Penulis : Akbar Fauzi
Editor : Grace Kolin
Dewasa ini, sebagian besar manusia tidak dapat terlepas dari teknologi. Salah satu alasannya, peran teknologi yang dapat membantu hingga mempermudah sebagian besar kebutuhan dan pekerjaan manusia. Wujud nyata dari kemajuan teknologi yang dapat kita lihat adalah menjamurnya penggunaan gawai, seperti ponsel pintar. Hampir semua kalangan memiliki dan menggunakan ponsel pintar dalam kesehariannya, tanpa terkecuali anak-anak.
Anak-anak zaman sekarang lebih cenderung senang menghabiskan waktu bermain dengan ponsel pintarnya. Kelebihannya, ada banyak hal yang dapat dipelajari anak-anak lewat penggunaan ponsel pintar. Namun tidak dapat dipungkiri, anak-anak juga dapat merasakan dampak negatif dari penggunaan ponsel pintar apabila mereka tidak menggunakannya secara bijak.
Hal ini yang melatarbelakangi berdirinya Kampung Dolanan di desa Pematang Johar, Deli Serdang. Tempat yang diberi nama Kampung Dolanan ini didirikan oleh Sumaryono dan menjadi wadah bagi anak-anak dalam mengenal permainan tradisional.
“Jadi saya berpikir bagaimana biar mengurangi lah, mengalihkan anak-anak ini untuk, dari bermain handphone, mereka bisa beralih ke hal-hal yang positif yaitu seperti bermain, ataupun bermain sama teman-temannya dan saya berpikir bahwa di sini ada tempat yang bisa mereka pakai untuk berkumpul bersama untuk saling mengenal permainan-permainan tradisional,” ujar Sumaryono. Bersama remaja setempat, Sumaryono berusaha mengenalkan dan mengajarkan anak-anak cara memainkan permainan tradisional secara baik dan benar.
Kampung ini buka setiap hari Sabtu dan Minggu ini menyediakan beberapa permainan seperti, permainan congklak, lompat tali, egrang bambu, egrang batok kelapa, kelereng, yoyo dan permainan tradisonal lainnya. Selain bermain, anak-anak juga meraih manfaat positif di tempat ini, seperti meningkatkan kreativitas, mencerdaskan otak, menanggulangi konflik, melatih empati, mengasah panca indra, media terapi dan lainnya.
Menjaga tradisi dan mengenalkan budaya, termasuk permainan tradisional yang sudah banyak ditinggalkan dan dilupakan, hal ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk mengenalkan dan melestarikannya kepada anak-anak, pewaris kebudayaan berikutnya.

