Kaligrafi Tiongkok

Pantai Teluk Labuan (Foto: Instagram @pemprov.banten)

Komunitas peduli sampah Pandawara Group menyebut Pantai Teluk Labuan sebagai pantai terkotor karena ada banyak sampah yang menumpuk di tempat tersebut.

Pantai Teluk Labuan yang berlokasi di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menjadi sorotan setelah menjadi perhatian Pandawara Group.

Berdasarkan unggahan Pandawara Group, terlihat ada banyak tumpukan sampah yang sudah menyatu dengan pasir, sehingga sukar dibersihkan.

Sampah yang berserakan mulai dari sampah limbah rumah tangga, tekstil, bungkus makanan, plastik, daun, kayu, boneka, dan sampah lainnya.

Mengutip dari Titik Kata, warga setempat mengaku bahwa lautan sampah di Pantai Teluk Labuan sudah menumpuk lama, sekitar 4 tahun lalu atau pasca Tsunami Banten yang terjadi pada tahun 2018.

Sejauh ini, sosialisasi mengenai larangan buang sampah sembarang sudah dilakukan berbagai pihak, tetapi kesadaran masyarakat akan hal itu belum juga tumbuh.

Kebiasaan warga Desa Teluk yang kerap membuang sampah langsung ke laut juga sudah dilakukan sejak lama.

Menurut pengakuan warga, kebiasaan membuang sampah ke pantai dilakukan setiap hari karena tidak ada alternatif tempat pembuangan lainnya.

Selain warga, para pedagang yang menggelar lapak di Pasar Kuliner Teluk Batako juga terbiasa membuang sampah ke laut. Di Pantai Teluk itu, juga tak terlihat papan peringatan untuk tidak membuang sampah ke laut.

Di sisi lain, Bupati Pandeglang Irna Narulita mengatakan bahwa tumpukan sampah di Pantai Teluk Labuan tidak hanya berasal dari sampah warga setempat, tetapi juga berasal dari desa tetangga dan wilayah sekitar.

“(Sampah yang menumpuk) ada guling, ada boneka, barang-barang itu nggak mungkin hanya dari warga kami saja, bisa jadi dari Cilegon, dari Kabupaten Serang. Nah, ini harus duduk bareng karena penanganannya serius dan anggarannya besar. Jadi, saya minta bantuan kepada Bapak Gubernur untuk bisa menangani sampah laut ini,” jelas Irna.

Baca Juga: Miris Lihat Pantai Terkotor di Indonesia, Pandawara Group: Kami Butuh Bantuan!

Menurut Irna, kondisi ini bisa terjadi karena pantai Desa Teluk berada di garis cekung, sehingga sampah dari laut menumpuk dan terbawa ke pantai.

Untuk menanggulangi sampah, pihaknya pernah mengeruk sedimen di muara Sungai Cipunten Agung demi mengatasi sampah dari hulu. Sayangnya, upaya ini belum membuahkan hasil.

Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan yang masih rendah, ditambah kurangnya bantuan dari pemerintah pusat, menyebabkan penanggulangan sampah di pantai semakin terhambat.

Irna berharap, setelah ini pemerintah pusat dan Pemprov Banten bisa membantu mengatasi sampah di Desa Teluk, serta mengedukasi masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan.

Sebelumnya, Pandawara Group menginisiasi aksi bersih-bersih di sepanjang bibir Pantai Teluk Labuan yang tertutup gunungan sampah

Pandawara Group menjelaskan, ini merupakan pantai terekstrem yang pernah mereka bersihkan karena ketebalan sampah di lokasi tersebut mencapai dua meter. Hanya dalam beberapa jam saja, mereka bahkan berhasil mengumpulkan sampai 1.200 kantong sampah.

Meskipun sudah dilakukan pembersihan selama dua hari, yakni pada 22-23 Mei 2023, tetapi sampah di Pantai Teluk Labuan tidak bisa diangkut hingga bersih.

Ini karena, masyarakat setempat meminta agar sampah dikeruk sampai habis karena khawatir akan terjadi abrasi. Abrasi adalah pengikisan tanah pada daerah pesisir pantai yang diakibatkan oleh ombak dan arus laut yang sifatnya merusak.

Untuk itu, masyarakat berharap agar Pemerintah Provinsi Banten dapat membantu menangani risiko abrasi dengan membuat pengamanan pantai.

Baca Juga: Panutan! Pandawara Ajak 200 Relawan Angkut 3,1 Ton Sampah di Pantai Lombok

Sebagai informasi, Labuan merupakan daerah pesisir laut di Selat Sunda yang merupakan daerah strategis di wilayah pesisir.

Mengutip dari Pandeglang Satu Data, nama Labuan sendiri, dapat diartikan sebagai pelabuhan atau tempat berlabuh kapal. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa di Kecamatan Labuan dahulu terdapat sebuah teluk, yakni Teluk Lada.

Lokasi teluk ini, berdekatan dengan Tanjung Lesung dan Panimbang yang menjadi pusat perdagangan antarpulau atau kerajaan.

Namun, kegiatan perdagangan ini akhirnya berhenti setelah letusan besar Gunung Krakatau di tahun 1883 dan disapu oleh tsunami, sampai akhirnya daerah itu dinyatakan tertutup.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: