Assyifa Salsabila Balqis (Foto: Media Tzu Chi)
Setelah lama dinanti, Tzu Chi Hospital, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, melakukan transplantasi sumsum tulang pertama bagi pasien anak pengidap talasemia beta mayor.
Tzu Chi Hospital membuka lembaran sejarah baru, dengan mulai melakukan proses awal dari serangkaian proses transplantasi sumsum tulang bagi Assyifa Salsabila Balqis (11), pasien talasemia beta mayor.
Mengutip dari situs Yayasan Buddha Tzu Chi, selama ini proses transplantasi sumsum tulang pada pasien anak (talasemia atau leukimia) hanya bisa dilakukan di luar negeri.
Melalui penanganan tim dokter, perawat, analis lab, farmasi, dan staf lainnya yang sudah terlatih secara profesional, layanan ini pun memberikan harapan baru bagi kesembuhan anak-anak yang mengalami kelainan darah seperti talasemia atau keganasan darah seperti leukimia.
Syifa merupakan pasien talasemia beta mayor yang saat ini tengah menjalani rangkaian proses transplantasi sumsum tulang di Tzu Chi Hospital.
Syifa akan mendapatkan donor sumsum tulang dari adiknya sendiri, Sultan Muhammad Alfatih (6) yang kecocokannya full match atau 100%.
Saat ini Syifa sudah masuk ke ruangan steril bernama Bone Marrow Transplant (BMT)/Transplantasi Sumsum Tulang, sejak Minggu (12/12).
Salah satu anggota tim medis yang menangani Syifa, dr. Christopher Khorazon, menjelaskan saat Assyifa saat sudah di dalam ruangan BMT, Assyifa akan banyak masuk obat-obat yang memiliki efek kuat dan berjumlah banyak.
“Kemudian karena di dalam dia istilahnya mendapatkan obat-obatan banyak itu dan akan menjalani jangka panjang pongobatannya bisa sampai 3-6 minggu, itu dia akan juga akan dilakukan pemeriksaan darah rutin,” ujar dr. Christopher dikutip dalam keterangannya, Rabu (13/12).

(Fatih, donor Syifa)
Diagnosa Awal
Syifa merupakan anak dari pasangan Gerry Juliansyah (34) dan Kiki Kurnia Dewi (34). Gerry sendiri, adalah seorang dokter umum yang bekerja di Perkebunan Katayang Estate milik Sinar Mas di Kalimantan Tengah, selama lima tahun terakhir.
Tidak hanya itu, Gerry juga telah menjadi relawan tim medis Tzu Chi (Tzu Chi International Medical Association/TIMA) yang aktif di berbagai misi kemanusiaan yang digalakkan Tzu Chi Cabang Sinar Mas.
Syifa pertama kali diketahui mengidap talasemia beta mayor pada Oktober 2022 di Rumah Sakit Hermina Palembang. Keluarga ini memang berasal dari kota Palembang, Sumatra Selatan.
Sejak Gerry bekerja di klinik perkebunan Sinar Mas di Kalimantan Tengah, keluarga ini pun pindah ke Kalimantan Tengah. Namun, di tahun ke-4 Syifa yang sebelumnya pernah bersekolah di Palembang pun meminta ingin kembali dan tinggal di Palembang.
Melihat Syifa yang bersikeras meminta pulang ke Palembang. Gerry dan Kiki pun tak kuasa menolak keinginan si sulung. Rupanya ada hikmah di balik keinginan kuat Syifa untuk kembali ke Palembang karena tak begitu lama, terungkap jika Syifa mengidap talasemia.
“Setelah tahu oh ternyata jalan Tuhan itu begini. Kalau kami tetap tinggal di area kebun, susah aksesnya. Terus di Palangkaraya belum ada dokter hematologi spesialis anak, konsultan hematologi belum ada, harus ke Banjarmasin. Akses ke Banjarmasin jauh, 11 jam,” ungkap Kiki.
Ketika Syifa ketahuan mengidap talasemia, dokter pun menyarankan agar semua keluarga menjalani pemeriksaan (screening). Betapa terkejutnya Gerry dan Kiki saat mengetahui ternyata bukan hanya Syifa saja yang mengidap talasemia, tetapi juga Khanza, anak keduanya. Sebuah pukulan yang sangat berat bagi keluarga ini.
Kiki mengaku, “Sampai berapa bulan itu saya belum bisa berdamai dengan kenyataan.”
Kondisi finansial Gerry yang baru membaik selama beberapa tahun terakhir pun kembali mendapatkan cobaan, ketika harus membayar biaya operasi transplantasi sumsum tulang untuk Syifa.
Walaupun kedua anaknya mengidap talasemia, tetapi Gerry memfokuskan pengobatan untuk Syifa terlebih dahulu. Salah satu alasannya, adalah karena Syifa sudah menemukan donor yang cocok, yakni Fatih.
Meski demikian, baik Khanza maupun Syifa tetap rutin menjalani transfusi darah setiap dua pekan sekali yang di-cover oleh layanan BPJS Kesehatan dan menebus beberapa obat menggunakan dana pribadi.
Sebagaimana diketahui, pasien talasemia beta mayor memang memerlukan transfusi darah secara rutin seumur hidup. Namun, transfusi darah ini sifatnya hanya sebagai terapi gejala, seperti tambal sulam yang dia tidak menyembuhkan kondisi talasemia, tetapi hanya melengkapi darah yang kurang.

