Stereotip gender pada warna pink dan warna biru.

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

The Little Prince(ss) adalah salah satu film pendek yang dirilis dalam Launchpad Series dari Walt Disney. Alur ceritanya berkisah seputar pertemanan Gabriel Wang dan Rob Chen. Gabriel menyukai warna pink, sebuah warna yang jarang dipakai laki-laki karena dianggap feminim. Selera warna Gabriel membuat Ayah Rob curiga, karena teman anaknya ini tidak seperti laki-laki biasanya. Ayah Rob merasa laki-laki tidak sepantasnya menyukai hal-hal feminim.

Kisah film tersebut menggambarkan kuatnya stereotip gender yang melekat pada warna tertentu. Misalnya, warna merah muda yang identik dengan perempuan dan biru yang identik dengan laki-laki. Sebenarnya, sejak kapan kedua warna tersebut ‘memiliki gender’?

Mengutip dari laman britannica.com, pada pertengahan abad ke-19, warna-warna pastel digunakan untuk pakaian bayi, termasuk biru dan merah muda. Namun, kedua warna tersebut belum diidentikkan dengan jenis kelamin tertentu.

Pada awal abad ke-20, beberapa toko mulai menyarankan warna yang sesuai dengan jenis kelamin, dimana warna biru ditujukan untuk anak perempuan dan warna pink untuk anak laki-laki. Alasannya karena pink dianggap sebagai warna yang kuat dan maskulin, sementara biru dinilai warna yang lebih feminin. Biner warna tersebut tetap berlaku pada 1940 hingga 1950.

Lalu pada tahun 1940, tepatnya setelah Perang Dunia II anggapan soal warna pink untuk anak laki-laki dan biru untuk anak perempuan kemudian berubah alias berbalik. Para produsen pakaian menetapkan warna pink sebagai warna yang sempurna untuk perempuan dan warna biru untuk laki-laki agar lebih maskulin. Tidak hanya pakaian, pilihan warna ini juga menyebar berbagai benda lainnya. Seperti mainan, aksesori, cat kamar, tempat tidur, dan masih banyak lagi.

Tren biner warna pada pakaian anak-anak ini sempat mengalami penurunan pada pertengahan 1960-an dan 1970-an karena gerakan liberasi perempuan. Orang-orang yang mengambil bagian dalam gerakan ini berpikir bahwa mendandani perempuan dengan pakaian feminin akan membatasi peluang perempuan untuk sukses, sehingga banyak orangtua yang beralih ke warna yang lebih netral. Tidak lama kemudian, pada 1980-an, warna pakaian anak yang berorientasi pada gender kembali menjadi mode yang populer.

Itulah alasan mengapa warna merah muda identik dengan anak perempuan dan biru untuk anak laki-laki. Terlepas dari kedua warna ini, saat sudah banyak orang tua yang menggunakan pakaian berwarna netral bahkan beragam warna lainnya untuk anaknya. Bagaimana dengan Anda?

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber