Tampak atas Museum Djamin Gintings (Foto: Hidayat Sikumbang/DAAI Medan)
Museum Djamin Gintings di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, menjadi saksi dari perjuangan pahlawan nasional dari Tanah Karo.
Museum Djamin Gintings menyimpan kisah perjalanan hidup sosok Pahlawan Nasional Indonesia Djamin Gintings. Nama pahlawan ini, tentunya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Sumatra Utara.
Museum Letjen Djamin Gintings mulai dibangun pada tahun 2011 dan diresmikan oleh Menteri Pertahanan RI di 2013 lalu, tepatnya di tanggal 17 September 2013.
Bentuknya yang mirip kacang tanah, menandakan perjalanan hidup seorang pemimpin yang tetap setia melindungi tanah airnya dari berbagai rintangan, seperti kacang tanah yang melindungi isinya.
Sosok Djamin Gintings sendiri, begitu erat dengan dunia militer. Setelah selesai menamatkan studinya di sekolah menengah, ia pun memulai karier militernya dengan bergabung ke satuan militer yang dipelopori oleh opsir Jepang di kampungnya di Tiga Panah.
Pengelola Museum Djamin Gintings Gresia Karo-Karo mengatakan, museum ini memiliki cerita lengkap dari awal mula kisah perjalanan hidup, asmara, hingga karier militer dari Djamin Gintings hingga akhir hayatnya.
Sebagai catatan, Djamin Gintings wafat saat masih menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Kanada pada usianya yang ke-53 tahun.
“Peran museum ini untuk menyimpan barang bersejarah Bapak Djamin Gintings, lengkap. Jadi pengunjung bisa melihat bagaimana kisah hidupnya, romantisnya, hingga sedikit kisah Pak Djamin yang dinobatkan sebagai pahlawan di beberapa tahun lalu,” ujar Gresia pada DAAI TV, dikutip Rabu (25/10).

Sebagai seorang sosok pahlawan asal Tanah Karo, Djamin Gintings dikenal sebagai ayah yang pantang menyerah dan juga suami yang menyayangi istrinya.
Hal ini pun diamini oleh Junita Ginting, salah seorang sejarawan karo yang turut andil dalam menulis buku biografi “Jamin Gintings: Setia Selamanya”.
Menurut Junita, kehadiran museum ini juga merupakan bukti akan rasa cinta sang istri dan anak terhadap sosok pahlawan tersebut.
“Beliau di dalam kesibukannya cukup sibuk. Di sisi lain, ia adalah seorang ayah, suami, dan juga kepala keluarga yang sangat dekat. Terbukti, setelah ia tiada pun keluarga terus berjuang untuk mencapai gelar pahlawan tersebut. Selain itu, ada banyak kisah-kisah romantis dari dirinya bersama sang istri, Likas Tarigan,” kata Junita.
Di dalam museum ini, terdapat beberapa foto-foto tentang perjalanan hidup Djamin Gintings ketika masih berkarier di dunia militer. Selain itu, ada juga seragam dan alat yang digunakan saat ia berkarier di dunia militer, hingga beberapa barang milik keluarga Djamin Gintings.
Harga tiket masuk museum ini pun tidak menguras kantong, yakni hanya Rp5 ribu. Akses menuju museum ini, memakan waktu 3 jam perjalanan dari Kota Medan dengan jarak tempuh 81 km.

Pengunjung Museum Djamin Gintings Gabriel Siregar mengungkapkan, pengalaman di museum ini membuatnya merasa mendapatkan cerita langsung tentang kisah perjalanan hidup seorang Djamin Gintings.
Ia berharap, akan ada semakin banyak orang yang berkunjung untuk melihat langsung peninggalan dari Djamin Gintings.
“Adanya museum seperti Museum Letnan Jamin Ginting ini dan juga museum-museum yang lain, kita manfaatkan sebagai sarana untuk mengenal lebih jauh pahlawan-pahlawan kita. Ini karena Bapak Soekarno pernah berkata, bahwa masyarakat suatu negara satu bangsa yang mengenal pahlawan pahlawannya, itu mampu menjadi negara yang besar,” tutup Gabriel.

