dr. Deibby dan putranya (Foto: instagram.com/drdeibby)
Praktisi Functional Medicine dr. Deibby Mamahit, menempuh perjuangan panjang demi membuat hidup kedua anaknya yang mengidap autisme menjadi lebih baik.
Gangguan spektrum autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang membuat anak kesulitan dalam berkomunikasi, berperilaku, berinteraksi, serta beraktivitas. Anak pengidap autisme dapat mengalami kesulitan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.
Hal ini, membuat mereka sulit untuk mengekspresikan diri, baik dengan kata-kata maupun melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan.
Hal inilah yang dialami Immanuel dan Joshua, putra dari dr. Deibby Mamahit. Perjuangan dr. Deibby Mamahit dalam membesarkan kedua anaknya yang mengidap autism spectrum disorder, atau gangguan spektrum autisme tidaklah mudah. Apalagi, kedua putra dr. Deibby, mengidap spektrum autisme yang sangat berbeda.
Ia menjelaskan, Immanuel didiagnosis mengidap high-functioning autism. Jadi, meskipun menderita autisme, Immanuel masih bisa berbicara, berhitung, dan membaca meskipun tidak lancar dan kesulitan dalam memahami tulisan yang dibaca.
Berbeda dengan Immanuel, putra keduanya, Joshua, didiagnosis mengidap low-functioning autism yang membuat skor IQ-nya sangat rendah.
“Immanuel memang ada gangguan belajar, tapi setidaknya masih bisa berhitung 1 sampai 100, masih bisa membaca walaupun sulit dan dia nggak ngerti apa yang dibaca, tidak bisa menghafal apa yang dibaca, tapi masih bisa baca. Jadi ada perbedaan, (apalagi) Joshua ini itu waktu lahirnya lebih lemah dibandingkan Immanuel dan kekebalan tubuhnya jauh lebih di bawah. Jadi sewaktu itu (gangguan autisme) terjadi ke dia itu lebih parah,” ujar dr. Deibby kepada DAAI TV, Senin (8/5).
Joshua menghadapi banyak kendala saat dirinya masih kecil. Menurut dr. Deibby, saat dilahirkan Joshua terlihat punya motorik yang rendah dibandingkan anak-anak lainnya.
Kondisi Joshua memburuk saat ia menginjak usia 1,5 tahun. Saat itu, Joshua mengalami infeksi paru-paru (bronkiolitis) dan terdapat kondisi imun, sehingga Joshua mengalami regresi.
Joshua juga tidak bisa melakukan kontak mata, tidak bisa bicara, bermain, bahkan tidak bisa mengenali orang tuanya sendiri.
“Saat dua anak saya didiagnonis mengalami autisme, di saat yang sama hidup saya hancur. Jadi saya sempat sangat down,” jelas dr. Deibby.
Di saat yang sama, dr. Deibby pun memutuskan untuk berhenti sebagai dokter dan mulai menjadi ibu rumah tangga. Hal ini, ia lakukan karena ingin menyelamatkan anak-anaknya.
Akhirnya, ia bertekad untuk membuat jalan keluar sendiri. Saat itu, dr. Deibby mulai mempelajari semua makalah dan buku yang berkaitan dengan kondisi anaknya.
Tidak hanya itu, dr. Deibby bahkan berkeliling dunia selama 10 tahun ke 3 benua untuk mencari cara membantu anak-anaknya. Mulai dari rumah sakit, klinik, sampai ke laboratorium penelitian sudah didatangi dr. Deibby untuk mencari jawaban.
Perjuangannya pun membuahkan hasil, setelah pergi ke banyak negara, membaca ratusan jurnal penelitian, dan mendengarkan banyak jawaban, ia menemukan bahwa kunci penting yang dibutuhkan anak-anaknya adalah nutrisi dan pola asuh yang tepat. Menurutnya, asupan dan pola asuh yang sesuai dapat mengubah hidup anak-anaknya.
Untuk itu, dr. Deibby menerapkan pola asuh penuh cinta, serta selalu membebaskan anak-anaknya dalam membuat pilihan. Ia bahkan rutin meluangkan waktu bagi setiap anak untuk bisa lebih dekat dengan dirinya, tanpa gangguan apa pun.
“Saat kita sibuk melakukan aktivitas di dekat anak, maka anak tidak akan bisa melihat bahwa kita sayang dengan mereka. Jadi saya (meluangkan waktu bersama) mereka saja selama misalnya 1-2 jam, tanpa memikirkan hal lain. Menurut saya sangat penting punya hubungan yang sangat erat dengan anak-anak, walaupun masalah yang mereka alami itu banyak,” katanya.
Selain memberikan perhatian penuh, dr. Deibby juga kerap mencoba beragam terapi untuk anaknya. Mulai dari terapi bicara, okupasi, sampai behavioral.
Tidak hanya pola asuh, dr. Deibby juga menerapkan pola makan penuh nutrisi dan menghindari semua makanan yang bisa menyebabkan peradangan, seperti gandum, gula, dan susu.
Sebagai alternatif, dr. Deibby mengganti sumber makanan itu dengan produk lain. Misalnya, mengganti gandum dengan beras, sagu, tepung tapioka, atau tepung singkong.
Lalu, mengganti gula dengan stevia atau monk fruit, atau bahkan menghindari gula dengan jus buah. Terakhir, dr. Deibby mengganti susu biasa menjadi susu nabati. Ia juga memberikan suplemen tambahan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak, sehingga bisa mengurangi efek inflamasi.
Setelah menerapkan hal tersebut selama beberapa tahun, dr. Deibby mengaku kini kondisi anaknya kian membaik. Immanuel kini sudah mulai bisa bersekolah di luar negeri tanpa bantuan sama sekali, serta bisa belajar dengan fokus. Sama halnya dengan Joshua yang kini sudah bisa fokus, bahkan mulai bisa belajar kata-kata baru.
“Melalui perubahan pola pikir, orang tua dapat memotivasi anaknya untuk ingin menjadi lebih baik. Ketika orang tua berubah, anak-anak akan berubah. Begitulah cara kami dapat membantu anak-anak kami untuk mendapatkan kembali kesadaran mereka. Setiap anak memiliki potensi untuk mencapai hal-hal hebat dan mereka semua berhak untuk mencoba. Proses penyembuhannya tidak singkat, mungkin panjang dan membosankan, tetapi (prosesnya sangat) bermanfaat dan bermakna,” tutup dr. Deibby.

