Fathia Fairuza (Foto: Instagram @fathiafairuza)
Fathia Fairuza mewakili Indonesia dalam The Economic and Social Council (ECOSOC) Youth Forum yang digelar di Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada 25-27 April 2023 lalu.
Fathia Fairuza adalah mahasiswi asal Indonesia yang berhasil membawakan isu pendidikan di Indonesia, pada ajang ECOSOC Youth Forum 2023.
Berdasarkan keterangan di media sosial miliknya, Fathia sebelumnya juga telah berpartisipasi di ECOSOC Youth Forum di tahun 2021 secara daring.
Kini, Fathia kembali diundang di forum diskusi pemuda dunia secara langsung di United Nations Headquarters, New York.
Fathia menjelaskan, tahun ini agenda ECOSOC Youth Forum adalah seputar bagaimana anak muda berperan untuk mencapai The Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan di tahun 2030.
SDGs mencakup berbagai isu pembangunan sosial dan ekonomi. Termasuk di dalamnya kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, air, sanitasi, energi, lingkungan, dan keadilan sosial.
ECOSOC Youth Forum 2023 sendiri, adalah inisiatif tahunan yang menjadi platform utama bagi kaum muda untuk dapat berkontribusi pada diskusi kebijakan di PBB melalui ide, solusi, dan inovasi kolektif mereka.
Pada forum tersebut, Fathia menggarisbawahi bahwa pada tahun 2030 keterampilan yang diperlukan bagi pemuda di dunia kerja jauh, lebih dari sekadar melek huruf dan berhitung. Namun, juga termasuk pemikiran kritis, keterampilan digital, dan kewirausahaan.
Meski demikian, kata Fathia, sayangnya di Indonesia masyarakat yang tinggal di pedesaan dan mereka yang memiliki latar belakang sosial ekonomi rendah terus menghadapi tantangan, khususnya dalam mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Fathia mendirikan Shape Your Life Indonesia, sebuah organisasi yang dipimpin pemuda untuk memperkuat daya saing pemuda di pedesaan untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui program bimbingan gratis.
Pada organisasi tersebut, Fathia melatih kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan keterampilan berpikir kritis.
Namun, Fathia bertanya-tanya apakah intervensinya dengan memberikan pelatihan informal sudah cukup bagi para pemuda. Pasalnya, jika dapat berkolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta, dampaknya akan lebih berpengaruh.
Untuk itu, Fathia meminta dukungan untuk mendorong pemerintah agar dapat mengubah sistem, serta mendukung dan mempercepat kemajuan untuk memberikan peningkatan keterampilan bagi kaum muda.
“Aku berharap akan ada lebih banyak kesempatan bagi pemuda di seluruh dunia, untuk dapat menyuarakan suaranya dalam diskusi seperti ini, baik secara lokal maupun regional, dan tentunya harus lebih dari sekali dalam setahun!” ujar Fathia dikutip dari media sosial Instagram-nya @fathiafairuza, Selasa (2/5).
Sebagai informasi, Fathia adalah gadis asal Sidoarjo yang berhasil terbang ke Madrid, Spanyol, untuk mengikuti program pertukaran pelajar pada 2016.
Cita-cita Fathia untuk bekerja di PBB berawal dari sini. Dirinya mulai membuat rencana detail tentang pendidikannya, termasuk aktivitas yang perlu dilakukan selama kuliah untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Perjalanan pendidikan Fathia berawal pada 2018, saat Fathia diterima di jurusan International Relations and Peace Studies di Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Jepang.
Fathia berhasil mendapatkan beasiswa sampai 80% untuk menempuh pendidikannya. Sejak saat itu, ia mulai membagikan ceritanya selama berkuliah dan mulai dikenal sebagai education influencer di Indonesia.
Setelah selesai dengan studi di Jepang, Fathia kembali melanjutkan pendidikannya di Universitas Columbia Graduate School of Arts and Sciences pada 2022.
Alasan utama Fathia memilih Universitas Columbia, adalah program yang dimiliki universitas ini lebih cocok dengan fokus risetnya, yakni advokasi hak pada edukasi (right to education advocacy).
Universitas ini juga memiliki sumber pembelajaran yang lebih banyak melalui Human Rights Institute yang ada. Ditambah lagi, posisi universitas ini lebih dekat dengan United Nations Headquarter.

