh Acong. Mereka ingin kembali lagi ke Tana Humba, membangun jembatan dan membantu warga.

 

Hati yang Tertambat di Polapare

Minggu 10 Mei 2026, langit di atas tanah Sumba, tampak cerah. Di bawah paparan sinar matahari bulan Mei yang hangat, ratusan warga, tua muda, anak-anak berkumpul di tepi Sungai Polapare. Di tepi sungai, yang berada di tengah hutan, diapiti oleh dua bukit, kami menyantap makan siang bersama-sama. Warga yang menyiapkan semuanya secara swadaya.

Setelah santap siang, warga mulai mencoba jembatan. Mereka sangat antusias. Berjalan di atas jembatan secara bergantian, karena memang beban jembatan dibatasi. Beberapa warga dari desa tetangga juga datang melihat dan menjajal jembatan.

Menunggang kuda, Mariana Noda Ngara ikut mencoba jembatan. Kuda besar berwarna coklat menyusuri jembatan dengan tenang. Membawa kenangan Mariana ke masa silam. Ketika Mariana berusia tiga tahun, ia bersama paman dan kuda tunggangan mereka terseret arus banjir Sungai Polapare, saat hendak berobat ke Puskesmas.

Beberapa anak mengambil foto dari atas  dan dari bawah jembatan, foto bersama-sama, ada yang selfie dan wefie. Mereka tersenyum bahagia. Kerja keras dan pengorbanan selama hampir tiga minggu terbayar. Jembatan Cinta Kasih Dua Polapare akhirnya berhasil menghubungan dua desa, Desa Bondo Bella dan Desa Rita Baru.

Matahari di atas Sungai Polapare mulai beranjak ke barat, itu tandanya saya dan tim harus kembali ke Tambolaka. Sebenarnya saya masih ingin lebih lama di Sungai Polapare. Melihat keceriaan warga, sangat sederhana, tapi mendalam.

Tim DAAI dan BRIN berkemas. Dan inilah momen paling berat, berpisah. Di sebuah tenda terpal sederhana, di tepi Sungai Polapare, tim BRIN dan DAAI TV bersalaman, berpamitan dengan warga. Bapak-bapak, mama-mama, dan anak-anak mengucapkan kata-kata terima kasih dengan mata berkaca-kaca. Kami terharu!

Beberapa warga, di antaranya anak-anak sekolah, laki-laki dan perempuan  membantu  membawakan barang-barang kami ke lokasi parkir mobil ke sebuah kampung, di atas bukit, berjarak sekitar tiga kilometer lebih. Kami berjalan kaki. Kali ini melalui rute dari sisi Desa Rita Baru. Medannya jauh lebih berat dan terjal dengan kemiringan yang hampir mencapai 80 derajat pada bagian tertentu. Setelah berjalan kaki selama hampir 30 menit, diselingi beberapa kali istirahat, kami tiba di Kampung Kajangara, Desa Rita Baru.

Sebuah mobil 4 WD putih sudah menunggu. Puji Tuhan, saya diminta duduk di depan, di samping sopir, karena katanya dari semua tim yang ada, saya terlihat sangat kelelahan, dan itu benar. Di bagian belakang, di bak terbuka Prof Alie, Agus, Dio dan Henry berbagi tempat dengan barang bawaan;  tenda, tas, dan lain-lain.

Di baris tengah, Berna dan Dhea menjaga peralatan kamera dan drone DAAI TV.  Sementara kami pulang ke Tambolaka, TIM VRI masih tetap berada di tepi Sungai Polapare. Mereka masih harus menyelesaikan  detail-detail kecil jembatan sebelum benar-benar dipakai warga.

(Mariana Noda Ngara menunggang kuda melintasi Jembatan Cinta Kasih Dua, di Sungai Polapare. Di sungai ini, pada usia tiga tahun, Marian pernah terseret arus banjir bersama pamannya dan kuda tunggangan saat hendak berobat ke puskesmas.)

 

Di sepanjang perjalanan yang berbatuan, menanjak dan menurun, Om Yos, sopir kami memutar tembang-tembang lawas 80-90an. Sesekali saya ikut bernyanyi, memecah keheningan di mobil. Di baris tengah, Dhea, terlihat sendu dan lebih banyak diam. Gen Z kelahiran Bogor ini  adalah tim yang paling muda dari kami semua. Enam belas hari dia tinggal bersama warga di tepi Sungai Polapare. Berna, yang duduk disampingnya, bertanya. “Kenapa Dhea”?

“Saya masih kangen dengan anak-anak, Kak. Masih susah melupakan mereka, dengan anak-anak,” ujar Dhea berkaca-kaca.

“Iya, sama Dhea,” Berna menimpali.

