Sumber Gambar : Canva Pro
Penulis : Grace Kolin
Aku punya kenalan di circle pejabat X lho.
Bos startup itu tinggal di satu komplek yang sama denganku.
Kakakku sering mengobrol dengan artis C, artis yang lagi naik daun itu.
Pernahkan Anda mendengar atau mengucapkan ungkapan yang kurang lebih mirip dengan contoh di atas? Fenomena menggunakan nama seseorang yang dikenal untuk mengambil keuntungan dalam situasi sosial tertentu ini dikenal dengan istilah name dropping atau dompleng nama.
Fenomena name dropping merupakan salah satu fenomena yang biasa terjadi dalam masyarakat. Fenomena ini juga sempat menjadi sorotan karena relavan dengan kasus Dwi Hartanto, salah contoh kasus penipuan yang fenomenal. Dalam wawancaranya dengan Najwa Shihab, Dwi Hartanto mengaku pernah mengobrol lama dengan B.J. Habibie dan diminta untuk berfoto presiden ketiga RI tersebut.
Pada akhirnya, kebohongan di balik pengakuan itu pun terbongkar. Kenyataanya, Dwi Hartanto tidak mengobrol secara intens melainkan hanya berpapasan dengan B.J. Habibie. Foto bersama yang diambil juga atas permintaan Dwi Hartanto, bukan B.J. Habibie.
Fenomena name dropping sudah lama menjadi bahan kajian para peneliti di dunia, salah satunya profesor William Keith Campbell, seorang psikolog dan ahli di bidang narsistik. Menurut William, seorang individu dapat terlihat baik di mata orang lain dan meningkatkan harga dirinya dengan mengaitkan dirinya dengan orang-orang yang berkuasa.
Liane Davey, pakar psikologi organisasi menuturkan bahwa perilaku name dropping sering lahir dari faktor rendahnya self-esteem. ”Name dropping datang dari orang-orang yang tidak nyaman, cemas dan meragukan kontribusinya dalam suatu situasi,” ujar penulis dari buku You First: Inspire Your Team to Grow Up, Get Along, and Get Stuff Done ini.
Lantas apakah name dropping selalu bersifat buruk? Menurut Satu Persen, salah satu startup pendidikan di Indonesia, name dropping hanyalah sebuah alat (tools). Baik buruknya name dropping tergantung pada penggunaannya. Jika digunakan dalam situasi, waktu ataupun konteks yang tepat, name dropping bisa membantu seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan, meningkatkan efektivitas hingga memudahkannya terkoneksi dengan orang lain.
Namun jika name dropping terlalu sering digunakan, dipakai dalam situasi yang tidak tepat, untuk kepentingan pribadi atau tanpa seizin orang yang didompleng namanya, maka name dropping dapat merugikan pelakunya sendiri. Apalagi jika pelakunya ketahuan berbohong dan melebih-lebihkan cerita.
Artikel ini dibuat dari berbagai sumber

