Ni Made Moni di panti asuhan (Foto: Kanal Bali, Kumparan)
Ni Made Moni (71) sudah lebih dari 20 tahun mengurus anak-anak di Panti Asuhan Dharma Jati, Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali.
Perjuangan Ni Made Moni dalam mengurus anak-anak di panti asuhan patut diacungi jempol. Dirinya bahkan telah mengurus panti asuhan ini selama lebih dari 20 tahun terakhir.
Ni Made Moni bercerita, panti asuhan ini didirikan oleh kakaknya, I Wayan Nika pada tahun 1985 lalu.
Sebelum mengurus panti asuhan, Moni membuka usaha studio foto di Denpasar, Bali. Namun, Moni terpaksa harus kembali pulang kampung ke Desa Bakas untuk mengurus panti asuhan karena ketua panti asuhan yang sebelumnya mengundurkan diri.
“Saya langsung kelola panti asuhan ini sampai sekarang,” ujar Moni dikutip dari Kanal Bali, Kumparan, Jumat (8/12).
Sejak pertama kali didirikan, sudah ada ratusan anak yang berhasil dididik di tempat ini. Sementara itu, saat ini panti asuhan tersebut mengasuh puluhan anak yang bersekolah dari TK sampai SMA.
Pengorbanan dari Ni Made Moni untuk panti asuhan bukan tanpa alasan. Sejak awal mengurus panti asuhan, Moni berkomitmen untuk menjadi wanita yang berguna.

Menyelamatkan Panti Asuhan
Tidak hanya mengurus anak-anak, Moni juga menyiapkan makanan, mengajari kegiatan seni, budaya, hingga bahasa asing.
Moni bahkan rela berjuang demi bisa menyelamatkan panti asuhan. Saat kondisi pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu, bantuan donatur panti asuhan ikut tersendat.
Moni yang dulu memiliki tabungan pribadi yang biasanya digunakan untuk kebutuhan mendadak di panti, kini telah habis untuk memenuhi biaya operasional.

Akhirnya, pihak panti asuhan berusaha mandiri dengan berjualan. Moni rela memanfaatkan hasil kebun milik orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Beberapa hasil panen yang dijual, adalah kelapa, padi, dan hasil panen lainnya.
“Kami tidak ada donatur tetap. Orang tua saya punya sawah yang digarap orang lain, dari bagi hasil itu saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan di panti saat ini. Syukurnya tidak sampai kekurangan dan kebutuhan anak-anak juga terpenuhi. Saya percaya jika kita lakoni dengan ikhlas, pasti selalu dilancarkan,” jelasnya.
Moni yang menjadi orang tua tunggal bagi keempat anaknya mengaku, dirinya sudah terbiasa berjuang sendirian untuk membesarkan anak-anaknya.
“Kalau untuk anak-anak di panti ini, semoga menjadi karma baik saya. Kita harus tetap bersemangat untuk maju. Lakukan hal positif, karena kita (wanita) kaum yang kuat,” tutup Moni.

