Sumber : Independensi

Sumber Gambar : Gates Notes

Penulis : Grace Kolin

Ketika duduk di bangku sekolah menengah, Sudha Varghese perempuan asal India menemukan foto yang mengubah hidupnya di sebuah halaman majalah. Foto itu adalah foto gubuk reyot di pinggir jalan, yang terletak di negara bagian Bihar. Di bawah foto tersebut tertera keterangan, “Disinilah beberapa keluarga termiskin di India tinggal”.

Foto itu telah mengetuk pintu hati Sudha. Sudha tidak pernah membayangkan hidup dalam keadaan seperti itu, karena sejak kecil ia sudah dibesarkan dalam keluarga yang berada di Kerala, India. Ia berpikir harus berbuat sesuatu untuk menolong kaum prasejahtera, dan ia telah memutuskan bahwa dialah yang akan melakukannya. “Saya mengerahkan segala upaya, segala sumber daya, segala waktu saya, segala cinta saya dan apapun yang saya miliki. Semuanya akan saya dedikasikan pada kaum prasejahtera yang membutuhkan,” kata Sudha.

Sayangnya, keluarga Sudha tidak mendukung rencananya. Namun, Sudha tak lantas menyerah. Ia bergabung dalam tatanan agama, menjadi suster Katolik, dan mulai melakukan kegiatan amal. Beberapa tahun kemudian, karena  merasa kecewa belum bisa membantu banyak kaum prasejatera, Sudha pun pindah ke Bihar dan hidup bersama komunitas yang pernah ia lihat di foto majalah.

Orang-orang yang hidup disini disebut dengan Musahar. Musahar artinya adalah “pemakan tikus”. Dalam sistem kasta India, mereka dipandang sebagai “yang tak tersentuh”. Mereka tidak bisa memiliki tanah sendiri dan bekerja sebagai buruh tani yang dibayar rendah. Rata-rata, para Musahar hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersekolah.

Sudha pun memohon pada penduduk Musahar untuk memberikannya tempat tinggal. Penduduk Musahar menawarkannya sebuah gudang gandum. Mulai dari sana, pekerjaan seumur hidup Sudha dimulai untuk meningkatkan kehidupan penduduk Musahar.

Sudha mencurahkan segenap perhatian dan usahanya pada kaum perempuan Musahar karena kaum ini telah banyak menderita akibat diskriminasi dan kekerasan. Sudha bekerja bersama mereka agar mereka bisa berdiri untuk memperjuangkan haknya. Ia membantu mereka untuk mendapat pompa air tangan agar mereka bisa mengakses air bersih. Ia juga memotivasi mereka untuk meminta upah kerja yang lebih tinggi.

Sudha mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi perempuan Musahar adalah bagaimana mereka datang untuk melihat diri mereka sendiri. Ketika memasuki ruangan, mereka selalu melihat ke bawah dan mengambil posisi duduk di belakang. Mereka berpikir bahwa mereka tidak layak untuk dihargai, kata Sudha.

Bagi Sudha, mengubah cara pandang adalah hal yang tidak mudah. Dan ketika ia bisa bekerja dengan perempuan dewasa, ia merasa akan lebih penting jika ia juga bisa bekerja dengan anak perempuan. Mereka butuh edukasi di sekolah, mereka dapat terbantu untuk mendefenisikan ulang gambaran diri mereka dengan mempercayai bahwa mereka punya potensi yang hebat.

Sekolah tersebut tidak pernah ada, sehingga Sudha memutuskan untuk membuka sekolah sendiri. Ia menamakan sekolahnya dengan Prerna, yang artinya “inspirasi” dalam bahasa Hindi.

Prena school menawarkan mata pelajaran membaca, matematika, sejarah dan sains. Namun Sudha juga ingin agar murid-muridnya bisa belajar bagaimana bisa berdiri sendiri dan merasa percaya diri. Jadi, ia juga menambahkan karate dalam kurikulum sekolahnya. Anak perempuan dibekali dengan kemampuan bela diri. Hebatnya, beberapa dari anak didiknya bahkan sudah pernah mengikuti kejuaraan pertandingan karate dunia di Jepang.

Sudha juga mengajari muridnya dengan yoga, menggambar, melukis, dan menyanyi. Tujuannya untuk menciptakan perempuan yang berpengetahuan luas dan siap untuk menggapai mimpi mereka. Diketahui, ada lebih dari 5.000 perempuan yang telah lulus dari programnya.  

Pada masa pandemi Covid-19, sekolah Sudha, seperti sekolah pada umumnya di India, dipaksa untuk tutup selama beberapa bulan. Sudha dan guru-guru lainnya mencoba untuk dekat dengan muridnya sebisa mungkin melalui kelas daring, meskipun banyak anak perempuan yang tidak memiliki akses terhadap gawai. Mereka sedang dalam proses untuk menjalankan pembelajaran tatap muka kembali pada tahun ini.

Sudha juga menjalankan Nari Gunjan (suara perempuan), sebuah organisasi nonprofit yang menyediakan edukasi, literasi, pelatihan vokasi, pelayanan kesehatan, dan kemampuan hidup untuk perempuan dewasa dan anak perempuan di Bihar.

Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mengembangkan komunitas mereka. Beberapa keluarga masih hidup di bawah garis kemiskinan dan dikucilkan. Namun, berkat sekolah Sudha dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah Bihar, anak perempuan Musahar pun dapat menggapai impian mereka dalam belajar menjadi dokter, insinyur, bahkan pengacara untuk memimpin komunitas mereka.

Jika seorang fotografer berkunjung ke Bihar pada hari ini, potret gubuk reyot di pinggir jalan yang Sudha lihat beberapa dekade lalu, tidak akan lagi terekam dalam kisah Musahar. Apa yang akan terekam adalah sebuah potret dari lulusan muda dari sekolah Sudha. Gambar itu akan menunjukkan mereka yang sedang mengangkat topi mereka tinggi-tinggi dan menatap lurus ke arah lensa kamera. Mengundang semua orang yang pernah meragukan diri mereka untuk percaya akan potensi mereka.

Sumber : www.gatesnotes.com