Collette Divitto (Foto: Instagram.com/colletteyscookies)
Collette Divitto (32) memutuskan untuk membangun bisnis “Collettey’s Cookies” setelah lamaran pekerjaannya selalu ditolak karena kondisi down syndrome yang diidapnya.
Wanita asal Boston ini menjelaskan, membangun bisnis sendiri dari awal tidaklah mudah. Apalagi, dirinya mengidap down syndrome sejak kecil.
“Saya tidak punya teman semasa SMA. Saya sering diintimidasi,” ujar Divitto dikutip dari Boston 25 News, Senin (18/12).
Sebagai pelampiasan, Divitto mulai membuat kue. Ibunda Divitto, Rosemary Alfredo, memindahkannya ke kelas-kelas pilihan, sehingga alih-alih berurusan dengan kecacatannya para guru dapat mengenali kemampuan yang dimiliki Divitto.
“Itu adalah salah satu hal yang tidak sesuai dengan apa yang Divitto kerjakan. Saya memasukkannya ke kelas tersebut untuk memungkinkannya mendapatkan keterampilan yang tidak bisa saya ajarkan kepadanya, dan monster kue pun lahir!” kata Rosemary Alfredo.

Lamaran Kerja Selalu Ditolak
Setelah lulus kuliah, Divitto pindah ke Boston dan mengikuti wawancara kerja yang tak terhitung jumlahnya, tetapi ia selalu ditolak.
Akhirnya, Divitto kembali ke dapur dan melakukan apa yang kembali mengembangkan kemampuanya dalan membuat kue.
Divitto pun membawa kue buatannya ke pasar di North End, Boston. Menariknya, ada banyak orang yang sangat menyukai kue buatan Divitto, serta langsung memesan lebih banyak lagi.
Melihat hal ini, sang ibunda pun turun tangan membantu Divitto, hingga akhirnya Collettey’s Cookies pun lahir.
“Kita harus melakukan semua hal ini, tapi saya tidak melakukannya sendiri. Jika kamu benar-benar menginginkan ini, kita akan duduk bersama setiap hari sampai semua ini selesai,” kata Alfredo kepada Divitto.
Divitto mengaku, sang ibu bisa bersikap sangat keras terhadapnya, tetapi itulah peran seorang ibu dalam membimbingnya.
“Saya membimbingnya melalui semua langkah dan dia melakukan semuanya,” jelas Alfredo.

Memberdayakan Disabilitas
Divitto pertama kali mulai menjual kue-kue buatannya secara online, baik dalam bentuk paket maupun dalam kotak kado untuk acara-acara khusus.
Namun, baru-baru ini ia mulai menjual kue-kue buatannya di lebih dari 1.000 toko di seluruh negeri.
“Saya senang menjadi bos bagi diri saya sendiri,” ungkap Divitto.
Tidak mau berhasil sendirian, Divitto turut mempekerjakan penyandang disabilitas lainnya agar mereka juga bisa mendapatkan uang dan hidup mandiri seperti dirinya.
Divitto juga memulai sebuah lembaga nirlaba yang menyediakan lokakarya, pelatihan, dan kepemimpinan, baik bagi penyandang disabilitas maupun tidak.
Divitto juga kerap menjadi pembicara di seluruh negeri untuk memotivasi dan menginspirasi orang lain, sambil berbagi pesan bahwa semua orang bisa sukses tidak peduli berapa kali orang lain mengatakan tidak.
“Sejujurnya saya berpikir bahwa mungkin itulah mengapa Tuhan menempatkannya di bumi ini, yaitu untuk meningkatkan standar bagi orang-orang untuk berpikir di luar kebiasaan. Bagi para guru untuk meningkatkan standar bagi anak-anak ini, dan bagi para pemberi kerja untuk mulai berpikir bahwa mereka harus benar-benar terbuka dan tidak hanya berbicara mengenai inklusi, tetapi juga benar-benar membuka diri dan mempekerjakan para penyandang disabilitas,” tutup Alfredo.

