Ilustrasi cedera tulang ekor (Foto: TikTok/@azera5276)
Seorang anak pengidap cerebral palsy di Malaysia bernama Iqa mengalami patah tulang ekor akibat aksi usil teman sekolahnya yang menarik bangku Iqa saat dirinya akan duduk.
Belakangan ini kisah Iqa banyak menarik perhatian warganet. Sang ibu pun membagikan kisahnya melalui akun TikTok @azera5276.
“Perkara yang ditakuti, kakak Iqa jatuh disebabkan kawan tarik kerusi ketika di sekolah,now kena bedridden selagi tidak sembuh ..Allah …semua pihak perlu diingatkan tentang bahayanya gurauan begitu…sekarang kami yang alami ujian ini…doakan kakak iqa cepat sembuh….AAMIN,” ujar sang ibu dalam media sosialnya, Selasa (31/10).
Iqa sendiri merupakan pengidap cerebral palsy atau lumpuh otak. kondisi ini, menyebabkan Iqa mengalami gangguan motorik, seperti gerak refleks yang berlebihan, postur tidak normal, mata juling, dan sebagainya.
Iqa yang menjadi korban keusilan temannya, kini harus duduk di kursi roda dan menjalani perawatan rutin di rumah sakit.
Cedera Tulang Ekor
Tulang ekor merupakan struktur tulang berbentuk segitiga yang merupakan tulang terkecil pada tubuh dan terletak di ujung bawah tulang belakang.
Tulang ekor terdiri atas 3-5 segmen tulang yang ditahan oleh sendi dan ligamen. Mayoritas cedera tulang ekor terjadi pada wanita karena panggul wanita lebih luas dan tulang ekor lebih terbuka.
Spesialis Ortopedi dr. Nadia Nastassia Ifran, Sp.OT. menjelaskan, seseorang yang mengalami cedera tulang ekor akan mengalami gejala berupa rasa nyeri pada bokong yang menyebar ke paha dan kaki.
Kemudian diikuti dengan memar dan bengkak pada area tulang ekor atau punggung bagian bawah. Terkadang pasien juga mengalami kesulitan buang air besar, serta membungkuk dan mengangkat barang.
“Hal yang dirasakan saat cedera tulang ekor adalah nyeri, perasaan tidak nyaman, sakit. Nyerinya hampir terus menerus, tapi paling sakit kalau duduk di tempat yang keras, atau kalau duduk senderannya ke belakang karena kan dia tumpuannya di belakang. Jadi kalau menyeder ke belakang makin menumpu ke tulang ekor,” ujar Nadia dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, dikutip Selasa (31/10).
Meskipun penyembuhannya lambat, tetapi sebagian besar cedera tulang ekor dapat ditangani dengan perawatan yang hati-hati.
Penyebab Cedera Tulang Ekor
Sebagian besar cedera tulang ekor disebabkan oleh trauma pada area tulang ekor. Selain itu, beberapa penyebab lain dari cedera tulang ekor adalah sebagai berikut.
Jatuh dalam posisi duduk di atas permukaan yang keras, terkena pukulan langsung ke tulang ekor, melahirkan, peregangan atau gesekan yang berulang-ulang terhadap tulang ekor, taji tulang, kompresi akar saraf, cedera pada bagian lain tulang belakang, infeksi lokal, dan tumor.
Gejala Cedera Tulang Ekor
Rasa sakit dan nyeri yang dirasakan di area tulang ekor, memar, kesulitan buang air besar, rasa sakit ketika berhubungan, dan sebagainya.
“Keluhan pertama pasti nyeri karena tulang ekornya tidak ada saraf, biasanya jarang ada keluhan sarafnya. Jika ada keluhan saraf seperti kesemutan, baal, atau nyeri menjalar, kita harus curiga ada cedera pada tulang punggung di atasnya,” kata Nadia.
Perawatan Cedera Tulang Ekor
Ada beberapa perawatan cedera tulang ekor yang bisa dilakukan pasien cedera tulang ekor, yakni sebagai berikut.
1. Perawatan di Rumah
Perawatan di rumah bertujuan untuk mengendalikan rasa sakit dan menghindari iritasi lebih lanjut pada area tersebut.
Hindari duduk dalam jangka waktu yang lama. Saat duduk, hindari duduk di permukaan yang keras dan duduklah secara bergantian di setiap sisi bokong. Selain itu, condongkan tubuh ke depan dan arahkan berat badan menjauhi tulang ekor.
Untuk cedera traumatis, tempelkan es pada area tulang ekor selama 15-20 menit, empat kali sehari, selama beberapa hari pertama setelah cedera.
Gunakan bantal untuk duduk karena memiliki lubang di tengahnya untuk mencegah tulang ekor menyentuh permukaan yang rata. Kemudian, makanlah makanan tinggi serat untuk melunakkan tinja dan menghindari sembelit.
2. Perawatan Medis
Dokter bisa meresepkan obat pereda nyeri, pelunak feses untuk mencegah sembelit, menyuntikkan anestesi lokal, mobilisasi langsung tulang ekor melalui rectum, atau bahkan pengangkatan tulang ekor melalui pembedahan.

