Aeshnina di pawai peduli sampah di Kanada. (Foto: Instagram.com/aeshnina)
Aktivis lingkungan asal Gresik, Jawa Timur, Aeshnina Azzahra Aqilani (16) berkesempatan mengikuti pawai peduli sampah plastik di Kanada, pada Minggu (21/4).
Di dalam pawai bertajuk March to End Plastic Era di Ottawa tersebut, Nina menyoroti dampak buruk air limbah dari industri daur ulang, serta menghentikan proses impor sampah plastik dari negara-negara maju.
Nina juga menyuarakan keberadaan mikroplastik dan bahan yang tidak dapat didaur ulang yang kerap dibakar atau dibuang, sehingga menyebabkan degradasi lingkungan dan risiko kesehatan di masyarakat.
Mengutip dari situs web Plastic Pollutan Coalition, polusi plastik telah berlipat ganda seiring dengan pertumbuhan produksi plastik, dengan plastik sekali pakai berkontribusi hingga 50% dari total produksi.
Meskipun tingkat daur ulang diproyeksikan meningkat dari 9% pada tahun 2019 menjadi 17% pada tahun 2060, tetapi 70% sampah plastik yang diproyeksikan meningkat tiga kali lipat pada saat itu, masih akan berakhir dengan dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Menekankan urgensi dari situasi ini, Nina menyerukan langkah-langkah internasional untuk menghentikan ekspor sampah plastik ke negara-negara berkembang, serta mengadvokasi kerja sama global untuk membangun praktik lingkungan yang lebih sehat dan aman.
“Aku bercerita tentang pencemaran yang terjadi di Indonesia karena sampah plastik impor dari negara maju. Aksi ini, bertujuan untuk mendorong pemerintah dan industri agar serius menangani pencemaran plastik dari hulunya, yaitu produksi. Memberi batas produksi plastik dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, adalah solusi yang harus diterapkan,” ujar Nina dikutip dari media sosial Instagram @aeshnina, Rabu (24/4).

(Aeshnina selama pawai di Kanada)
Perjanjian Plastik Global
Pawai yang diikuti Nina, dilakukan menjelang gelaran agenda Perjanjian Plastik Global (Global Plastics Treaty) di Ottawa, Kanada, pada 23-29 April 2024.
Pada rangkaian acara tersebut, anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) akan bertemu dengan negara-negara lain di Ottawa, untuk menghadiri sesi keempat pertemuan Komite Perundingan Antarpemerintah (INC-4).
Pertemuan ini, dilakukan guna mengembangkan teks instrumen internasional yang mengikat secara hukum, khususnya untuk mengatasi polusi plastik, termasuk di lingkungan laut.
Salah satunya, melalui pendekatan komprehensif yang membahas siklus hidup plastik secara menyeluruh. Agenda ini merupakan momen penting karena kita dapat meresmikan atau membatalkan Perjanjian Plastik Global.
Inilah sebabnya mengapa kelompok masyarakat dari seluruh dunia, berkumpul bersama di Ottawa untuk menyuarakan tujuan terkait pengelolaan sampah plastik.
Sebagaimana diketahui, industri plastik merupakan sumber gas rumah kaca industri dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan siklus hidup plastik yang diproyeksikan menyumbang hingga 19% emisi rumah kaca global pada tahun 2040.
Model ekonomi linier dari ekstraksi-produksi-pembuangan dan produksi plastik yang tidak terkendali saat ini, tidak sesuai untuk tetap berada di bawah ambang batas 1,5 derajat celcius, serta dalam batas-batas yang aman.
“Yuk mulai biasakan diri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai! Mari kita semua berdoa agar Perjanjian Plastik Global ini bisa disahkan dengan efektif, serta memberi dampak baik untuk kita dan lingkungan Indonesia,” tutup Nina.

(Aeshnina saat pawai di Kanada)

