Ilustrasi Cinderella Syndrome (Foto: pixelshot via Canva)
Cinderella syndrome atau Cinderella complex, adalah kondisi ketika seorang wanita bergantung berlebihan kepada orang lain dan tidak bisa menghadapi masalahnya sendiri.
Istilah Cinderella complex, pertama kali diperkenalkan oleh seorang penulis bernama Colette Dowling pada 1981 melalui bukunya yang berjudul The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence.
Di dalam buku tersebut, Colette Dowling mengatakan bahwa Cinderella complex adalah sebuah kondisi ketika seorang wanita tidak diajarkan untuk menghadapi ketakutan dan masalahnya sendiri.
Alhasil, sindrom ini akan membuat wanita cenderung bergantung (dependen) pada orang yang dianggap lebih kuat darinya, terlebih pada seorang pria.
Hal inilah yang kemudian membuat mereka berpikir bahwa jika mereka dihadapkan kesulitan, akan ada orang lain yang membantunya. Meski terkesan umum, tetapi Cinderella syndrome tidak dialami oleh semua wanita. Pasalnya, kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti pola asuh orang tua.
Psikolog dari Primadita Consulting Rr. Finandita Utari, M.Psi., Psikolog., CTC., CGA., menjelaskan, Cinderella syndrom bukan termasuk gangguan mental atau psikologis, tetapi memang mengarah ke sana.
“Namun, kalau dilihat cirinya mendekati gangguan dependen atau gangguan kepribadian dependen,” ujar Finandita dikutip dari kanal YouTube DAAI Family, Kamis (22/6).
Cinderella syndrome menyebabkan seseorang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap orang lain, baik terhadap keluarga maupun pasangannya, sehingga dia tidak bisa mandiri.
Pada akhirnya, saat wanita dengan Cinderella syndrome tumbuh dewasa, dirinya akan menjadi orang yang memang punya kekhawatiran dan kecemasan tinggi, dia juga akan mengalami ketakutan untuk bisa mandiri.
Penyebab Cinderella Syndrome
Menurut Finandita, ada beberapa kondisi yang menyebabkan Cinderella syndrome pada seseorang. Pertama, adalah pola asuh orang tua yang terbiasa memanjakan atau membedakan anak-anaknya, sehingga ada anak yang merasa lebih diasingkan atau diistimewakan.
Kedua, adanya perlakuan orang tua yang terlalu memanjakan anak. Ketika seluruh kebutuhan anak telah disediakan oleh orang tua, anak-anak cenderung tidak punya kemandirian.
Ketiga, kondisi kecemasan yang tinggi di dalam diri sendiri. Saat anak punya rasa takut yang tinggi, lalu didukung juga oleh lingkungan sosialnya, maka anak tidak akan memiliki upaya untuk mendapatkan apa yang dia mau.
“Pada kondisi ini, anak cenderung tidak memiliki usaha untuk dirinya sendiri dan daya juangnya kurang,” kata Finandita.
Gejala Cinderella Syndrome
Meskipun tidak ada gejala yang khusus, tetapi umumnya wanita pengidap sindrom ini akan mengalami beberapa hal.
Misalnya, seperti cenderung menerima terhadap segala keputusan dan pilihan dari orang lain, kerap merasa cemas saat memikirkan hidup sendirian, kesulitan menentukan sebuah keputusan besar dalam hidup, kesulitan mempertahankan suatu pekerjaan, dan lain sebagainya.
Tentunya, orang tua punya peran penting dalam pembentukan karakter anak. Dengan demikian, sebisa mungkin orang tua harus aktif dalam memberi penjelasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak. Kemudian, biasakan anak untuk menyiapkan kebutuhan sekolahnya sendiri agar anak bisa belajar membuat keputusannya sendiri.
“Jadi orang tua hanya perlu menyiapkan dan mengawasi. Nantinya yang melakukan sisanya adalah anak itu sendiri,” jelas Finandita.
Orang tua juga perlu waspada saat anak mulai menangis tanpa alasan yang jelas, apalagi jika anak menangis dalam jangka waktu yang lama.
Hindari langsung memberikan kemauan anak untuk menenangkan mereka saat sedang menangis. Ini karena, anak bisa terbiasa mengandalkan tangisan untuk mendapatkan semua yang mereka inginkan secara instan.
Pengobatan Cinderella Syndrome
Untuk mengatasi sindrom ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari apakah ada sesuatu yang salah dalam diri sendiri atau tidak.
Jika sindrom ini dialami oleh orang lain, usahakan untuk membantu orang tersebut dalam menggali kemampuan atau menemukan hobi baru, serta temani mereka dalam menjalani hobi tersebut.
Hal ini, bisa membuat orang tersebut merasa dirinya bermakna, berdikari, dan merasa tidak perlu bergantung pada pasangannya.
Jangan lupa juga untuk berkonsultasi ke ahli untuk melihat dan menemukan solusi masalah tersebut, sehingga pengidap Cinderella syndrome bisa mengikuti sesi konseling yang sesuai.
“Selain itu, support system dari keluarga itu sangat penting. Kalau kita melihat orang ini sudah berupaya untuk berubah, kita perlu mengapresiasi mereka dengan memberikan dukungan. Efeknya dia akan lebih percaya diri, merasa bahwa dirinya punya kemampuan, serta merasa bisa melakukan sesuatu tanpa orang lain. Akhirnya dia akan merasa bahwa dirinya berdaya dan bermakna,” tutup Finandita.

