Ilustrasi teh manis (Foto: bhofack2 via Getty Images Pro)
Konsumsi es teh manis setelah makan telah menjadi kebiasaan banyak orang. Namun, siapa sangka bahwa kebiasaan ini bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Teh memiliki banyak manfaat kesehatan berkat polifenol dan komponen lainnya yang dapat mengurangi risiko penyakit kronis seperti kanker, penyakit kardiovaskular, radang sendi, dan diabetes.
Namun, ada baiknya Sahabat DAAI menghindari minum teh selama dan setelah makan. Mengutip dari Huffpost, ini karena teh dapat menghambat penyerapan zat besi.
Zat besi adalah mineral penting yang membantu mengangkut oksigen di sekitar darah. Jika ada terlalu sedikit, risikonya dapat menyebabkan kekurangan zat besi yang menyebabkan kelelahan dan penurunan kekebalan tubuh.
Sumber makanan untuk mendapatkan zat besi adalah kacang kering, sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan dan biji-bijian, serta roti gandum dan sereal.
Makanan kaya vitamin C seperti buah jeruk dikenal karena kemampuannya untuk meningkatkan penyerapan zat besi non-heme (sumber nabati).
Di sisi lain, polifenol diketahui bisa menghambat penyerapan zat besi. Polifenol biasanya ditemukan dalam teh hitam, teh herbal, kakao, espresso, dan kopi.
Konsumsi polifenol bersama makanan bisa menurunkan penyerapan zat besi non-heme dari makanan, pada pria dan wanita dengan berbagai status zat besi.
Teh hitam diketahui memiliki lebih banyak efek daripada teh herbal. Semakin kuat tehnya, semakin besar daya hambatnya karena polifenolnya lebih tinggi.
Namun, proses ini mungkin tidak memengaruhi semua orang, terutama orang yang mengonsumsi protein karena adanya peningkatan penyerapan zat besi dalam jumlah yang cukup dari sumber tersebut yang bisa mengatasi penghambatan penyerapan zat besi.
Sebaliknya, orang yang hanya mengonsumsi sayuran seperti vegetarian, vegan, serta wanita yang sedang menstruasi perlu menghindari konsumsi teh saat makan.
Tidak hanya itu, teh memiliki kandungan senyawa tanin di dalamnya. Untuk itu, mengonsumsi teh setelah makan dikhawatirkan dapat memicu terjadinya konstipasi atau diare.
Pasalnya, salah satu manfaat dari tanin pada teh adalah bersifat antidiare. Senyawa tersebut bekerja dengan cara mengumpulkan protein di sekitarnya.
Teh yang diminum setelah makan, diduga berpotensi menjadi katalis yang dapat memicu produksi asam lambung berlebih. Nah, asam lambung berlebih pada perut diketahui dapat memicu berbagai masalah saluran cerna seperti gastritis dan GERD.
Meski demikian, tidak ada hubungan yang signifikan antara konsumsi teh dan risiko GERD secara keseluruhan.
Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut tentunya masih diperlukan untuk benar-benar memastikan hubungan antara konsumsi teh dan GERD.

