Penulis: Grace Kolin

Selain kendaraan bermotor, bangunan juga bisa menjadi penyumbang emisi karbon bagi bumi. Data dari International Energy Agency menyebutkan bahwa sebuah bangunan dapat menyedot energi sebesar 36% dan memiliki kontribusi terhadap 39% emisi karbon global.

Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta 2021, terdapat lebih dari 5.000 bangunan sekolah di kota ini. Bisa Anda bayangkan berapa total emisi karbon yang dihasilkan hanya dari bangunan-bangunan sekolah ini?

Empat sekolah berkonsep net zero carbon di Jakarta

Untuk  menekan produksi emisi yang berlebih khususnya dari bangunan sekolah, pada September lalu, Pemprov DKI Jakarta telah meresmikan empat sekolah berkonsep net zero carbon atau bangunan dengan emisi carbon yang rendah. Sebagian energi dari bangunan sekolah ini dipasok dari sumber energi terbarukan, sehingga menghasilkan emisi karbon yang sangat minim.

Ada empat sekolah negeri berkonsep net zero carbon pertama di Indonesia yang mendapat sertifikat Greenship Net Zero dari Green Bulding Council of Indonesia. Keempat sekolah tersebut adalah  SDN Ragunan 08 Pagi, SDN Grogol Selatan 09, SDN Duren Sawit 14, dan SMA Negeri 96.

Praktik net zero carbon di SDN Ragunan 08 Pagi

Salah satu sekolah net zero carbon pertama di Indonesia, SDN Ragunan 08 Pagi terletak di Jalan Villa Ragunan Nomor 10, Jakarta Selatan. Sebelum diresmikan, sekolah negeri ini  dulunya terdiri dari tiga sekolah yaitu SDN Ragunan 08 Pagi,  SDN Ragunan 09 Pagi, dan SDN Ragunan 11 Petang yang digabungkan untuk efisiensi manajemen sekolah. Seperti apa penerapan net zero carbon di sekolah ini? yuk simak penjelasan berikut ini:

  • Meminimalkan penggunaan listrik

Mayoritas ruang kelas di sekolah ini berdinding kaca. Desain tersebut diterapkan agar sirkulasi udara serta cahaya matahari dapat memenuhi ruang kelas, sehingga meminimalkan penggunaan listrik untuk lampu dan juga pendingin ruangan.

  • Sumber daya listrik dari panel surya

Di bagian atap sekolah juga ada barisan panel surya yang menjadi sumber daya listrik di sekolah ini. Setiap harinya, sebanyak dua puluh panel surya ini mampu menghasilkan kurang lebih 10.000 watt dan menjadi penyokong kebutuhan sumber daya listrik sekolah.

Walaupun mendapat pasokan listrik yang cukup besar dari panel surya, namun sekolah ini tetap berkomitmen menjalankan zero carbon dengan menggunakan energi listrik sebagai cadangan, baik pada saat cuaca mendung maupun hujan. Jika kebutuhan listrik belum tercukupi, maka sekolah ini secara otomatis akan menggunakan sumber daya listrik dari PLN.

  • Zero waste plus ramah anak dan disabilitas

Salah satu yang menarik adalah, tempat sampah yang jarang sekali ditemukan di lorong sekolah. Hal ini dilakukan agar setiap penghuni sekolah tertib melaksanakan zero waste sesuai dengan misi sekolah net zero carbon ini.

Tidak hanya ramah lingkungan, sekolah ini juga didesain ramah untuk anak dan disabilitas. Terbukti dengan tersedianya trem dan lift. Namun, khusus untuk lift, selain untuk disabilitas, juga diperuntukan untuk tamu sekolah.

  • Implementasi perilaku cinta lingkungan di kalangan pelajar

Di sekolah net zero carbon ini, siswa-siswi juga diajarkan untuk mencintai lingkungan, hidup bersih dan mandiri. Siswa-siswi wajib membawa tempat makan dan minum sendiri dari rumah. Setiap murid juga dipersilahkan untuk membeli dan mengambil makanan secukupnya secara mandiri.

Menurut wakil kepala sekolah SDN Ragunan 08 Pagi, M. Syaikhu Rohman, adaptasi pembelajaran dan menanamkan kesadaran serta kepedulian terhadap lingkungan kepada siswa-siswi memang tidaklah mudah. Namun, dengan kerja sama yang baik antara sekolah, anak dan para orang tua, kebiasaan baik ini pun perlahan-lahan terlaksana.