Mahasiswa Politani Samarinda membuat sabun dari minyak jelantah. (Foto: Vokasi Kemdikbud)
Melalui pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani Samarinda) berinovasi dengan membuat sabun cuci piring dari bahan minyak jelantah.
Sabun cuci piring inovatif inovasi mahasiswa Politani Samarinda ini tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan limbah minyak jelantah, tetapi juga lebih ramah lingkungan karena terbuat dari bahan alami.
“Daur ulang minyak jelantah untuk diubah menjadi sabun adalah praktik yang mulai umum di berbagai negara, termasuk di Indonesia dan di Politani Samarinda yang mulai banyak dikembangkan,” ujar Wanti, selaku ketua kelompok tim sabun cuci piring berbahan minyak jelantah, dikutip dalam keterangannya, Senin (22/1).
Selain Wanti, sejumlah mahasiswa lain yang juga tergabung dalam proyek ini, adalah Ikmal Muhdin, Anton Prayitno, Ulfia Nur Sabina, Rani Amdani Rahman, dan Ferry Fauzan Halim.
Mereka merupakan mahasiswa Program Studi Pengelolaan Lingkungan, Jurusan Lingkungan dan Kehutanan. Adapun Pengembangan sabun cuci piring dari minyak jelantah tersebut dilakukan di bawah bimbingan Haryatie Sarie selaku dosen pembimbing.
Pemanfaatan Minyak Jelantah
Menurut Wanti, selama ini penggunaan minyak jelantah secara langsung dalam masakan dan pembuatan makanan lainnya tidak hanya tidak sehat, tetapi juga dapat berdampak negatif terhadap lingkungan. Dampak negatif tersebut, utamanya saat minyak jelantah dibuang begitu saja ke dalam saluran pembuangan air.
“Padahal limbah minyak jelantah sebenarnya merupakan salah satu jenis limbah yang dapat didaur ulang, diubah menjadi bahan yang lebih berguna, dan dapat dimanfaatkan kembali dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Wanti.
Minyak jelantah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah kemudian diolah kembali dan digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan sabun cuci tangan.
Keunggulan Sabun Cuci Piring dari Minyak Jelantah
Wanti menambahkan, ada bebrapa keunggulan sabun cuci dari limbah minyak jelantah, yaitu lebih mudah terurai secara alami, sehingga lebih ramah lingkungan.
Selain itu, sabun cuci ini juga dapat memberikan manfaat bagi kulit karena terbuat dari bahan alami tanpa bahan kimia berbahaya.
Penggunaan sabun cuci dari limbah minyak jelantah juga dapat membantu membentuk perilaku ramah lingkungan yang lebih baik, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar kita.
Jika dilihat dari sisi ekonomi, kata Wanti, pemanfaatan limbah jelantah untuk membuat sabun adalah usaha yang dapat dilakukan dengan nilai tambah ramah lingkungan.
Melalui pengumpulan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali limbah minyak bekas tersebut dapat menghasilkan produk baru yang bernilai tambah dan lebih bersih.
Limbah yang dikumpulkan dan diproses dengan cara tertentu, akan menghasilkan sabun yang ramah lingkungan dan bernilai tambah bagi masyarakat.
Selain itu, usaha yang berbasis daur ulang juga memiliki potensi pasar yang luas karena kini banyak masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.
“Inovasi produk ramah lingkungan dapat membantu mengurangi dampak negatif pada lingkungan dan membantu dalam upaya menjaga bumi kita,” tambah Wanti.

Cara Pembuatan Sabun Cuci Piring
Proses pembuatan sabun dari limbah jelantah melibatkan beberapa tahap, yaitu persiapan bahan, proses pencampuran, pengadukan, proses pemotongan dan pembentukan, pengeringan, dan pengemasan.
“Untuk proses pembuatan sabun yang baik, disarankan menggunakan teknologi dan bahan baku yang tepat dari sumber yang terpercaya,” ungkap Wanti.
Meskipun dikerjakan dengan skala mahasiswa, pengolahan limbah minyak jelantah menjadi sabun ini tetap memperhatikan kontrol mutu yang ketat untuk menjamin kualitas produk.
“Selain dapat mengurangi limbah minyak jelantah di lingkungan, pembuatan sabun dari limbah minyak jelantah ini juga dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat untuk menambah penghasilan keluarga. Pasalnya, proses pembuatanya relatif mudah,” tutup Wanti.
Untuk menghasilkan sabun dengan kualitas yang baik dan aman digunakan, Wanti mengingatkan bahwa proses pengolahan limbah minyak jelantah menjadi sabun harus memperhatikan beberapa hal.
Di antaranya cara pengolahan yang higienis, rasio sodium hidroksida dan minyak jelantah yang tepat, pemilihan bahan dan alat yang aman, serta perhatian terhadap kontrol mutu dan aspek kesehatan.
Masyarakat juga tidak hanya memanfaatkan limbah minyak di dapur sendiri saja, tetapi juga bisa memanfaatkan sumber-sumber minyak bekas lainnya, seperti hotel, restoran, dan sebagainya.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

