Jody Scaravella bersama para koki nenek dari seluruh dunia (Foto: Simon dan Schuster dari WBUR on Point)
Jody Scaravella (67) membuat Enoteca Maria dengan ciri khas menu makanannya yang dimasak langsung oleh para nenek dari seluruh dunia.
Ketika ibu dan neneknya meninggal dunia, Scaravella mulai merindukan masakan rumahan ala Italia buatan mereka.
Mengutip dari People, demi mengobati rasa rindu dan kesedihannya, Scaravella kemudian membuka restoran bernama Enoteca Maria di Staten Island, New York, Amerika Serikat.
Restoran ini diberi nama untuk menghormati mendiang ibunya, Maria, yang secara ajaib juga mengembalikan rasa sukacita dalam hidup Scaravella.
Restoran yang dibuka pada Maret 2007 ini menawarkan keunikan sendiri karena menu makanannya dimasak langsung oleh para nenek Italia yang dipanggil sebagai ‘nonna’.
“Para nenek ini sangat penuh cinta, mereka kerap memelukku dan juga memeluk para pelanggan,” ujar Scaravella dikutip dalam keterangannya, Jumat (26/1).
Restoran di 27 Hyatt Street ini memiliki 30 meja yang saat ini buka 3 hari dalam seminggu, yaitu pada hari Jumat pukul 15.00, serta Sabtu dan Minggu pukul 13.00. Mereka menerima tempat duduk terakhir pada pukul 19.30 setiap malamnya karena para nenek harus segera pulang ke rumah.

Menambah Akulturasi Budaya
Melansir dari Travel + Leisure, ternyata Scaravella bukanlah satu-satunya orang yang merindukan nostalgia dan perasaan nyaman dari masakan nonna.
Awalnya Scaravella memulai bisnis dengan merekrut para nonna dari berbagai daerah di Italia, tetapi ia segera menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan.
“Saya belajar pada saat itu bahwa Anda tidak dapat menempatkan dua wanita dari budaya yang sama di dapur pada saat yang bersamaan. Saya yakin hal ini terjadi pada setiap budaya, akan ada persaingan dan ada masalah kepemilikan dan semua itu,” kata Scaravella.
Akhirnya, Scaravella membuka diri dan mulai menyambut para nonna dari semua budaya. Dimulai dengan nonnas Italia, kini Enoteca Maria juga merekrut nenek dari Jepang, Peru, Sri Lanka, Uzbekistan, Mesir, Taiwan, Azerbaijan, Argentina, dan banyak lagi.
Saat ini ada 30 nonna berusia 50-91 tahun dari Italia dan negara-negara lain yang memasak secara bergilir. Mereka menyajikan masakan asli mereka mereka selama tiga malam dalam seminggu untuk para pengunjung yang mengaguminya.
Scaravella menjelaskan, bahwa tidak masalah untuk menempatkan wanita dari budaya yang berbeda karena mereka tidak benar-benar tahu apa yang sedang dilakukan oleh yang lain. Hal ini pun menimbulkan ketertarikan dan tembok pembatas pun runtuh,” jelasnya.
Hal baiknya, para pelanggan bisa memesan berbagai hidangan menarik berdasarkan siapa yang ada di dapur pada malam itu.
Saat ini, semua nonna tinggal di wilayah metropolitan Kota New York, beberapa datang setiap beberapa minggu sekali dan yang lainnya datang lebih sering.
Menariknya, seorang nonna asal Taiwan kerap datang setahun sekali selama perjalanannya ke AS. Nenek tersebut bukan satu-satunya yang menganggap memasak di Enoteca Maria sebagai suatu kehormatan.

(Salah satu nonna di Enoteca Maria)
Masakan yang Dibuat
Hidangan rumahan yang dibuat oleh para koki nonna ini selalu berubah setiap harinya. Pada tanggal 9 April. Misalnya, nonna Adelina dari Italia menyajikan hidangan Agnello Arosto dan berbagai macam pasta. Sementara itu, nonna Yumi dari Jepang memasak protein dan hidangan terung Jepang.
Menurut Scaravella, sebagian besar wanita ini suaminya telah meninggal dunia, anak-anak pun telah dewasa dan telah pindah dari rumah orang tuanya.
Tidak heran jika para nonna memiliki hasrat yang sama untuk memasak makanan dengan sepenuh hati.
“Mereka penuh dengan budaya dan mereka membutuhkan pelampiasan dan itulah yang kami lakukan, kami menyediakan jalan keluar itu.”
Salah seorang nonna dari Sri Lanka, Joseph (71) mengatakan, memasak di Enoteca Maria membuatnya merasa sangat bahagia.
“Saya hanya mencoba untuk menciptakan kembali bagian dari hidup saya yang telah hilang. Ini seperti terapi bagi saya,” ujarnya.
Para pelanggan pun merasa puas dengan hidangan yang disantapnya. Selama menikmati makanan di restoran, kata Scaravella, para pelanggan selalu membicarakan ibu dan nenek mereka dan cara mereka memasak.
Bisa dibilang, tempat ini benar-benar membawa pelanggan ke masa lalu dan meningkatkan kenangan manis.

