Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi rabies (Foto: jarun011 via Getty Images)

Hidrofobia adalah ketakutan berlebihan terhadap air. Ini merupakan salah satu gejala infeksi rabies yang sudah ganas.

Belum lama ini, beredar sebuah video yang menunjukkan seorang anak perempuan kejang-kejang saat akan minum air. Anak itu dilaporkan dalam kondisi terinfeksi rabies setelah digigit anjing peliharaannya.

Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat pada manusia dan hewan berdarah panas.

Rabies disebabkan oleh virus Lyssavirus dari golongan Rhabdoviridae yang ditularkan melalui air liur atau saliva anjing, kucing, kera yang kena rabies, dengan jalan gigitan atau melalui luka terbuka.

Spesialis Penyakit Dalam dr. Fitrinilla Alresna, Sp.PD., menjelaskan, virus rabies bisa bersembunyi di belakang sel saraf.

Jadi pada awal infeksi, virus rabies tidak dikenali oleh daya tahan tubuh. Barulah ketika masuk ke dalam fase infeksi selanjutnya virus tersebut langsung menerobos ke barier otak.

Maka dari itu, pasien yang terkena rabies umumnya berhalusinasi dan ketakutan. Ini karena, virus rabies telah masuk ke sistem saraf pusat.

“Nah, kalau sudah menginfeksi ke sistem saraf pusat, obat apa pun itu jarang yang mampu untuk melewati bariernya. Jadi tidak ada pengobatan spesifik, biasanya hanya dalam hitungan 14 hari pasien bisa meninggal,” ujar dr. Fitrinilla dikutip dari kanal YouTube DAAI Family, Selasa (20/6).

Masa inkubasi virus rabies umumnya berbeda-beda pada setiap pasien, tetapi biasanya terjadi dalam waktu 1 sampai 3 bulan. Mulai dari tergigit sampai menimbulkan gejala.

Biasanya, gejala rabies yang muncul dalam satu minggu pertama termasuk ke dalam gejala ringan. Misalnya, seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, sampai mati rasa di daerah gigitan.

Setelah itu, gelaja rabies masuk ke fase gangguan saraf akut. Pada saat ini, pasien bisa mulai berhalusinasi, ketakutan, hidrofobia atau takut air, lalu ada kelemahan atau paralysis dari anggota gerak tubuhnya. Fase selanjutnya, gejala pasien bisa semakin parah, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Bisa dibilang, hidrofobia terjadi pada tahap akhir infeksi virus dan menyebabkan kejang yang tidak disengaja dan menyakitkan di tenggorokan yang terjadi saat pengidapnya minum, atau berpikir untuk minum air.

Hal itu mengakibatkan pengidapnya merasa ketakutan, atau panik yang ekstrem saat ia melihat, merasakan, mengecap, atau mendengar air. Antisipasi rasa sakit dan ketidakmampuan untuk menelan kemungkinan besar juga akan menyebabkan orang dengan hidrofobia menolak untuk minum air.

Rabies mengubah produksi air liur, menyebabkan tubuh menghasilkan lebih banyak air liur. Namun, karena hidrofobia menyebabkan kejang yang menyakitkan saat menelan, pengidap menjadi enggan menelan kelebihan air liur.

Akibatnya, kelebihan air liur yang mereka hasilkan tidak bisa ditelan atau dihilangkan dengan air minum, sehingga tetap berada di mulut mereka atau menyebar ke sekitarnya. Hal itu meningkatkan kemungkinan penyebaran virus rabies.

Seseorang dengan hidrofobia juga bisa mengalami gejala aerofobia, yaitu rasa takut yang ekstrem terhadap udara segar. Ini karena, menghirup udara bisa menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang sama dengan yang disebabkan oleh hidrofobia.

Meski demikian, tidak semua orang yang terinfeksi rabies akan mengalami hidrofobia. Pasalnya, fobia ini adalah gejala virus yang hanya berkembang selama tahap infeksi selanjutnya.

Jika pengidap rabies menerima perawatan efektif yang berhasil mengobati infeksi, pasien tersebut tidak akan mengalami hidrofobia.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: