Aldino skater tunanetra (Foto: Instagram.com/dino.onidsk8)
Aldino Julisnianta Nursyam (28) menjadi satu-satunya penyandang tunanetra di Kota Bandung yang mahir dalam memainkan papan seluncur (skateboard).
Aldino menjelaskan, penglihatannya hilang pada tahun 2018 lalu saat usianya baru menginjak 23 tahun.
Kondisi ini terjadi karena glaukoma yang muncul akibat efek samping konsumsi minuman beralkohol.
Glaukoma sendiri, adalah kondisi medis berupa kelainan yang terjadi karena kerusakan saraf mata
Meskipun tidak bisa melihat, tetapi Aldino tetap menjalani harinya dengan produktif. Ia kerap melakukan live streaming di TikTok, bermain skateboard, bermain musik, mengasuh anak, mambantu pekerjaan rumah, dan sebagainya.
Di dalam live streaming-nya, Aldino kerap membagikan kisahnya saat pertama kali mengalami kebutaan. Tidak hanya itu, Aldino juga kerap berdakwah di dalam platform tersebut dan memberikan edukasi agar masyarakat tidak meniru kebiasaannya dulu.

Dampak Nyata
Usaha Aldino untuk menyebarkan kesadaran akan penyakit ini pun membuahkan hasil. Sampai saat ini, sudah ada sekitar 100 orang lebih berhenti mengonsumsi alkohol berkat live streaming yang ia lakukan.
“Bahkan ada WNI yang tinggal Jerman itu dia mau flight ke Barcelona buat party sama temen-temennya. Terus dia dengerin live streaming saya buta gara-gara miras, akhirnya nggak jadi berangkat dia,” ujar Aldino kepada DAAI TV, dikutip Rabu (27/9).
Menurut Aldino, penjelasan yang ia berikan selama melakukan live streaming cukup mudah dimengerti dan menyadarkan para penontonnya. Tidak heran jika banyak orang yang akhirnya tersadarkan berkat cerita yang ia bagikan.
Awal Mula Aldino Menjadi Tunanetra
Aldino bercerita, kondisi tunanetra yang dialaminya merupakan akibat dari konsumsi alkohol. Aldino menjelaskan, dirinya mulai mengenal alkohol pada tahun 2014 lalu saat bergabung ke dalam komunitas skateboarding di Bandung.
Setiap malam Aldino selalu datang ke diskotek untuk mencari hiburan. Akibat desakan pergaulan, akhirnya Aldino pun terpaksa mengonsumsi alkohol.
Di tahun 2016, Aldino merasa mata kirinya mulai bermasalah. Sampai akhirnya, saat Aldino menyeka wajah menggunakan handuk, tiba-tiba mata kirinya menjadi gelap total. Sejak saat itu, Aldino pun tidak bisa menggunakan mata kirinya lagi.
Meski demikian, Aldino tidak langsung memeriksakan kondisi mata kirinya. Sampai di tahun 2017 akhirnya diketahui bahwa Aldino mengidap glaukoma. Aldino pun disarankan untuk menjalankan operasi mata agar kondisinya bisa membaik, tetapi dirinya merasa takut dan akhirnya menolak untuk melakukan operasi.
Seiring berjalannya waktu, kondisi mata kanan Aldino pun ikut memburuk. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-23 di tahun 2018, mata kanan Aldino berakhir mengalami kebutaan total.
“Saya depresi, di situ saya teriak minta tolong ke ibu saya. Ternyata ibu saya sempat mau memberikan kejutan berupa operasi mata, tetapi semuanya terlambat. Saya emosi kenapa ibu saya nggak bilang dari awal. Di situ semua keluarga saya menangis,” kata Aldino.
Proses Adaptasi
Tentunya proses adaptasi yang dijalani Aldino tidaklah mudah. Aldino bahkan sempat kesulitan untuk makan, minum, mandi, bahkan berjalan.
Beruntungnya, Aldino mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya, sehingga banyak orang yang menemani Aldino melewati masa-masa sulitnya.
“Kesulitan di awal itu kayak berjalan, terus menentukan arah kaki harus ke mana. Misalkan ada orang asing yang mengarahkan, ‘Awas di depan ada lubang’. Pas saya lompat ternyata nggak ada lubang, dikerjain saya. Hal-hal kayak begitulah kesulitannya,” katanya.
Efek Glaukoma
Glaukoma yang diderita Aldino membuat mata kirinya menjadi miring dan terbuka lebar, kelopak matanya pun menjadi sedikit tertutup.
Itulah yang membuat Aldino menutup mata kirinya agar tidak terlihat oleh orang lain.
“Jujur memang insecure, tapi gimana caranya saya nutupin rasa malu ini jadi suatu karakter gitu. Ya sudah saya pakai penutup mata satu. Kayak anaknya Habibie, kan, juga pakai tutup mata satu gitu,” jelas Aldino.
Hal yang Dirindukan
Meskipun sudah menerima keadaannya, tetapi ada satu hal yang sangat diidamkan Aldino. Jika diberikan kesempatan lagi, Aldino sangat ingin melihat putrinya yang hampir berumur dua tahun. Pasalnya, kata Aldino, sejak putrinya lahir Aldino belum pernah melihatnya sama sekali.
“Saya menikah dengan istri di tahun 2020 saat keadaan sudah buta. Sejak anak saya lahir sampai detik ini, saya belum pernah lihat fisiknya, bahkan saya sempat salah mengazankan anak saya. Saat ia lahir, saya malah mengazankan kakinya, bukan di telinganya,” cerita Aldino.

Alasan Bermain Skateboard
Meskipun sudah tidak bisa melihat, tetapi gairahnya untuk bermain skateboard tetap membara. Aldino mengaku, awalnya ia dan sang istri memang pernah mencoba membuka usaha, tetapi berujung gagal atau bangkrut.
“Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali skateboarding karena saya rasa skateboarding inilah yang menjadi passion saya. Jadi saya melakukan itu benar-benar pakai hati, mau dapat sesuatu atau nggak, ya, nothing to lose,” jelas Aldino.
Berangkat dari niat tersebut, Aldino pun rutin berlatih skateboarding selama lima bulan sampai akhirnya kemampuan Aldino perlahan mulai pulih.
“Menurut saya, hal-hal dalam skateboard ini yang akhirnya membuat saya tuh lebih bisa menikmati hidup. Takjubnya karena saya ini memang satu-satunya di Indonesia yang main skate dalam keadaan buta, saya ditawarin untuk main di Paralympic. Padahal saya baru main skate, akhirnya saya bilang ke dia sepertinya belum ikut berkompetisi,” ungkap Aldino.
Pesan dan Harapan
Aldino berpesan kepada generasi muda untuk berhenti melakukan hal buruk karena efek buruknya bisa memberikan dampak negatif. Untuk itu, Aldino gencar menyuarakan hal ini di media sosialnya.
Di sisi lain, mimpi terbesar Aldino saat ini adalah ingin menginjakkan kaki di Makkah, hingga tinggal di Madinah bersama keluarganya.
“Saya harap orang-orang normal di luar sana itu pandangannya ke kita (penyandang tunanetra) bisa lebih luas lagi. Saya berharap dengan adanya saya, tunanetra main skateboard bisa membangkitkan teman-teman yang depresi gara-gara jadi tunanetra. Semoga bisa bangkit dari depresi karena melihat atau mendengar konten yang saya buat,” tutup Aldino.