(Nonna Fatma dari Turki)
Tantangan Selama Membuka Bisnis
Saat baru pertama kali dibuka, Scaravella mengaku dirinya tidak memiliki pengalaman dalam mengelola restoran dan membuat rencana bisnis, sehingga restoran ini mengalami kegagalan sebesar 85% dalam 6 bulan pertamanya.
“Saya sangat mudah dibentuk pada saat itu. Jadi, saya menceburkan diri ke dalamnya dan tidak peduli dengan hasilnya. Pada saat itu, saya akan melakukan apa saja,” tegas Scaravella.
Meskipun ide untuk mengajak nenek-nenek memasak itu sederhana, tetapi pelaksanaannya tidak selalu mudah. Scaravella selalu mencari bahan makanan untuk koki yang berbeda, bahkan tidak jarang bahan makanan spesifik sangat sulit didapat.
Dia pernah memiliki seorang nonna asal Sri Lanka yang tidak menyukai bubuk kari yang dibeli dari toko. Jadi dia mengantarnya ke New Jersey untuk membeli rempah-rempah mentah agar dia dapat memanggang dan meraciknya sendiri.
Scaravella juga pernah menghadapi seorang nonna Yunani yang tidak begitu menyukai keju feta yang dibelinya dan meminta untuk membawa keju feta miliknya sendiri, jadi Scaravella menurutinya dan mengganti uangnya.
Ia juga membawa seorang nonna Jepang ke Japan Village di Brooklyn’s Industry City untuk membeli akar teratai, tetapi ternyata sang nenek menginginkan akar mentah yang dapat ia olah dari awal.
Meskipun para nonna memiliki bumbu, rempah-rempah, dan teknik memasak sendiri, mereka cenderung menggunakan protein dari tempat yang sama. Apa yang mereka lakukan dengan bahan-bahannya selalu mengejutkan.
“Saya orang Italia, jadi saya mengidam pasta, tapi saya suka karena semuanya berbeda. Itulah keindahannya,” kata Scaravella.
Bagian lain dari kegembiraan ini adalah bahwa Enoteca Maria selalu berkembang. Setelah sempat tutup selama 18 bulan karena pandemi, restoran ini dibuka kembali dengan semua produk organik karena bahan itulah yang dimakan Scaravella di rumah.
Aspek baru lainnya, muncul setelah seorang pelanggan bertanya apakah ia bisa membantu nonna Nigeria yang sedang ia awasi di dapur. Tanpa pikir panjang, Scaravella memberikan celemek dan hairnet kepadanya, sehingga keduanya bisa mulai memasak bersama.
Melihat ikatan lintas generasi di dapur tersebut, membuat Scaravella memikirkan ide bisnis baru. Akhirnya, ia pun segera memulai kelas memasak gratis untuk membantu anak-anak yatim piatu menyiapkan makanan mereka.
Scaravella menjelaskan, “Ini adalah proses pewarisan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya yang benar-benar hidup. Ini bukan hanya lintas generasi, tetapi juga lintas budaya karena seringkali para wanita ini berasal dari latar belakang yang berbeda, bahkan tidak memiliki bahasa yang sama.”
Semangat universal itulah yang benar-benar mendorong Scaravella. Meskipun ia mengaku awalnya tidak benar-benar memiliki keinginan untuk menjalankan sebuah restoran, tetapi Enoteca Maria memberinya sudut pandang baru.
Sebagai bagian dari mentalitas proyek tersebut, ia juga menjual produk yang dijuluki Nonnas of the World di situs webnya dan mengumpulkan resep di nonnasoftheworld.com.
Salah satu hal yang paling disukai Scaravella, adalah kekuatan makanan untuk menyatukan orang-orang.
“Setelah melalui periode yang sangat memecah belah dalam sejarah, makanan sangat membantu meruntuhkan batasan-batasan tersebut dengan cara yang sama seperti musik dan seni. Hal ini membantu Anda untuk terlibat dengan budaya lain tanpa menyadarinya, sehingga bias pribadi Anda, apa pun itu, tidak lagi mengemuka,” tutup Scaravella.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

