Muncul Tren Pelihara Batu di Korea Selatan, Apa Alasannya? | Foto: Twitter/@flamehanie & Twitter/@SVT_Fancafe)
Sahabat DAAI, apakah kalian memiliki teman curhat? Baru-baru ini muncul di Korea Selatan, tren memelihara batu untuk jadi teman curhat. Apa alasannya?
Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan teman dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, seseorang yang tidak memiliki teman akan merasa kesepian.
Belum lama ini, muncul tren baru di Korea Selatan yang memilih untuk memelihara batu.
Hal ini menarik perhatian karena masyarakat Korea Selatan beranggapan, memelihara batu adalah cara untuk mengurangi kelelahan dan kesepian.
Pelihara Batu
Tren ini beredar di kalangan muda warga Korea Selatan. Mengutip dari situs web Radio Republik Indonesia (RRI), tren ini sudah ada sejak tahun 2020.
Pada saat itu, batu-batu ini dijual melalui situs web, dilengkapi dengan buku petunjuk untuk menemani kesepian. Uniknya, peliharaan ini tidak memerlukan tanggung jawab khusus, tetapi dianggap tetap bisa menjadi pelepas stres.
Menurut sebagian warga Korea Selatan, batu peliharaan ini memiliki daya tarik sendiri, yaitu minimalis, dianggap bisa mengurangi perasaan kesepian, dan tidak perlu dirawat dengan intens.
Terkadang, para pemiliknya menghias batu peliharaan dengan stiker, membuat bentuk wajah, dan dikreasikan sesuai kreativitas masing-masing.
Beberapa toko dan situs online di Korea Selatan juga menjual batu ini dengan harga mulai dari Rp150.000.
Kepercayaan Orang Korea
Faktanya, tren memelihara batu hampir serupa dengan kepercayaan warga Korea Selatan pada zaman dahulu. Sebelumnya, warga Korea Selatan memiliki kepercayaan untuk mengumpulkan batu.
Pada masa Dinasti Joseon, kebiasaan ini disebut dengan ‘suseok’ atau batu cendekiawan.
Dahulu, masyarakat Korea percaya mengumpulkan batu yang berkualitas mampu mendatangkan kecanggihan di rumah, tempat kerja, dan mendatangkan kemakmuran.
Namun, kepercayaan ini sudah tidak banyak diterapkan selama beberapa dekade terakhir, tetapi sejak pandemi Covid-19 mulai diterapkan lagi karena tren baru yang beredar.
Kesepian Melanda Warga Korea Selatan
Mengutip dari detik health, warga negara Korea Selatan mengalami peningkatan pesat pada jumlah rumah tangga yang hanya terdiri oleh satu orang.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korea Selatan menjelaskan, adanya peningkatan rumah tangga satu orang dari Desember 2022 (9,72 juta) menjadi (9,93 juta) pada akhir 2023.
Melansir dari Kompas.com, Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga menjelaskan, setidaknya 3,1% warga Korea selatan yang berusia 19-39 tahun, adalah kelompok kaum muda yang cenderung penyendiri dan tertutup.
Beberapa faktor di antaranya adalah masalah keluarga, kesehatan mental, kesehatan fisik, dan kesulitan dalam keuangan.
Di sisi lain, warga Korea Selatan juga mendapatkan tekanan dalam pekerjaan. Perusahaan di Korea Selatan memiliki jam kerja yang berlebihan mencapai 52 jam dalam seminggu.
Penulis: Kerin Chang

