Pembuat Tilam Kapuk Rusli Cun (Foto: Hidayat Sikumbang via DAAI Medan)
Pembuat Tilam Kapuk Rusli Cun (56) masih aktif berjualan kasur kapuk keliling dengan menggunakan sepeda. Ia percaya, eksistensi kasur berbahan dasar kapuk tak lekang oleh waktu.
Rusli Cun atau Pak Cun, adalah satu dari segelintir orang yang masih percaya akan eksistensi kasur berbahan dasar kapuk. Pria asal Bukittinggi, Sumatra Barat, ini memulai usaha kasur kapuk sejak tahun 1995.
Meski tak lagi muda, tetapi Pak Cun masih menggantungkan kasur kapuk sebagai mata pencahariannya. Sejak matahari mulai menjelang, ia mengayuh sepeda onthel warisan keluarganya, untuk mencari nafkah.
Pak Cun mengaku, usaha kasur kapuk ini merupakan usaha turunan dari ayahnya. Ia percaya, sampai saat ini masih ada orang yang menggunakan kasur kapuk.
“Kasur kapuk ini beda sama kasur pegas, atau orang bilangnya spring bed. Kalau kapuk, rusak bisa dijahit, bisa dijemur. Kalau spring bed, kan, tidak,” ujar Pak Cun kepada Bingkai Sumatra, Jumat (12/5).

Kasur kapuk sendiri memang telah banyak digunakan hingga akhir tahun 90-an. Produksi kapuk di Jawa bahkan mampu menembus angka 80.000 ton. Namun, kian hari kejayaan tersebut mulai sirna memasuki abad ke-20. Pada tahun 2013, ekspor serat kapuk bahkan hanya mencapai 1.496 ton.
Bahan dasar pembuatannya adalah kapuk dalam buah randu sebagai bahan alami yang nyaman karena dapat menyerap panas tubuh. Tidak hanya untuk bahan dasar kasur, serat pohon kapuk dapat dijadikan sebagai bantal hingga guling.
Meskipun pernah ramai pada masanya, Pak Cun tidak menampik bahwa kini orang yang menggunakan kasur kapuk semakin sedikit. Masyarakat pun sekarang lebih banyak beralih ke kasur busa dan kasur pegas.
Proses pembuatannya yang masih tradisional, hingga harganya yang semakin mahal, menjadi alasan orang banyak beralih dari kasur kapuk.
Proses pembuatan kasur kapuk oleh Pak Cun masih dilakukan secara manual dan tradisional. Ia membeli kapuk sebagai bahan utama kasur ini dari Pulau Jawa.
Kemudian, Pak Cun menjahit sendiri kain kasur secara tertata. Proses ini, biasa dikenal dengan mencatur kain.
Pak Cun mengaku, untuk pengerjaan kasur hingga selesai membutuhkan waktu 2-3 jam, sehingga tidak heran jika kasur ini dibanderol dengan harga mahal.

Harga kasur kapuk yang dijual Pak Cun bervariasi, tergantung dari jenis dan ukurannya. Umumnya, kasur kapuk dibanderol dari mulai harga Rp500 ribu hingga jutaan rupiah.
Sejarawan seklaigus Dosen di Universitas Sumatra Utara Edi Sumarno mengatakan, kasur kapuk menunjukkan penurunan omzet ketika memasuki tahun 1990. Penjualan kasur kapuk mulai lesu karena ada banyak orang yang beralih dari kapuk ke kasur pegas atau busa.
Menurut Edi, kasur kapuk ini dulunya itu banyak penjualnya berasal dari Sumatra Barat, seperti Bukittinggi dan Pariaman.
Namun, ketika memasuki 1990-an, penjualan kasur kapuk mulai goyah karena kasur buatan pabrik mulai dikenali. Hingga akhirnya, kapuk ini memiliki kompetitor, bahkan hingga sekarang ini
Menurut Edi, kasur kapuk akan tetap menjadi primadona bagi para penikmatnya. Ini karena, kasur kapuk akan tetap awet apabila dirawat dengan baik.
“Kasur kapuk ini apabila dijemur di bawah sinar matahari secara teratur, selain untuk mencegah tungau kasur, kan, kapuknya dapat mengembang. Nah, ini yang membuatnya seperti baru kembali. Inilah keunggulan kasur kapuk dibanding kasur pegas,” tutup Edi.

