Kaligrafi Tiongkok

BPOM Temukan 9.262 Sampel Takjil Berbahaya| Foto: Radio Republik Indonesia

Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 9.262 sampel menu takjil yang mengandung bahan terlarang. Apa saja?

Saat bulan Ramadan, masyarakat akan bersama-sama mencari takjil untuk dimakan saat berbuka puasa. Menu-menu pangan olahan yang dijual saat bulan Ramadan bisa ditemukan di mana saja. 

Namun, siapa sangka kalau hal ini bisa mengkhawatirkan? BPOM baru saja menemukan sampel makanan yang menggunakan bahan-bahan berbahaya dan beredar di pasaran.

“Penjual takjil sangat banyak. Beberapa ada yang berpotensi bahaya pada pangan siap saji. Misalnya, (penggunaan) pewarna rhodamin B, formalin agar tidak mudah basi atau rusak, terutama pangan mengandung banyak air seperti agar-agar dan mi,” jelas Plt. Kepala BPOM Lucia Rizka Andalusia dikutip dari Antara, Rabu (3/4/2024).

 

Takjil yang Berpotensi Berbahaya

BPOM menjelaskan, hasil sampel pangan olahan yang telah diselidiki melibatkan 1.057 titik lokasi pengawasan dan setidaknya 3.749 pedagang takjil yang menggunakan bahan makanan berbahaya.

Berdasarkan 9.262 sampel yang sudah diperiksa, sebanyak 27,4% menu takjil mengandung boraks. Kandungan boraks banyak ditemukan pada menu takjil cilok, tahu, kerupuk, dan cendol.

Kemudian, sebesar 25,4% menu takjil mengandung rhodamin B. Kandungan ini ditemukan pada menu takjil cendol, pacar cina, mi pelangi, bubur mutiara, jenang merah, kerupuk pasir, dan jeli merah.

Di sisi lain, BPOM juga menemukan setidaknya 48% kandungan formalin dalam menu takjil tahu, cincau, agar-agar, dan mi kuning.

Terakhir, BPOM menemukan 0,98% kandungan metanil yellow (kuning metalin) pada menu tahu oranye.

“Senyawa ini bukan yang aman untuk dikonsumsi. Senyawa ini digunakan untuk pewarna tekstil bukan untuk pangan. Formalin bahkan (digunakan) untuk pengawet jenazah, bisa dibayangkan dampaknya pada manusia,” ujar Rizka.

 

Berbahaya untuk Kesehatan Tubuh

Mengutip dari Halodoc, kandungan formalin dalam makanan mampu menimbulkan masalah serius dalam kesehatan tubuh. 

Pada dasarnya, formalin adalah senyawa kimia yang digunakan untuk kayu perabotan rumah tangga. Formalin juga digunakan untuk pengawet jenazah, sehingga sangat berbahaya jika dikonsumsi.

Formalin dalam makanan bisa menyebabkan kanker, infeksi saluran pernapasan, masalah sistem pencernaan, dan masalah pada kulit.

Kandungan boraks merupakan salah satu kandungan yang perlu dihindari. Boraks adalah zat kimia yang biasanya digunakan pada cairan pembersih, pengawet perabotan, dan bahan pestisida.

Mengutip dari Alodokter, mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan boraks dapat memberikan masalah kesehatan yang serius. Bisa menimbulkan gejala muntah, diare, kemerahan pada kulit, nyeri perut, sakit kepala, dan pingsan.

Masalah serius yang ditimbulkan oleh boraks adalah kanker, tidak dapat mengeluarkan urine, kejang atau gangguan saraf, dan gangguan kesuburan.

Melansir dari Kompas.com, makanan atau minuman yang memiliki kandungan rhomadin B dan metalin yellow bisa memicu infeksi kandung kemih, kanker, dan gangguan pada fungsi hati.

Kedua pewarna makanan yang berbehaya ini bisa menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan.

“Kalau berat karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker. Kalau ringan, biasanya mual, muntah, dan pusing, seperti keracunan pada umumnya,” tambah Rizka

Ciri-ciri takjil yang berbahaya | Foto: Canva

Ciri Takjil yang Berbahaya

Mengutip dari CNN Indonesia, BPOM memberikan beberapa cara untuk mengenali makanan takjil dengan kandungan berbahaya.

“Boraks untuk pengenyal. Itu juga kadang dipakai di kerupuk agar susah melempem,” tutup Plt. Deputi Bidang Pengawas Pangan Olahan (BPOM)  Ema Setyawati dikutip dari CNN Indonesia.

Ema menjelaskan, boraks adalah kandungan berbahaya yang biasanya digunakan untuk membuat sebuah menu makanan menjadi lebih kenyal. 

Apabila kekenyalan dalam makanan terasa tidak wajar, maka kemungkinan besar menu telah diberikan boraks.

Selanjutnya, masyarakat harus lebih waspada pada takjil yang bisa bertahan lama (awet) dalam waktu yang lama. Kemungkinan makanan yang mampu bertahan lama telah menggunakan formalin.

Ciri khas lain, penggunaan formalin dapat membuat makanan yang terbebas dari lalat. Seharusnya, makanan yang dijual di pasaran banyak dihinggapi oleh lalat. Apabila makanan yang dijajakan terbebas dari lalat, maka perlu diwaspadai.

Terakhir, perhatikan warna pada makanan dan minuman. Biasanya, menu makanan dan minuman yang sangat mencolok menggunakan zat pewarna yang berbahaya. 

Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya memperhatikan beberapa hal penting saat ingin membeli menu takjil yang dijual di pasaran.

 

Penulis: Kerin Chang

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: