Kaligrafi Tiongkok

Sering Mendapat Stigma Negatif, Ini 5 Fakta Autisme yang Tidak Diketahui | Foto: Canva

Selama ini, banyak masyarakat yang tidak memahami cara untuk berinteraksi dengan seorang autis. Ternyata ini 5 fakta seorang autisme yang perlu kamu ketahui.

Tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day). 

Mengutip dari halaman situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, setidaknya 1 dari 160 anak di dunia mengalami gangguan spektrum autisme. Namun, sampai sejauh ini banyak mitos yang beredar mengenai seorang autis.

Mengutip dari Siloam Hospital, autisme atau autism spectrum disorder (ASD) merupakan sebuah kondisi ketika seseorang mengalami kelainan dalam perkembangan saraf yang dapat memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi ataupun berkomunikasi.

 

Fakta Seorang Autis

Dr. Deibby Mamahit seorang Praktisi Fungsional untuk Autisme, ADHD, dan Gangguan Belajar menjelaskan, banyak fakta yang masih belum diketahui oleh masyarakat mengenai autisme.

  1. Seorang Autis Bisa Mengalami Gangguan Intelektual atau Menjadi Jenius

Faktanya, seseorang dengan autisme memiliki kecerdasannya masing-masing. Beberapa kasus pada autisme menyebabkan seseorang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, atau bahkan di bawah rata-rata.

Hal ini terjadi bergantung pada bagian korteks otak yang mengalami kerusakan (lapisan jaringan sel saraf yang paling luar di otak).

Pada dasarnya, fungsi korteks pada otak merupakan bagian yang penting. Peran korteks mencakup fungsi yang sangat luas, seperti memahami informasi, menyimpan data, mencerna informasi, memilah-milah data, dan sebagainya.

“Misalnya, seorang anak itu mengalami masalah di bagian dia memilah-milah data, dia tidak akan bisa menyatukan, menghubungkan antara satu peristiwa dan peristiwa yang lain. Contoh, kalau ini adalah gelas dan gelas ini kita bisa dipegang, informasi itu mungkin tidak terolah dengan baik (oleh seorang autis),” jelas dr. Deibby dikutip dari tayangan YouTube Bincang Sehati, Kamis (4/4/2024).

Jika seorang anak memiliki masalah pada bagian sensori, tetapi tidak terdapat masalah pada intelektual, anak tersebut cenderung akan lebih pintar di atas rata-rata. 

“Karena otaknya itu akan kompensasi dengan daerah yang mengalami kerusakan. Ada bagian yang tidak bisa digunakan, jadi bagian yang bisa digunakan akan digunakan dengan berlipat ganda,” tambah dr. Deibby.

 

  1. Mampu Membangun Hubungan Interpersonal yang Bermakna

Faktanya, seorang autis tetap bisa membangun hubungan interpersonal dengan orang lain.

Dr. Deibby menjelaskan, seseorang dengan autisme mampu mendekatkan diri dengan orang lain. Sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum mengetahui cara yang tepat untuk berinteraksi, atau mendekatkan diri dengan seorang autis.

“Misalnya, kita ingin mendekatkan diri ke mereka bisa dan akan jadi dekat sekali. Bagi mereka kita adalah orang yang paling dicintai di seluruh dunia buat dia,” ujar dr. Deibby.

 

Namun, sebelum mendekatkan diri dengan seorang autis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Di antaranya harus menggunakan cara yang tepat, hati yang tulus untuk mendekatkan diri, dan tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat mereka terkejut.

“Harus predictability. Jadi apa yang kita lakukan, jangan sampai bikin dia kaget dengan apa yang kita lakukan. Biasanya, kalau anak-anak tidak bisa kita tebak, makanya kalau kita mau paksa anak yang autis berteman dengan anak yang lain-lain itu sulit, sedangkan kalau orang dewasa itu kita bisa mengontrol diri,” sebut dr. Deibby.

 

  1. Sulit Untuk Mengekspresikan Emosi

Faktanya, seorang autis bisa mengekspresikan emosi, tetapi banyak dari mereka yang memiliki masalah pada bagian prefrontal cortex atau otak tengah dan/atau keduanya. 

Sebagai informasi, bagian prefrontal cortex merupakan bagian yang mengatur ekspresi emosi seseorang, sedangkan bagian otak tengah berguna untuk menghasilkan emosi.

Ketika seseorang memiliki masalah pada bagian tersebut, pembuatan dan pengontrolan dalam emosi akan terganggu.

Di sisi lain, anak-anak yang mengalami masalah pada peradangan sel-sel otak akan memiliki pengaruh besar pada makanan.

“Kalau anak itu dikasih gula, tepung, susu, bisa jadi anak itu tidak bisa mengontrol emosi karena terjadi peradangan di bagian prefrontal otak. Ini menyebabkan seorang anak bisa  ketawa-ketawa sendiri, nangis-nangis sendiri, ngamuk, dan bahkan bisa menyerang orang,” kata dr. Deibby.

Pada dasarnya, tubuh kita merupakan hal yang sangat kompleks dan perut merupakan bagian utama dalam sistem imun kekebalan tubuh. Jika terjadi peradangan di perut, dapat memperburuk peradangan (prefrontal otak).

“Makanya, kalau orang lain (makan) dan muncul alergi, anak-anak autis itu jadi ketawa-ketawa sendiri atau marah-marah. Mereka memiliki efek yang berbeda,” jelas dr. Deibby.

Beberapa fakta yang jarang diketahui | Foto: Canva

  1. Perlu Menghindari Beberapa Zat Makanan

Mengutip dari situs web RSJ Dr. Radjiman, anak-anak dengan autisme sebaiknya menghindari beberapa makanan yang mengandung zat gluten, Phenol Sulfurtransferase (PST), food additive, dan kasein.

Pasalnya, kandungan tersebut dapat membuat seorang anak dengan autisme memicu sifat lebih agresif.

Kandungan gluten yang biasanya ditemukan pada oat, havermut, dan gandum, serta kandungan kasein (protein susu) biasanya tidak dapat dicerna dengan baik oleh seorang autis. Ini karena, kandungan tersebut dapat meningkatkan urine pada anak autis.

Sebaiknya, pengidap autisme juga tidak mengonsumsi makanan dengan zat phenol karena zat tersebut dapat memecah hormon. 

Ketika anak-anak kekurangan enzim, beberapa di antaranya cenderung menjadi lebih sensitif, misalnya menjadi hiperaktif, pusing, kemerahan pada telinga atau pipi, dan agresif.

Kemudian, usahakan menghindari food additive (zat penambah, seperti pewarna makanan, penyedap, dan pengawet). Umumnya, anak autis sensitif dengan makanan karena kekurangan enzim phenol dalam diri seorang anak.

 

  1. Imunisasi Bisa Memperburuk

Faktanya, imunisasi bisa memperburuk autisme ketika sang anak mengalami gangguan imunitas.

Ketika seorang anak mengalami peradangan pada saluran pencernaan. Biasanya, anak-anak kemungkinan akan mengalami dysbiosis (mikrobiota di dalam perut tidak seimbang) akan menjadi inflamasi pada peradangan otak atau sel-sel otak, sehingga imunisasi mungkin akan memperburuk keadaan anak.

“Masing-masing anak itu berbeda kalau anak itu tidak memiliki gangguan imunitas sama sekali, vaksinasi sangat aman,” tutup dr. Deibby.

Penulis: Kerin Chang

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: