Ilustrasi Sifilis (Foto: jarun011 via Getty Images)
Sifilis atau raja singa adalah infeksi menular seksual (IMS) pada organ reproduksi yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Sifilis adalah penyakit yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius jika tidak segera mendapatkan pengobatan.
Mengutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), infeksi sifilis berkembang secara bertahap, yakni primer, sekunder, laten, dan tersier. Setiap tahap dapat memiliki tanda dan gejala yang berbeda.
Sifilis bisa menular melalui kontak langsung dengan orang yang punya luka sifilis selama hubungan seks vaginal, anal, atau oral.
Sifilis juga dapat menyebar dari ibu dengan sifilis ke bayinya yang belum lahir. Namun, sifilis tidak dapat menular melalui kontak biasa dengan benda-benda tertentu.
Misalnya, seperti kursi toilet, gagang pintu, kolam renang, bak air panas, bak mandi, berbagi pakaian, atau peralatan makan.
Salah satu cara untuk menghindari sifilis adalah dengan menggunakan alat pengaman atau alat kontrasepsi saat melakukan aktivitas seksual. Secara terperinci, berikut adalah beberapa gejala sifilis sesuai dengan tahapannya.
1. Sifilis Primer
Selama tahap pertama (primer), penderita sifilis mungkin akan melihat satu atau banyak luka di tubuh. Luka inilah yang akan menjadi pintu masuk sifilis ke dalam tubuh.
Luka ini biasanya terjadi di dalam, di atas, atau di sekitar penis, vagina, dubur, rektum, serta bibir atau di dalam mulut.
Luka ini biasanya benbentuk bulat dan tidak menimbulkan nyeri, sehingga membuat penderita tidak menyadarinya.
Luka ini biasanya berlangsung selama 3-6 minggu dan akan sembuh sendirinya, terlepas dari apakah pasien menerima pengobatan atau tidak. Setelah sakitnya hilang, penderita sifilis tetap harus menerima perawatan untuk menghentikan infeksi Anda berlanjut ke tahap sekunder.
2. Sifilis Sekunder
Selama tahap sekunder, penderita sifilis mungkin mengalami ruam kulit dan/atau luka di mulut, vagina, atau anus. Tahap ini biasanya dimulai dengan ruam pada satu atau lebih di area tubuh. Ruam dapat muncul saat luka utama sembuh, atau beberapa minggu setelah luka sembuh. Ruam bisa berada di telapak tangan dan/atau telapak kaki, serta bertekstur kasar, berwarna merah, atau cokelat kemerahan.
Ruam ini biasanya tidak terasa gatal dan terkadang sangat samar, sehingga penderita tidak menyadarinya. Gejala lain yang dialami pasien termasuk demam, kelenjar getah bening bengkak, sakit tenggorokan, rambut rontok, sakit kepala, penurunan berat badan, nyeri otot, dan kelelahan.
Gejala dari tahap ini akan hilang setelah penderita sifilis menerima pengobatan. Tanpa pengobatan yang tepat, infeksi akan berpindah ke tahap sifilis laten dan mungkin tersier.
3. Sifilis Laten
Tahap sifilis laten adalah periode ketika tidak ada tanda atau gejala yang terlihat. Tanpa pengobatan, pasien dapat terus menderita sifilis di tubuh selama bertahun-tahun.
4. Sifilis Tersier
Sifilis tersier dapat mempengaruhi banyak sistem organ seperti jantung, pembuluh darah, otak, dan sistem saraf.
Sifilis tersier merupakan tahap yang sangat serius dan akan terjadi 10-30 tahun setelah infeksi dimulai. Pada sifilis tersier, penyakit ini merusak organ dalam dan dapat mengakibatkan kematian. Dokter biasanya dapat mendiagnosis sifilis tersier dengan bantuan beberapa tes.
5. Neurosifilis, Sifilis okular, dan Otosifilis
Tanpa pengobatan, sifilis dapat menyebar ke otak dan sistem saraf (neurosifilis), mata (sifilis okular), atau telinga (otosifilis). Ini dapat terjadi selama salah satu tahapan sebelumnya
Tanda dan gejala neurosifilis adalah sakit kepala parah, kelemahan otot dan/atau masalah dengan gerakan otot, kesulitan fokus, kebingungan, perubahan kepribadian, sampai demensia.
Di sisi lain, tanda dan gejala sifilis okular dapat meliputi sakit mata dan/atau kemerahan, perubahan dalam penglihatan, bahkan kebutaan.
Kemudian, tanda dan gejala otosifilis dapat meliputi gangguan pendengaran; dering, dengung, menderu, atau mendesis di telinga (tinnitus); serta pusing atau vertigo.
Sifilis dapat diobati dengan antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Langkah pengobatan sifilis dilakukan sesuai dengan tahapannya. Untuk penderita sifilis primer dan sekunder, pengobatan yang diberikan dokter adalah menyuntikkan antibiotik ke dalam otot.
Sementara itu, untuk penderita sifilis tersier akan mendapatkan antibiotik melalui jalur intravena (infus). Untuk ibu hamil juga akan mendapatkan penanganan yang sama dengan pengidap sifilis tersier.
Namun, pengobatan ini mungkin tidak bisa memperbaiki seluruh kerusakan yang telah disebabkan oleh sifilis. Setelah mendapatkan pengobatan, penderita sifilis akan melakukan pemeriksaan darah kembali untuk memastikan bahwa infeksi telah sembuh total.
Meski demikian, pasien yang sudah sembuh dari sifilis masih bisa terinfeksi kembali. Untuk itu, para penyintas sifilis perlu melakukan tes rutin ke rumah sakit untuk memastikan perawatan sifilis sudah berhasil sepenuhnya.