Selama pembangunan jembatan di Sumba, Bernadeta dipercaya sebagai person in charge (PIC) dari DAAI TV, berkoordinasi dengan BRIN, VRI dan warga di Sumba. Tugas yang berat, karena Ia juga harus mengurus beberapa program tayangan di DAAI TV yang menjadi tanggung jawab hariannya. Di Sumba, selain melakukan liputan, Berna yang sudah bekerja di DAAI TV selama 19 tahun, juga membantu mempersiapkan acara peresmian jembatan, dan lain-lain.

Meskipun menguras waktu, tenaga dan pikirannya, Berna mengaku bahagia. “Sangat bahagia, nggak tahu kenapa,” ujarnya.

Selama liputan di Sumba, Berna juga dekat dengan anak-anak. Sebelum meninggalkan Sungai Limbu Kawango dan Sungai Polapare, saya melihat anak-anak memeluk Berna; mereka menangis. Sama seperti Dhea, Berna juga masih mengingat warga di Sumba.  Masih sering berkirim kabar dan pesan dengan warga.

Perasaan yang sama juga dirasakan oleh tim lain dari BRIN, VRI, DAAI TV dan Koh Acong. Lelah fisik tapi hati gembira. Tak hanya itu, hubungan dengan warga setempat juga semakin akrab. Meski datang dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan golongan berbeda. Mereka jatuh hati pada tanah dan orang Sumba.

Mengapa? Kajian-kajian terhadap sifat manusia menjelaskan, jika kita membantu orang, hasilnya tidak saja membuat orang tersebut menyukai kita, tapi kita juga akan lebih menyukai orang yang kita bantu.

Dalam psikologi sosial fenomena itu dikenal sebagai Ben Franklin Effect, mengacu kepada salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat Benjamin Franklin (1706–1790). Dalam autobiografinya Benjamin Franklin menulis “Orang yang pernah berbuat baik kepada Anda akan lebih siap berbuat baik lagi kepada Anda dibandingkan orang yang pernah Anda bantu.”

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, kami tiba di hotel di Tambolaka sekitar pukul 7 malam. Kami makan malam bersama dan saling berbagi cerita. Saya jadi ingat teman-teman dari VRI. “Kasihan ya teman-teman VRI, kita makan enak di hotel, sementara mereka masih di Polapare,” celetuk saya.

“Wah, jangan salah Pak Paulus, malam ini justru mereka ada pesta besar di pinggir sungai. Warga menjamu mereka,” timpal Prof Alie. Selesai makan malam, kami kembali ke kamar masing-masing, istirahat.

Senin pagi, 11 Mei, saya dan tim BRIN kembali ke Jakarta. Berna, Dio, dan Hendry masih tinggal beberapa hari, menyelesaikan beberapa liputan di Sumba.

 

#DAAI Berdampak, Menggerakkan Kebaikan

Perjalanan saya ke Sumba, mengingatkan saya pada sebuah pesan dari Bryan Stevenson, pendiri Equal Justice Inisiative. Katanya, ada banyak ketidakadilan yang dilakukan setiap hari, tetapi kita tidak melihatnya karena kita terkurung dalam satu masyarakat tunggal yang tertutup. Untuk memahami perspektif lain dengan lebih baik, kita perlu melangkah ke luar dari tempat kita, komunitas kita saat ini, mengunjungi tempat penampungan, menjadi sukarelawan, atau membantu orang yang kesulitan.

Kita harus mendekati penderitaan dan memahami pengalaman dari orang-orang yang menderita dan mengalami ketidaksetaraan. Jika kita bersedia untuk lebih mendekati orang-orang yang menderita, katanya, kita akan menemukan kekuatan untuk mengubah dunia. Tim VRI, BRIN, DAAI TV, dan Koh Acong, melihat dan merasakan penderitaan warga Bondo Bella dan Rita Baru, sebelumnya warga Mata Kapore, dan itulah yang mengerakkan hati mereka, menemukan kekuatan untuk membantu warga Sumba.

Dan, saya bersyukur mendapat kesempatan ke Sumba. Bisa melihat dari dekat warga Mata Kapore, Bondo Bella dan Rita Baru, kesulitan dan perjuangan mereka. Namun yang jauh lebih penting, saya juga melihat harapan dan kekuatan dari kebaikan. Saya juga menemukan sebuah kebenaran, bahwa kebaikan itu menular, kebaikan itu banyak, ada di mana-mana.

Namun, mengapa kita kurang menyadari itu? Mengapa kita lebih suka melihat sisi buruk dunia dan manusia? Jurnalis dan profesor komunikasi George Gerbner menyebut fenomena ini sebagai mean world syndrome (sindrom dunia kejam), bias kognitif di mana seseorang memandang dunia jauh lebih berbahaya dan menakutkan daripada kenyataan yang sebenarnya.

