Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi nyamuk Wolbachia (Foto: witsawat sananrum via Getty Images)

Wolbachia adalah bakteri yang dapat tumbuh alami pada 50% spesies serangga, termasuk nyamuk, lalat buah, ngengat, capung, dan kupu-kupu.

Wolbachia biasanya tidak ditemukan pada nyamuk Aedes aegypti, yakni nyamuk yang menularkan virus demam berdarah dengue (DBD), zika, chikungunya dan demam kuning.

Mengutip dari World Mosquito Program (WMP), penelitian yang dilakukan oleh organisasi tersebut menunjukkan, ketika diperkenalkan ke dalam nyamuk Aedes aegypti, bakteri Wolbachia dapat membantu mengurangi penularan virus yang mereka bawa.

WMP sendiri juga memaparkan bakteri Wolbachia ke dalam nyamuk Aedes aegypti di laboratorium dan melepaskannya ke alam liar. Nyamuk ini pun kemudian dikenal dengan nyamuk Wolbachia.

Peneliti memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes aegypti dengan harapan bisa menekan penyebaran DBD.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan, ketika nyamuk jantan Wolbachia kawin dengan betina non-Wolbachia, telur-telur yang dihasilkan akan mati.

Saat betina dan jantan Aedes aegypti ber-Wolbachia kawin, nyamuk betina akan menghasilkan keturunan yang mengandung Wolbachia di tubuh anak-anaknya, sehingga tidak lagi bisa menularkan virus dengue ke manusia.

Seiring berjalannya waktu, persentase nyamuk membawa Wolbachia terus bertambah hingga mencapai persentase yang tinggi tanpa tanpa perlu dilakukan pelepasan lebih lanjut.

 

Apakah Nyamuk Wolbachia Aman?

Wolbachia aman bagi manusia dan lingkungan. Analisis risiko independen menunjukkan, pelepasan nyamuk Wolbachia memiliki risiko yang sangat kecil bagi manusia dan lingkungan.

Wolbachia hidup di dalam sel serangga dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui telur serangga. Nyamuk Aedes aegypti biasanya tidak membawa Wolbachia, tetapi banyak nyamuk lain yang membawa Wolbachia.

Efektivitas Wolbachia telah diteliti sejak 2011 yang dilakukan oleh WMP di Yogyakarta dengan dukungan filantropi Yayasan Tahija. Penelitian dilakukan melaui fase persiapan dan pelepasan Aedes aegypti ber-Wolbachia dalam skala terbatas. Setelah itu dilakukan fase pelepasan nyamuk berskala luas untuk mengukur dampaknya.

 

Efektivitas Nyamuk Wolbachia

Di Indonesia sendiri, nyamuk Wolbachia sudah disebar di Kota Yogyakarta dan Bantul pada tahun 2022 lalu.

Setelah dilakukan pemantauan, hasilnya diketahui bahwa lokasi yang telah disebar Wolbachia terbukti mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77%. Intervensi ini jauh lebih efektif dibandingkan pemberian vaksin dengue. Selain itu, dari segi pembiayaan juga diklaim lebih murah.

“Penelitian WMP Yogyakarta, membuktikan bahwa di wilayah yang kita sebari nyamuk angka denguenya menurun 77,1% dan angka hospitalization karena dengue berkurang 86,1%. Intervensi ini efektivitasnya lebih bagus daripada vaksin dengue,” ujar Peneliti Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Adi Utarini M.Sc., MPH, PhD, dalam keterangannya, dikutip Rabu (22/11).

Selain efisien dan efektif, ia memastikan Wolbachia aman dan gigitannya tidak akan berdampak terhadap kesehatan manusia.

Uut berharap, inovasi teknologi Wolbachia bisa diadaptasi sebagai program nasional dalam kerangka menurunkan penyebaran dengue di Indonesia.

“Jadi ini merupakan salah satu inovasi yang harapannya bisa menguatkan program pengendalian dengue di Indonesia agar masyarakat bisa terhindar dari dengue,” kata Uut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani juga menegaskan adanya penurunan penyebaran dengue yang signifikan, setelah adanya penerapan Wolbachia.

“Jumlah kasus di Kota Yogyakarta pada bulan Januari hingga Mei 2023, dibandingkan pola maksimum dan minimum di 7 tahun sebelumnya (2015 – 2022) berada di bawah garis minimum,” terang Emma

 

Kekhawatiran Masyarakat

Belakangan, nyamuk Wolbachia gencar disebar oleh Pemerintah Indonesia sebagai langkah lebih lanjut untuk menekan penyakit DBD.

Namun, kehadiran nyamuk Wolbachia dinilai bisa membahayakan karena dianggap sebagai hasil dari rekayasa genetik. Banyak orang skeptis dan percaya nyamuk Wolbachia dapat menularkan penyakit radang otak, bahkan merusak genetik.

“Masyarakat pada awalnya memang ada kekhawatiran karena pemahaman dari masyarakat itu nyamuk ini dilepas kok bisa mengurangi (DBD). Tapi seiring berjalan dan kita sudah ada edukasi, ada sosialisasi, sekarang masyarakat justru semakin paham, bahwa sebenarnya teknologi ini untuk mengurangi DBD,” tutup Lurah Patangpuluhan Yogyakarta Sigit Hartobudiono.

Meski demikian, keberadaan inovasi teknologi Wolbachia tidak serta merta menghilangkan metode pencegahan dan pengendalian dengue yang telah ada di Indonesia.

Masyarakat tetap diminta untuk melakukan gerakan 3M Plus seperti Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang, serta tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: