Fernando Tumangger (Foto: tiktok.com/@calonworangkaya)
Fernando Tumangger (21) bekerja sebagai petani sawit di perkebunan wilayah Aceh Singkil. Meski punya keterbatasan fisik, Nando rela bekerja demi membantu perekonomian keluarga.
Fernando atau yang akrab disapa Nando membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak membatasinya untuk membantu keluarga.
Paman Nando, Yuda, mengatakan, Nando lahir dengan kondisi fisik yang normal. Namun, saat masih bayi Nando pernah mengalami kejang demam atau step.
Kondisi ini membuat beberapa perubahan pada fisik Nando, yakni salah satu tangannya tidak bisa digunakan dengan normal dan salah satu pergelangan kakinya bengkok.
Tidak hanya fisik, kondisi mental Nando juga berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Sejak kecil, Nando kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain, termasuk keluarganya.
Yuda menjelaskan, keterbatasan tersebut membuat Nando kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan sekolah.
“Sebelumnya Nando waktu berumur 8 atau 9 tahun pernah masuk SD. Namun, karena keadaan Nando, orang tuanya ragu untuk lanjut menyekolahkan dia,” ujar Yuda kepada DAAI TV, dikutip Selasa (1/8).
Menurut Yuda, terkadang Nando merasa takut atau malas untuk masuk sekolah karena teman-teman sekolahnya banyak yang merundung Nando.
“Jadi saat itu dia hanya bersekolah selama enam bulan dan dia berhenti karena keadaan. Nalar dan mentalnya nggak nyambung (kalau diajak berbicara) sama guru. Dia juga di-bully sama teman-teman karena keadaanya. Jadi sering berantem, dia nggak sanggup lalu berhenti,” kata Yuda.
Setelah berhenti sekolah, sehari-hari Nando bekerja serabutan di lingkungan rumahnya. Mulai dari menjadi petani sawit, memanen buah, menjadi kuli bangunan, dan pekerjaan fisik lainnya.
Bukan tanpa alasan, Nando rela bekerja di tengah keterbatasan fisiknya karena ia harus membantu perekonomian keluarganya.
Yuda menjelaskan, orang tua Nando pernah bekerja sebagai kuli bongkar-muat di pabrik kelapa sawit. Namun, nahas orang tua Nando mengalami kecelakaan, sehingga harus berhenti bekerja.
“Setelah kecelakaan, orang tuanya hanya tinggal di rumah saja karena tidak bisa bekerja lagi. Hanya bisa tidur dan duduk di kursi roda,” lanjut Yuda.
Yuda menjelaskan, keluarga Nando sendiri sebenarnya juga memiliki kebun kelapa sawit sendiri. Namun, luasnya hanya setengah hektare dan penghasilan bersihnya belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga Nando beserta adik-adiknya.
Untuk itu, selain mengurus kebun kelapa sawit pribadinya, ibunda Nando juga bekerja di tempat lain untuk mencari penghasilan tambahan.
Sementara itu, Nando juga membantu bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan memberikan uang jajan untuk adik-adiknya yang masih bersekolah.
“Kalau komunikasi dengan Nando saat bekerja memang sulit, tetapi karena kami sudah saling kenal jadi kami mengerti apa yang dia maksud saat ngobrol. Kalau orang baru pasti bingung kalau mengajak ngobrol Nando. Kalau apa yang kita bilang ke dia, dia kadang ngerti, tapi jawabannya nggak nyambung,” jelas Yuda.
Selain memberikan uang jajan kepada adik-adiknya. Nando juga memberikan penghasilannya kepada orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Di tengah keterbatasannya, Nando memiliki cita-cita untuk menjadi petani sawit agar bisa terus memanen buah sawit dan membantu keluarganya.
Yuda berharap, Nando bisa memotivasi anak muda lainnya untuk bisa bekerja keras dan tidak mudah menyerah dengan keadaan.
“Kalau lihat anak-anak muda di desa kami banyak yang bully dia. Memang kalau orang-orang sini liat Nando kerja sudah biasa, tapi kalau dilihat dari jauh nggak wajar liat dia kerja begini. Banyak anak-anak muda yang normal di sini, tapi nggak ada yang mau kerja di sini. Nando semangatnya mantap sekali yang penting Nando dikasih gaji udah dia senang sekali, ke mana pun kita ajak dia pasti mau,” tutup Yuda.

