Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi stroke (Foto: kate_sept2004 via Getty Images Signature)

Stroke adalah kondisi saat pasokan darah ke otak terganggu karena adanya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.

Spesialis Neurologi dr. Jeffri Indra Setiawan, Sp.N, AIFO-K. menjelaskan, stroke adalah keadaan saat adanya gejala atau tanda yang bersifat mendadak, berupa defisit neurologik atau kelumpuhan saraf bersifat global atau fokal.

Defisit neurologik global, ditandai dengan adanya penurunan kesadaran, pingsan, dan kejang.

Sementara itu, defisit neurologik fokal ditandai dengan kelumpuhan pada separuh sisi badan atau wajah, atau kondisi tidak bisa bicara. Kedua defisit neurologi ini disebabkan oleh gangguan dalam pembuluh darah.

 

Penyebab Stroke

Secara umum, penyebab stroke terbagi menjadi dua macam, yakni karena penyumbatan (stroke iskemik) dan pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

Menurut dr. Jeffri, stroke iskemik umumnya disebabkan oleh adanya penumpukan plak di dinding pembuluh darah (aterosklerosis), sehingga pembuluh darah menjadi semakin sempit dan tersumbat.

Saat terjadi penyumbatan, bagian otak yang mengalami pendarahan akibat pembuluh darah tadi akan kehilangan fungsinya, sehingga bisa menimbulkan gangguan mendadak.

Kemudian, stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah, sehingga darah akan keluar dari pembuluh darah dan berakumulasi yang bisa menyebabkan tekanan di otak atau di dalam kepala (tekanan intrakranial).

“Tekanan dari pendarahan tadi membuat rusaknya jaringan otak yang menyebabkan gangguan fungsi di otak,” ujar dr. Jeffri dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, Selasa (13/6).

Saat anggota keluarga mengalami stroke, pertolongan pertama yang bisa diberikan adalah segera membawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.

 

Gejala Stroke

Beberapa tanda dan gejala stroke yang bisa dikenali, adalah sebagai berikut.

1. Kesulitan berbicara dan memahami apa yang dikatakan orang lain. Pengidap stroke mungkin mengalami kebingungan, mengatakan kata-kata yang tidak jelas, atau kesulitan memahami pembicaraan.

2. Mengalami kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, lengan, atau kaki. Pengidap stroke mungkin tiba-tiba mengalami mati rasa, kelemahan, atau kelumpuhan di wajah, lengan, atau tungkai. Namun, kondisi ini lebih sering hanya mempengaruhi satu sisi tubuh saja.

3. Masalah pengelihatan pada satu atau kedua mata. Pasien stroke bisa secara tiba-tiba memiliki penglihatan yang kabur atau menghitam di satu atau kedua mata, bahkan bisa melihat secara ganda.

4. Sakit kepala. Sakit kepala parah secara tiba-tiba yang mungkin disertai dengan muntah, pusing, atau perubahan kesadaran, dapat mengindikasikan gejala stroke.

5. Kesulitan berjalan. Gejala umum lainnya, adalah kesulitan berjalan yang bisa menyebabkan tersandung atau kehilangan keseimbangan saat berjalan. Hal ini juga bisa disertai dengan kondisi pusing mendadak atau kehilangan keseimbangan.

 

Faktor Risiko Stroke

Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Faktor risiko stroke yang berpotensi dapat diobati meliputi obesitas, tidak aktif secara fisik, konsumsi minuman keras, sampai penggunaan obat-obatan terlarang.

Kemudian, faktor risiko kesehatan seperti tekanan darah tinggi, merokok, kolesterol tinggi, diabetes, apnea tidur obstruktif, penyakit kardiovaskular, riwayat stroke keluarga, sampai infeksi Covid-19 juga bisa menjadi faktor risiko stroke.

Faktor lain yang terkait dengan risiko stroke yang lebih tinggi meliputi usia tua, ras atau etnis tertentu, jenis kelamin, sampai hormon.

 

Pencegahan dan Pengobatan Stroke

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah stroke, adalah dengan mengetahui faktor risiko stroke, mengikuti rekomendasi medis dari dokter, sampai mengadopsi gaya hidup sehat.

Secara umum, adopsi gaya hidup sehat bisa dilakukan dengan mengontrol hipertensi, menurunkan jumlah kolesterol dan lemak jenuh, berhenti merokok, mengelola diabetes, mempertahankan berat badan ideal, konsumsi makanan sehat, sampai berolahraga secara teratur.

Usahakan untuk melakukan tindakan pencegahan stroke sejak dini karena bisa memberikan hasil yang lebih signifikan.

“Kalau memang masih muda, kecenderungan gejala dan penyembuhannya cenderung lebih bagus karena hormon pertumbuhan sampai hormone seksualnya masih bagus dan aktif. Dengan demikian, kalau ada kelemahan atau kecacatan ototnya masih bagus untuk latihan, sehingga untuk proses kesembuhannya biasanya lebih bagus,” tutup dr. Jeffri.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: