Anak yang memiliki teman khayalan (imaginary friends))

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Imajinasi merupakan daya pikir seseorang untuk membayangkan atau menciptakan suatu gambaran pada pikirannya. Pada anak, keberadaan imajinasi tentunya sangat baik untuk membuat mereka dapat berpikir lebih luas tanpa terikat oleh suatu batasan. Selain itu, dengan kekuatan imajinasi, anak juga bisa menciptakan teman khayalan (imaginary friend).

Mengutip dari laman alodokter.com, teman khayalan ini dapat berupa karakter film, kartun, atau buku cerita bisa menjadi sumber imajinasi anak. Selain itu, teman khayalan juga bisa lahir dari pikiran anak itu sendiri.

Menurut Laura Markham, penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids, anak-anak yang memiliki teman khayalan merasa senang dengan keberadaan sosok tersebut. Sebab, anak menganggap teman khayalannya sebagai sosok yang bisa terus diajak bermain ketika ia merasa bosan atau kesepian.

Meski begitu, banyak orang tua khawatir dan berpikir bahwa anak yang memiliki teman khayalan adalah anak yang kesepian, tidak punya teman di dunia nyata, atau bahkan mengidap gangguan kejiwaan, seperti skizofrenia. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Melansir alodokter.com, memiliki teman khayalan selama masa kanak-kanak adalah hal yang normal. Memiliki teman khayalan justru dapat membawa beberapa manfaat untuk perkembangan anak, di antaranya:

  • Membangun keterampilan anak untuk bersosialisasi.
  • Meningkatkan kreativitas anak.
  • Membantu anak mengelola emosi.
  • Membantu anak untuk memahami situasi.
  • Membantu anak mengelola konflik di sekitarnya.

Ketika anak memiliki teman khayalan, apa yang harus dilakukan? Berikut ini adalah beberapa tips dari alodokter.com dalam menyikapi anak yang memiliki teman khayalan:

  • Hargai pertemanan anak dengan teman khayalannya.
  • Saat anak melakukan kesalahan, jangan biarkan anak menjadikan teman khayalannya sebagai alasan.
  • Jangan menggunakan teman khayalan untuk memanipulasi anak.
  • Tidak perlu terlibat secara berlebihan dalam hubungan anak dengan teman khayalannya, karena hubungan anak dan teman khayalannya cenderung akan bertahan lebih lama jika orang tua juga terlibat di dalamnya.

Biasanya, anak-anak mulai memiliki teman khayalan sejak usia 2,5 tahun dan bisa bertahan hingga usia 3–7 tahun. Namun, jika teman khayalan anak bertahan lebih lama atau dianggap mengkhawatirkan, orang tua dapat membawa anak untuk berkonsultasi dengan psikolog guna memperoleh penanganan yang tepat.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber