Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi bakcang (Foto: Chee Gin Tan via Getty Images Signature)

Bakcang atau bacang merupakan penganan yang terbuat dari beras atau ketan yang diisi dengan berbagai macam isian, dibungkus dengan daun bambu, dan dimasak dengan cara dikukus.

Bakcang berasal dari kata “bak” yang berarti daging dan “cang” yang berarti berisi. Jadi bakcang merupakan makanan berisi daging. Meski demikian, bakcang juga bisa diisi dengan aneka masakan lain seperti sayuran.

Makanan ini biasanya disantap pada Hari Bakcang, atau Festival Peh Cun, atau Duan Wu Jie (Hanzi: 端午節) yang jatuh pada hari kelima bulan kelima penanggalan lunar Tionghoa. Ini adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Tiongkok.

Hari Bakcang ini memiliki banyak istilah yang mana menurut merafisika China, Hari Bakcang merupakan hari saat energi keluar paling kuat, sehingga banyak yang menyebut dengan Festival Extreme.

Selain itu, Hari Bakcang juga dikenal dengan istilah lain, yakni Festival Bulan Kelima, Festival Hari Kelima, Festival Summer, Festival Duan Wu dan yang paling terkenal adalah Festival Perahu Naga atau Festival Dumpling.

Mengutip dari Binus University, tradisi Hari Bakcang atau Festival Peh Cun diadakan untung mengenang jasa Qu Yuan (340 SM-278S M) yang merupakan tokoh sejarah patriotik menteri negara Chu demi melawan agresi negara Qin. Tradisi Peh Cun ini, sudah ada sejak zaman Qun Chiu (722 SM–481 SM).

Menurut legenda, bakcang pertama kali muncul pada zaman Dinasti Zhou. Ketika Jenderal Qin berhasil menaklukan ibukota Chu, Bai Qi pada 278 SM, Qu Yuan merasa sangat sedih hingga akhirnya terjun kedalam Sungai Miluo.

Diceritakan bahwa bakcang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai, untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya agar tidak memakan jenazah Qu Yuan. Untuk kemudian, bakcang menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duan Wu.

Bakcang sendiri dipercaya mengandung arti dan harapan baik yang disimbolkan dalam bentuk limas segitiga dengan empat sudut. Masing-masing sudut mewakili sifat manusia, yaitu zhi zu, gan en, shan jie, dan bao rong.

Zhi zu, artinya merasa puas dengan apa yang dimiliki. Demikian pula kita sebagai manusia diharapkan tidak memupuk sifat serakah.

Gan en, artinya bersyukur. Di sini kita diajarkan untuk mengembangkan rasa syukur sebagai salah respon terhadap kebaikan yang terjadi dalam kehidupan kita.

Selanjutnya, shan jie yang artinya berpikiran positif. Disini kita diharapkan untuk selalu menjaga pikiran bersih dan positif, tidak memandang keburukan orang lain.

Terakhir adalah bao rong, yaitu merangkul. Maksudnya adalah kita sebagai manusia harus senantiasa mengembangkan sikap cinta kasih dan simpati kepada sesama yang membutuhkan.

Keempat makna yang tersirat dalam bakcang ini selaras dengan ajaran Buddha. Selain menjaga tradisi dan menjalin kekeluargaan, membuat bakcang ternyata punya makna yang mendalam.

Terlepas dari legenda Qu Yuan yang dianggap menjadi permulaan zongzi/bakcang, nyatanya makanan ini sudah muncul berabad-abad sebelumnya. Pada masa itu, orang-orang menyebutnya jiao shu atau nasi kukus berbungkus daun bambu.

Pada akhir masa dinasti Han Timur, orang-orang merendam nasi shu dengan rumput dan air abu dan menyebutnya dumpling air alkali. Pada dinasti Jin-lah, bakcang resmi dijadikan makanan tradisional menyambut festival perahu naga.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: