Ilustrasi pendarahan otak (Foto: metamorworks via Getty Images)
Pendarahan otak adalah kondisi medis yang terjadi ketika pembuluh arteri dalam otak pecah dan menyebabkan masuknya darah ke dalam jaringan otak.
Kondisi pendarahan otak perlu mendapatkan penanganan yang tepat karena berisiko menimbulkan komplikasi serius, seperti gangguan fungsi kognitif hingga kelumpuhan.
Spesialis Bedah Saraf dr. Adel Mousavi, Sp.BS., menjelaskan, otak adalah pusat perintah dari keseluruhan aktivitas tubuh.
“Jadi otak itulah yang akan menerima input atau informasi dari semua panca indera kita untuk diproses. Otak jugalah yang mengatur seluruh aktivitas pergerakan dari tubuh kita sendiri, baik itu yang kita sadari maupun tidak disadari, seperti gerakan tangan, bicara, hingga denyut jantung,” ujar dr. Adel dikutip dari kanal YouTube DAAI Family, Jumat (14/7).
Jika otak tidak berfungsi atau mengalami kerusakan, fungsi tubuh akan menurun atau sama sekali tidak berfungsi.
Bagian Otak
Menurut dr. Adel, bagian otak secara garis besar terbagi menjadi tiga, yakni otak besar, otak kecil, dan batang otak. Otak besar punya fungsi luhur (higher cortical function) yang mengatur proses berbicara, memahami informasi, bergerak, emosi, dan sebagainya.
Otak kecil lebih mengatur fungsi koordinasi dan keseimbangan. Seperti menjaga keseimbangan tubuh, bagaimana seseorang bisa berjalan lurus, dan sebagainya. Kemudian, batang otak mengatur fungsi vital (vital function) seperti denyut jantung, pernapasan, tekanan darah, semuanya diatur oleh batang otak.
“Kinerja ketiga bagian otak ini saling terkoneksi jadi enggak bisa terpisahkan,” jelas dr. Adel.
Penyebab Pendarahan Otak
Pendarahan otak bisa mengakibatkan kerusakan atau gangguan fungsi pada area spesifik otak tersebut. Secara umum, ada dua faktor yang bisa menyebabkan pendarahan otak, yakni faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal yang bisa menyebabkan pendarahan di otak adalah kecelakaan yang menyebabkan benturan langsung dari kepala, jatuh saat naik motor, tertimpa sesuatu, sampai konsumsi obat pengencer darah. Hal tersebut bisa menyebabkan adanya robekan atau pecahan dari pembuluh darah otak.
Di sisi lain, faktor internal yang bisa menyebabkan atau meningkatkan risiko pecahnya pembuluh darah otak, adalah hal-hal yang bisa menyebabkan kerapuhan atau perubahan struktur dari pembuluh darah otak. Misalnya, seperti riwayat penyakit hipertensi, diabetes melitus, gangguan ginjal, sampai riwayat penyakit jantung.
“Hal tersebut bisa mengakibatkan adanya kerusakan pembuluh darah otak, sehingga menyebabkan dia pecah,” ungkap dr. Adel.
Selain faktor eksternal dan faktor internal, hal lain yang menyebabkan pembuluh darah rentan pecah adalah usia pasien.
dr. Adel menyebutkan, ada dua usia yang rentan terkena perdarahan atau gangguan pembuluh darah otak, yaitu usia sangat muda atau usia sangat lanjut usia. Ini karena, saat berusia muda pembuluh darah belum terbentuk dengan baik. Sebaliknya, saat berusia tua pembuluh darah lebih rapuh.
Gejala Pendarahan Otak
Gejala yang paling sering dialami pasien penderita pendarahan otak adalah nyeri kepala yang belum pernah dirasakan sebelumnya, bahkan terkadang bisa berulang. Bisa juga nyeri kepala yang disertai dengan muntah dan sangat mual, atau bahkan nyeri kepala yang menyebabkan penurunan kesadaran.
Gejala lainnya, terjadi bergantung dari lokasi terjadinya perdarahan. Misalnya, jika pasien mengalami perdarahan pada area yang mengatur gerak, maka pasien berisiko kesulitan bahkan tidak bisa bergerak.
Jika mengalami kondisi ini, pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit dan melakukan sejumlah tes untuk memastikan kondisinya.
Penanganan Pendarahan Otak
Jika pasien tidak sadarkan diri, penanganan pertama yang bisa dilakukan adalah menjaga jalan napas dan menambah suplai oksigen, untuk menstabilkan kondisinya.
Kedua adalah mengontrol penyebab pendarahan otak. Kata dr. Adel, “Penyebabnya harus dikontrol juga karena kalau kita hanya fokus terhadap perdarahan otaknya, tetapi penyebabnya tidak ditangani, nanti kemungkinan besar dia bisa pendarahan lagi.”
Ketiga adalah mengontrol pendarahannya sendiri dengan beragam terapi. Terapi yang disarankan bergantung dari hasil tes yang dilakukan oleh pasien. Mulai dari jumlah perdarahan, lokasi pendarahan, dan seberapa parah kondisi pasien.
Cara Menjaga Kesehatan Otak
Pertama, melakukan kegiatan yang melatih otak dengan sering mengulang kegiatan yang kerap dikerjakan. Hal paling sederhana untuk melatih otak, adalah dengan membaca dan mengerjakan kuis untuk memaksa otak kita terbiasa berproses.
Kedua, hindari merokok atau kegiatan yang bisa merusak tubuh. Menghindari kebiasaan merokok bisa membantu memelihara kesehatan otak.
Ketiga, membatasi asupan gula tambahan agar tidak berlebihan. Konsumsi gula secara berlebihan bisa menyebabkan diabetes melitus yang memperbesar potensi terjadinya gangguan pada ujung-ujung pembuluh darah, atau peradangan pembuluh darah.

