Ilustrasi alzheimer (Foto: Robert Kneschke via Canva Pro)
Alzheimer adalah salah satu tipe demensia yang menyebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku.
Alzheimer merupakan salah satu penyakit degeneratif yang cukup sering dialami orang berusia lanjut, dengan persentase 60% sampai 80%.
Spesialis Saraf dr. Hananto Pratignyo, SpS., menjelaskan, sampai saat ini belum ada obat khusus untuk mengobati alzheimer.
“Biasanya alzheimer menyerang orang berusia lanjut atau di atas 65 tahun, tetapi bisa juga menyerang pasien di bawah usia 65 tahun, sehingga ini bukan penyakit masa tua. Seiring dengan berjalannya waktu, penyakit ini bisa semakin bertambah berat dan menyebabkan penurunan fungsi intelektual. Seseorang bisa dikatakan terkena alzheimer saat penyakit tersebut sudah mengganggu aktivitas fisik atau kehidupan sehari-hari,” ujar dr. Hananto dikutip dari kanal YouTube Bincang Sehati, Kamis (27/7).
Pasien yang mengidap alzheimer biasanya mengalami atrofi atau pengecilan volume otak dan kerusakan pada neuron otak.
Demensia dan alzheimer bukanlah dua hal yang berbeda. Pasalnya, alzheimer sendiri merupakan salah satu jenis dari demensia.
Tanda Alzheimer
Menurut dr. Hananto, di awal gejala alzheimer pasien mengalami gangguan memori. Biasanya, memori yang terganggu adalah memori yang baru saja terjadi.
“Misalnya tadi pagi sudah makan atau belum, lupa menyimpan suatu barang, sudah mengunci pintu atau belum, dan sebagainya. Awalnya memori yang baru-baru, tapi lama-kelamaan dia gangguan memorinya juga terkena yang memori jangka panjang,” kata dr. Hananto.
Meskipun jika pada akhirnya pasien Alzheimer bisa mengingat memori yang dilupakan, tetapi mereka akan cenderung mengalami gangguan emosi dan fungsi-fungsi kognitifnya. Hal ini tentunya bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penyebab Alzheimer
Sampai saat ini, kata dr. Hananto, penyebab alzheimer masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat pengendapan protein amiloid dan protein tau di dalam otak.
Kondisi tersebut menyebabkan pengiriman sinyal antara sel-sel otak terganggu. Akibatnya, sel-sel otak tidak berfungsi dengan baik dan mengalami kerusakan.
Faktor Risiko Alzheimer
Faktor risiko yang menyebabkan seseorang mengalami Alzheimer terbagi menjadi dua, yakni faktor yang bisa dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi.
Untuk faktor yang tidak dapat dimodifikasi, contohnya adalah berusia di atas 65 tahun, berjenis kelamin perempuan, serta faktor keturunan atau genetik.
Kemudian, faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah faktor risiko vaskular seperti riwayat penyakit hipertensi, diabetes, kolesterol, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol, dan sebagainya.
Komplikasi Alzheimer
Pasien dengan gangguan memori, biasanya juga mengalami gangguan emosi yang menyebabkan mereka menjadi gampang marah.
Kemudian, pasien tersebut juga berpotensi mengalami gangguan motorik, sehingga menjadi lebih beresiko untuk jatuh.
“Lalu pasien yang derajat demensianya yang sudah berat, dia tidak bisa mengurus diri sendiri. Makan pun dia harus dibantu, asupannya juga berkurang, jadi tidak bagus,” ujar dr. Hananto.
Beberapa komplikasi lain yang bisa dialami pasien Alzheimer adalah infeksi paru-paru, infeksi saluran kemih, sampai infeksi kulit.
Pengobatan Alzheimer
Penanganan utama penyakit Alzheimer adalah dengan pemberian obat-obatan. Obat yang diberikan, adalah untuk meredakan gejala dengan cara meningkatkan kadar zat kimia di otak.
Jenis obat-obatan yang bisa diresepkan oleh dokter, yaitu rivastigmine, donepezil, dan memantine.
Pasien alzheimer juga bisa melakukan psikoterapi untuk membantu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri. Jenis psikoterapi yang bisa diberikan untuk menangani penyakit Alzheimer, adalah stimulasi kognitif.
“Jangan lupa untuk selalu menjaga aktivitas fisik, melakukan diet yang sehat, melatih otak, dan rutin berolahraga sejak dini,” tutup dr. Hananto.

