Penulis: Grace Kolin
Persoalan buta huruf yang dialami masyarakat Desa Sukaluyu, Jawa Barat mengetuk empati Syarifudin Yunus untuk mendirikan Taman Baca Lentera Pustaka Indonesia. Lewat taman baca ini, ia ingin menyediakan sarana pembelajaran bagi anak-anak serta orangtua yang ingin belajar membaca.
“Sepengamatan saya, mereka sebagian besar itu banyak anak putus sekolah. Ini dibuktikan dengan data 81% dari tingkat pendidikan masyarakat memang hanya di SD gitu. Nah, ini disebabkan oleh apa? Karena disebabkan oleh tingkat mata pencaharian dari penduduk di wilayah ini 72% adalah tidak tetap. Inilah yang menjadi sebuah kendala di masyarakat lingkungan sini sehingga ada persoalan pendidikan, yang akhirnya tidak bisa lanjut sampai (minimal) atau SMA,” papar Syarifudin.
Menurut penuturan Syarifudin, dulunya Taman Baca Lentera Pustaka Indonesia sempat sepi peminat. Namun seiring waktu, taman baca ini pun mendapat animo yang cukup besar, khususnya dari kalangan anak-anak. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah anak yang datang membaca di taman baca ini, mulai dari 14 anak menjadi ratusan anak.
Sejauh ini, taman baca Lentera Pustaka Indonesia menyediakan 14 program literasi untuk anak-anak dan membuka kelas mengajar di rooftop. Tak ingin berpuas diri dengan keberadaan taman bacanya yang beroperasi secara on site, Yunus pun melakukan aksi jemput bola dengan berkeliling desa sambil mengendarai motor perpusnya. Warga sekitar pun menyambut baik kehadiran Yunus berkat dedikasinya yang begitu tinggi untuk pendidikan anak.
“Jadi motor baca keliling ini berangkat dari kegelisahan saya, betapa banyaknya daerah kampung-kampung yang belum punya akses buku bacaan. Sementara kalau taman bacaan kan dia statis, didatangi oleh anak-anak. Nah bagaimana dengan kampung-kampung yang jauh? Sehingga saya terpikirkan untuk membuat motor baca keliling, tujuannya adalah mengantarkan buku itu kepada anak-anak supaya anak-anak itu dekat dengan buku,” ucap Yunus.
Bagi Yunus, kesuksesan terbesarnya adalah mampu menggerakan anak-anak terbebas dari buta huruf. Ia menganggap pengabdiannya di taman baca Lentera Pustaka Indonesia sebagai Jalan Sunyi Kehidupan. “Karena itu tidak banyak orang peduli. Tidak banyak orang mau berkiprah disitu. Justru saya terbalik, saya mengabdi di taman bacaan,” pungkasnya.