Bantuan dari Tzu Chi
Setelah mengetahui kondisi putrinya, Gerry berupaya untuk melakukan yang terbaik bagi kesembuhan kedua putrinya, termasuk mengajukan bantuan melalui Tzu Chi Cabang Sinar Mas.
“Jadi ngobrol lah sama (relawan) Tzu Chi Cabang Sinar Mas, ‘Saya kira-kira bisa enggak dibantu, saya memang kalau mau dibilang orang yang tidak berkecukupan mungkin tidak masuk kategorinya. Tapi kalau untuk masalah transplantasi kayak gini saya mungkin untuk dananya tidak mampu.’ Dari perusahaan, dari Tzu Chi Cabang Sinar Mas positif tanggapannya,” kisah Gerry.
Gerry menambahkan, “Sampai sekarang ini kami banyak-banyak bersyukur bertemu Tzu Chi, tidak semua orang bisa kayak gini, mendapatkan pertolongan ini.”
Gerry dan Kiki benar-benar bersyukur karena bisa sampai di titik ini. Apalagi, biaya transplantasi sumsum tulang yang dijalani Syifa mendapatkan bantuan dari Tzu Chi Indonesia, Tzu Chi Cabang Sinar Mas, serta Tzu Chi Hospital.
“Banyak terima kasih. Saya merasa beruntung berjodoh dengan Tzu Chi. Pertama dengan Tzu Chi Sinar Mas karena saya kerja di Sinar Mas, saya bisa tahu mengenai Tzu Chi. Kami merasa sangat beruntung,” kata Gerry.
Pada saat yang sama, sang istri, Kiki, juga turut terharu dengan bantuan yang diperoleh untuk mengobati sang buah hati.
“Saya enggak bisa ngomong apa-apa saking terharunya. Terima kasih, saya sampai pernah bilang ke dokter, ini pahalanya banyak banget, ya. Terima kasih, semoga Allah swt. balas semua kebaikan. Tulus dari hati. Kalau ucapan terima kasih itu tidak cukup yang jelas kami bersyukur banget bisa dibantu dengan pelayanan yang sangat-sangat bagus dengan fasilitas yang sangat-sangat memadai,” sambung Kiki.

Prosedur Pemeriksaan Pasien
Sebelum masuk ke ruang BMT, sehari sebelumnya Syifa terlebih dulu menjalani operasi pemasangan kateter khusus yang ditanam di area dada samping lehernya. Kateter ini berfungsi untuk memasukkan obat dan mengambil darah.
Pemeriksaan darah tersebut, bisa dilakukan setiap 1 atau 2 hari sekali. Pada pesien anak, pemeriksaan dilakukan selama 1,5 bulan, dengan intensitas pengambilan setiap 2 hari sekali,
“Oleh karena itu, fungsi kateter juga membantu supaya pengambilan darahnya mudah dan tidak melukai pasien. Selain itu untuk memasukkan obat dengan dosis tinggi dan pekat pun tidak akan bermasalah. Operasi pemasangan kateter khusus yang bernama Kateter Hickman ini pun dilakukan oleh dokter bedah toraks, kardiak, dan vaskular,” tutup dr. Christopher.

