Vaksin dengue sudah muncul di Indonesia | Foto: Canva
Pada Agustus 2023, Indonesia sudah mencapai lebih dari 57 ribu kasus dengan kasus kematian lebih dari 400. Bagaimana cara mencegah kasus DBD?
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang sudah tidak asing di Indonesia. DBD adalah sebuah penyakit yang terjadi karena virus dengue yang dapat ditularkan melalui gigitan dari nyamuk Aedes Aegypti.
Pada awalnya, gejala DBD seperti gejala flu atau demam biasa. Namun, jika terus dibiarkan dan tidak mendapatkan penanganan yang serius, DBD dapat menyebabkan kematian.
Oleh karena itu, Sahabat DAAI perlu mengenali gejala-gejala DBD sejak awal agar gejala tidak menjadi parah.
Kenali Gejala DBD
Mulanya, gejala DBD adalah demam tinggi, nyeri (pada bagian sendi, belakang mata), muncul bercak-bercak merah, dan tidak nafsu makan, sehingga tubuh terasa lemas. Pada gejala seperti ini, seseorang perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter.
“Demamnya sendiri ini dapat berlangsung dua hingga tujuh hari dilanjutkan adanya fase kritis, yaitu dua sampai tiga hari. Nah ini perlu kita perhatikan. Jadi di saat fase kritis demam menurun, rasanya badan juga lebih baik, tetapi ternyata sewaktu kita melakukan pemeriksaan trombosit kita sedang rendah. Jadi itu yang mesti diperiksakan lebih lanjut,” ujar dr. Nancy Indah Lestari Spesialis Penyakit Dalam dikutip dari tayangan YouTube DAAI Family, Kamis (18/1/2024).
Namun, gejala akan masuk ke dalam kategori darurat ketika demam diikuti dengan gejala lain, yaitu sesak napas, muntah-muntah, pendarahan, sakit perut parah, terdapat darah saat buang air besar dan buang air kecil.
Lansia yang terkena DBD membutuhkan perawatan yang khusus karena sebagian besar lansia memiliki penyakit penyerta (komorbid). Terlebih lagi risiko dari gejala DBD yang dapat menyebabkan pendarahan dan sesak napas.
“Nah, itu yang membuat kita harus berhati-hati. Banyak konsumsi obat lain yang sedang diminum oleh pasien tersebut. Kemudian, manifestasi-manifestasi yang dapat terjadi pada demam berdarah, seperti perdarahan, kemudian sesak napas. Infeksi sekunder, ditambah daya tahan tubuh yang menurun membuat seseorang lansia itu lebih rentan untuk mendapat kan infeksi sekunder dari demam berdarah,” kata dr. Nancy.
Situasi yang Rentan Terkena DBD
Mengutip dari Halodoc, pada penyakit DBD kelompok yang paling rentan adalah anak-anak dan kelompok dengan daya tahan tubuh atau imunitas yang rendah (termasuk lansia).
Di sisi lain, ada pula beberapa tempat yang paling disukai oleh nyamuk DBD. Di antaranya semak-semak tanaman, genangan dan/atau penampungan air, tumpukan barang, dan sudut ruangan yang gelap.
“Tempat endemis, DBD tentu kita harus lebih berhati-hati atau waspada. Nah, apabila ada tempat yang banyak genangan air, kemudian sanitasinya kurang begitu baik dan adanya gigitan nyamuk ya kita mesti berhati-hati,” jelas dr. Nancy.

Nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD | Foto: Canva
Vaksin DBD
Saat ini, pencegahan DBD bisa dilakukan dengan melakukan vaksin dengue terhadap individu yang belum pernah ataupun sudah pernah terkena DBD. Vaksin dengue terbukti ampuh menahan DBD 60% sampai 80%
“Jadi sudah pasti aman boleh untuk usia 6 sampai 45 tahun. Boleh juga untuk yang sudah pernah DBD ataupun yang belum. Nah, tapi hati-hati vaksin ini tidak boleh kalau misalnya kita ada alergi berat terhadap dosis pertama,” kata dr. Gerry dikutip dari tayangan YouTube Dr. Gerry & Miche, Kamis (18/1/2024).
Namun, terdapat beberapa kategori yang tidak disarankan untuk memperoleh vaksin dengue sebagai berikut.
- Individu dengan riwayat alergi berat (termasuk pada saat penerimaan dosis pertama mengeluarkan reaksi sesak napas tidak diperbolehkan untuk mendapatkan vaksin kedua);
- Ibu hamil ataupun ibu yang sedang menyusui (disarankan untuk menunggu terlebih dahulu);
- Individu dengan kelemahan imun (HIV ataupun AIDS).
Efek samping yang mungkin timbul dari vaksin dengue sebagai berikut.
- Infeksi saluran pernapasan;
- Pusing atau nyeri kepala;
- Demam;
- Batuk;
- Mual;
- Timbul ruam-ruam.
Vaksin dengue sudah tersedia di beberapa rumah sakit dan layanan kesehatan Indonesia, dengan kisaran harga sekitar Rp950.000 sampai dengan Rp1.750.000.
Perlu dicatat, pembelian vaksin dengue tidak ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
“Ini harus dibedakan, ya. Upaya untuk perorangan dengan upaya kesehatan masyarakat. Kalau upaya kesehatan masyarakat tentu itu sudah menyangkut menular dan publik, ya. Bagaimana sistem surveilans segala macam itu sebetulnya bukan tanggung jawab BPJS,” jelas Prof dr. Ali Ghufron Mukti Direktur Utama BPJS dikutip dari artikel IDX Channel.com.
Selain itu, ketika akan pergi mengunjungi tempat yang cenderung banyak nyamuk, lebih baik menggunakan pakaian yang lebih tertutup untuk menghindari risiko gigitan nyamuk.
“Jadi tetap memakai kaos lengan panjang, celana panjang, pakai lotion (anti nyamuk) semuanya untuk pencegahan di saat kita bepergian ke tempat yang memang lebih rentan untuk mengalami DBD,” tutup dr. Nancy.
Penulis: Kerin Chang
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