Dan salah satu pemicunya, kata Gerbner, adalah berita dari media. Semakin sering kita terpapar media penuh kekerasan, konflik, ancaman, semakin kita percaya bahwa pada dasarnya dunia itu berbahaya dan jahat. Dan sedihnya, sebuah riset menyebutkan, sentimen berita media selama 60 tahun terakhir ini cenderung melihat dunia dari sisi yang suram. Lebih banyak emosi negatif; marah, takut, sedih, frustrasi, dan curiga. Maka, “Kalau yang kita lihat setiap hari hanyalah kehancuran dan kebencian, kata jurnalis dan pendiri Bonn Institute Ellen Heinrich, bagaimana kita bisa percaya bahwa dunia bisa diperbaiki?”

Perwakilan Donatur Rachmansyah Cong sedang berjalan bersama anak-anak sekolah di Jembatan Cinta Kasih Polapare. Koh Acong berjanji akan mengajak lebih banyak donatur untuk membangun jembatan gantung di Sumba.

(Perwakilan Donatur Rachmansyah Cong sedang berjalan bersama anak-anak sekolah di Jembatan Cinta Kasih Polapare. Koh Acong berjanji akan mengajak lebih banyak donatur untuk membangun jembatan gantung di Sumba.)

 

Namun setelah saya ke Sumba, bertemu teman-teman dari BRIN, VRI, Koh Acong dan warga Sumba, saya yakin dan percaya bahwa dunia kita ini masih bisa diperbaiki karena dunia ini dihuni oleh banyak orang baik dan peduli. Seperti petuah Stephen Jay Gould: “Kebaikan ada di mana-mana, banyak, entah kita menyadarinya atau tidak, namun tugas kita, hampir seperti tanggung jawab suci, untuk mencatat dan menghargai bobot kemenangan dari kebaikan-kebaikan kecil yang tak terhitung banyaknya ini”.

Kebaikan, lanjutnya, adalah realitas mayoritas kehidupan manusia. Kita tidak boleh membiarkan peristiwa buruk yang jarang terjadi merusak keyakinan kita pada kemanusiaan. Setiap satu tindakan kejahatan yang spektakuler, tambahnya, sesungguhnya diimbangi oleh ribuan tindakan kebaikan yang tidak terlihat. Tantangannya bukan kekurangan kebaikan, melainkan bagaimana membuat kebaikan itu terlihat dan menginspirasi lebih banyak orang. Di sinilah salah satu peran penting media; membuat kebaikan itu terlihat dan menginspirasi lebih banyak orang.

Maka pada hari ulang tahun yang ke-19 pada 25 Agustus 2026, persis di era digital dan artificial intelligence, era banjir informasi dan hoaks, tugas DAAI TV semakin berat dan penting; membuat kebaikan itu terlihat dan menginspirasi lebih banyak orang untuk berbuat baik. Maka, kami di DAAI TV akan terus berusaha: mencari, mencatat, menghargai, dan menyebarkan kebaikan kepada masyarakat, agar semakin banyak orang melihat kebaikan lalu terinpirasi untuk melakukan kebaikan lainnya.

Karena seperti pesan pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi, Master Chneg Yen: “Media yang menunjukkan kebaikan sifat manusia, merupakan pendidikan terbaik dalam masyarakat.” Master juga berharap agar semakin banyak orang yang menonton dan mendukung DAAI TV.

“Jika orang di seluruh dunia dapat menyaksikan DAAI TV, dunia akan dipenuhi harapan. Kebajikan dan cinta kasih akan membawa harapan bagi orang-orang,” pesan Master Cheng Yen.

Seperti yang dikatakan oleh Ellen Heinrich, “Tugas jurnalis bukan hanya memberitahu bahwa rumah sedang terbakar. Tapi juga menunjukkan siapa yang mencoba memadamkan api dan bagaimana caranya.” Dan bagi DAAI TV, kami juga ingin mengajak masyarakat agar kita bersama-sama memadamkan apinya. Selamat ulang tahun yang ke-19 DAAI TV.  #DAAI Berdampak #Menggerakkan Kebaikan.

Selain berusaha memberi dampak positif yang nyata bagi masyarakat, DAAI TV juga akan terus berusaha menggerakkan kebaikan di masyarakat. Karena DAAI TV percaya, kebaikan itu ada, banyak, dan di mana-mana. Oleh karena itu, kami di DAAI TV, yakin bahwa banyak orang baik yang akan membantu kami untuk kembali lagi ke Tana Humba; membangun jembatan cinta kasih yang ketiga.

Jika ingin menyucikan batin manusia, hal terpenting yang harus dilakukan adalah terjun langsung bersumbangsih di tengah masyarakat. Melalui tindakan penuh cinta kasih, kita dapat membuat orang-orang merasa bahwa orang yang mampu bersumbangsih adalah yang paling bahagia. Sehingga dapat memandu pandangan mereka untuk berubah dari yang mengeluh menjadi yang aktif berbuat kebajikan dan menolong orang.” (Master Cheng Yen)

Sebelumnya:
Catatan Perjalanan ke Sumba (Chapter 1)
Catatan Perjalanan ke Sumba (Chapter 2)
Catatan Perjalanan ke Sumba (Chapter 3)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: