Duma Pardede (Foto: DAAI Magazine)
Duma Pardede merupakan seorang ibu tunggal yang mampu menghidupi keenam orang anaknya sendirian dengan berjualan kerajinan manik.
Duma yang tinggal di Plumpang, Jakarta Utara, telah mendedikasikan dirinya menjadi perajin manik-manik selama lebih dari 20 tahun.
Ketika sang suami meninggal dunia 24 tahun silam, Duma yang menjanda harus menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi anak-anaknya.
Tidak ingin terpuruk dengan keadaan, Duma pun belajar bagaimana cara menyulam manik-manik dari seorang temannya pada tahun 2000.
Menggunakan modal awal Rp25 ribu, Duma memulai peruntungannya dengan berjualan manik-manik yang ia rangkai menjadi banyak bentuk dan menggunakan beraneka warna.
Beberapa produk yang bisa dibuat Duma menggunakan manik-manik, adalah tas, wadah kotak tisu, hiasan pintu, dan rangkaian bunga.
Berhasil Menghidupi Keluarga
Hobi menyulam manik-manik ini pun membuahkan hasil. Pasalnya, produk buatan Duma banyak diminati karena harganya yang terjangkau.
Duma menjual produk buatannya dengan harga mulai dari Rp17.000-Rp300.000 sesuai dengan ukuran, bentuk, dan tingkat kesulitan produk.
Di dalam satu minggu Duma dan anaknya mampu menghasilkan sekitar 25 produk manik-manik dengan berbagai bentuk.
“Kalau dihitung, sih, (omzetnya) banyak, lah. Sewaktu di pameran itu kita dapat omzet Rp3 juta lebih,” ujar Duma dikutip dalam tayangan YouTube DAAI Magazine, Senin (4/12).
Perjuangan Duma pun tidak sia-sia karena hasil penjualan dari kerajinan manik ini, cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan anak-anaknya.

Suka Duka Selama Membuat Usaha
Tentunya diperlukan keuletan dan ketelitian ekstra dalam menganyam benang dan menyelaraskan manik-manik secara beraturan, sehingga menjadi suatu kreasi yang unik dan menarik.
Selain pembuatan produknya yang cukup rumit, ada beberapa kesulitan selama Duma menjalankan usaha manik-manik ini.
Salah satunya, adalah tertipu oleh orang yang berpura-pura ingin membantu menjualkan produk buatan Duma. Tidak hanya sekali, Duma mengaku sudah sering tertipu selama menjalankan usaha ini.
“Kadang-kadang ada teman yang bilang ingin membantu menjual. Setelah saya kasih (produknya) mereka tidak pernah kembali memberikan uangnya. Kalau mereka bilang produknya belum laku, saya diam. Enggak saya bakalan minta lagi (produknya), saya biarkan saja begitu,” kata Duma.
Meskipun produk kerap tertipu dan mengalami kerugian, tetapi Duma tetap legawa dan tidak menyimpan dendam.
“Tapi, ya, banyak juga teman-teman yang bantu jual (produk buatan Duma),” lanjutnya.
Mengidap Tumor
Tidak hanya menghidupi anaknya seorang diri, tetapi Duma juga harus berjuang melawan tumor leher yang diidapnya. Kondisi ini pun membuat Duma kerap kesulitan dalam membuat kerajinan manik seorang diri.
Melihat kondisi tersebut, Susy Leyla Diana yang merupakan anak kedua Duma, ikut turun tangan dalam membantu ibunya meneruskan usaha kerajinan manik.
Menurut Susy, hobi yang digeluti sang ibu bisa menjadi penunjang di hari tuanya dan membuat kondisi mentalnya dalam keadaan baik.
“Belakangan ini, aku bantu belanja manik ke kota. Kalau urgent banget, dia (Duma) enggak sabar, dia lari (belanja) sendiri. Tapi kalau dia sabar, ya sudah aku yang belanja,” ungkap Susy.

Berbagi Kepada Sesama
Duma berharap, di usia senjanya ini dirinya dapat menginspirasi masyarakat, khususnya para janda seperti dirinya untuk terus berdaya dengan menggali potensi diri lewat hobi.
Dengan demikian, mereka bisa mencukupi kebutuhan hidup dan mewariskan kepiawaiannya kepada anak dan cucunya.
Untuk mewariskan keterampilannya, Duma pun kerap memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ingin belajar menyulam manik. Semua ini dilakukan dengan gratis, bahkan tidak jarang Duma memberikan modal bagi mereka yang benar-benar berniat belajar.
“Kalau (usaha) ini, sih, biarkan saja nanti anak saya yang meneruskan. Kalau saya masih bisa (bekerja), saya buat. (Saya) sudah tua, enggak ada lagi harapan. (Saat mengajari orang) saya tidak pernah minta dibayar, malah bahkan ada yang saya modali. (Mereka) datang di ke sini, saya bawa dia belanja, saya belanjakan. (Saat bilang belum ada uang untuk mengembalikan modal, saya bilang), ‘Entar saja (uangnya), jual saja dulu. Baru kau nanti kasih aku,’ Kalau dia bayar (modal) saya syukur, (kalau) enggak juga gak apa-apa,” tutup Duma.

