Aktivis lingkungan Giri Marhara (Foto: AP Photo/Achmad Ibrahim)
Aktivis lingkungan Giri Marhara (26) sejak kecil sudah berjuang membersihkan danau agar lingkungan di sekitarnya tetap bersih dari sampah.
Mengutip dari AP News, Giri sudah mulai tertarik untuk membersihkan lingkungan sekitarnya sejak dirinya berusia 16 tahun.
Tak lama setelahnya, Giri pun memutuskan untuk mulai membersihkan sampah di danau. Aksi Giri pun menarik minat pemuda lain di sekitarnya.
Giri akhirnya membuat Komunitas Pejuang Kebersihan Situ Gede demi memerangi sampah di Situ Gede, Bogor, Jawa Barat.
Dimulai dari tim kecil, kini Komunitas Pejuang Kebersihan Situ Gede telah memiliki sekitar 20 anggota muda.
Giri menjelaskan, bersih-bersih merupakan katarsis dan terasa menyegarkan. Giri menambahkan, “Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengedukasi anak-anak bahwa ini adalah sesuatu yang positif, sesuatu yang mungkin bisa dijadikan kebiasaan, sehingga bisa mendorong mereka untuk ikut membantu.”

Mengumpulkan Sampah Pakai Kayak
Demi melancarkan kegiatan ini, sebuah kelompok kayak lokal meminjamkan perahu mereka kepada Giri dan kawan-kawannya.
Menggunakan kayak pinjaman, anggota Komunitas Pejuang Kebersihan Situ Gede secara bergantian mendayung ke arah tumpukan sampah yang mengambang di danau.
Mereka kemudian memungut dan menyimpannya di dalam kayak, sebelum memberikannya kepada teman-teman mereka yang memilahnya di daratan. Mereka membedakan antara sampah yang bisa didaur ulang atau digunakan kembali dan sampah yang harus dibuang.
Setelah lebih dari 10 tahun, Giri dan teman-temannya berhasil mengumpulkan lebih dari 2.700 kg sampah di dalam dan sekitar Situ Gede melalui berbagai inisiatif.

Masalah Sampah di Indonesia
Meski demikian, masalah sampah di Indonesia masih jauh lebih besar dan perlu penanganan yang lebih besar pula.
Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan lebih dari 35 juta ton sampah tahun 2022. Diperkirakan 35% sampah di Indonesia tidak terkelola dengan baik, sehingga sampah di pinggir jalan, saluran air, atau di lingkungan menjadi sebuah pemandangan yang umum.
Masalah sampah juga menimbulkan masalah kesehatan. Sebagai contoh, Sampah plastik yang terurai menjadi potongan-potongan kecil (mikroplastik) dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Beberapa penelitian menunjukkan, hal ini dapat berdampak pada sistem endokrin, saraf dan kekebalan tubuh, serta dapat meningkatkan risiko kanker.
“Implikasinya sangat serius dan perlu ditangani. Ada kerugian lingkungan, kerugian kesehatan, dan tentu saja ada kerugian ekonomi,” kata Abdul Ghofar, spesialis perkotaan dan polusi di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Harapan Giri
Giri percaya, bahwa gerakan bersih-bersih membutuhkan perubahan budaya yang akan terus berlanjut meskipun produksi sampah sudah berkurang.
“Saya mencoba untuk melawan perilaku yang menyebabkan sampah ada di lingkungan. Misalnya seperti budaya membuang sampah sembarangan. Saya pikir satu-satunya cara untuk melawan budaya tersebut adalah dengan mengembangkan budaya tandingan, yakni budaya bersih-bersih,” tutup Giri.


