Kaligrafi Tiongkok

Adi Sarwono bersama anak-anak Busa Pustaka (Foto: Instagram.com/busapustaka)

Adi Sarwono membuka komunitas literasi bernama Sekolah Rakyat Busa Pustaka di Lampung, untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Bagaimana awal mulanya?

Mengutip dari tayangan YouTube Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Adi menjelaskan bahwa Busa Pustaka berdiri di akhir tahun 2016.

Busa Pustaka, kata Adi, lahir dari sebuah kerisauan dan kegelisahan karena melihat anak-anak di Lampung melakukan kegiatan yang kurang produktif.

“(Saya) juga (melihat) bagaimana indeks literasi di Lampung terlebih akses baca di masyarakat, khususnya di anak-anak masih rendah. Itu yang akhirnya membuat busa pustaka berdiri,” ujar Adi dikutip dari tayangan YouTube, Selasa (12/3).

(Perpustakaan keliling Busa Pustaka)

 

Terinspirasi dari Busa Sabun

Nama Busa Pustaka sendiri, lahir dari Adi yang terinspirasi dari busa sabun. Saat itu, Adi yang berprofesi sebagai sales sabun sedang menawarkan produknya kepada para pedagang di pasar.

Saat melihat pedagang mencuci dengan sabun dan menghasilkan busa yang banyak, Adi langsung terlintas nama Busa Pustaka.

“(Busa artinya) busanya banyak dan berlimpah, Pustaka (artinya) buku atau ilmu,” jelas Adi.

(Perpustakaan keliling Busa Pustaka)

 

Kegiatan Busa Pustaka

Kegiatan komunitas Busa Pustaka diawali dengan perpustakaan keliling. Menggunakan aset pribadinya, Adi menjual beberapa barang untuk mengumpulkan uang guna membeli buku.

Awalnya, Adi menjalankan sebuah perpustakaan keliling menggunakan kendaraan pribadinya, mengunjungi berbagai daerah untuk memberikan akses baca kepada anak-anak. Salah satunya, anak-anak di Kelurahan Kedaung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung.

Berawal hanya dari 10 buku, semangat ini membawa Adi lebih jauh. Di tahun 2019, Busa Pustaka menjalankan perpustakaan keliling ke banyak tempat dan memiliki beberapa titik. Saat ini, Busa Pustaka bahkan sudah memiliki lebih dari 17.000 buku.

Selain perpustakaan keliling, Busa Pustaka juga punya kelas bahasa, yakni Bahasa Indonesia, bahasa isyarat, bahasa daerah, dan bahasa asing.

“Kami ada edukasi umum, juga ada kelas seni bagaimana anak-anak akhirnya bisa melukis. Tahun 2023 ini, bahkan menjadi tahun kedua mereka memameran lukisannya di Kota Hirokawa di Jepang,” ungkap Adi.

Selain itu, Busa Pustaka juga memiliki kelas musik. Saat ini di sekolah rakyat Busa Pustaka dan beberapa tempat lainnya anak-anak kelas teater.

Saat ini, Busa Pustaka sudah menempuh banyak perjalanan. Dimulai dari Adi sendiri, sampai akhirnya Busa Pustaka mendapatkan dukungan dari banyak orang, termasuk dari kantor bahasa dan duta bahasa.

Kini Busa Pustaka memiliki lebih dari 3.700 relawan dan Adi meyakini Busa Pustaka bisa terus berkembang ke depannya.

(Perpustakaan keliling Busa Pustaka)

 

Kendala Selama Beroperasi

Adi bercerita, kendala yang dihadapi di awal berdirinya Busa Pustaka, adalah keterbatasan buku.

Demi mengatasi masalah tersebut, Adi terus menyosialisasikan Busa Pustaka ke banyak orang. Mulai dari orang terdekatnya, kerabat, komunitas, sampai di media sosial.

Berkat upayanya, kendala tersebut akhirnya bisa diselesaikan. Kini Busa Pustaka punya lebih dari 17.000 koleksi buku dari berbagai genre.

“Kami juga sudah support beberapa teman-teman, kalau mereka punya kegiatan literasi bisa pakai buku kita. Sekarang kami juga menyediakan wadah untuk membaca novel atau buku anak-anak. Lokasinya ada di salah satu kafe di Lampung dan kegiatannya berlangsung setiap Sabtu sore. Itu juga sebenarnya untuk mendongkrak literasi,” jelas Adi.

Khusus untuk kendala operasional atau keuangan, Adi biasanya menggunakan pendapatan pribadinya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun, jika jumlahnya membengkak, Adi akan menambahkan uang dari hasil bisnisnya, kampanye, sampai donasi dari orang lain.

“Selama 2 tahun kemarin (masa Covid-19), waktu anak-anak sekolah daring, puluhan anak kita support kuota pendidikannya setiap bulan selama 2 tahun full. Pasalnya puluhan anak itu tidak mendapatkan kuota pendidikan dari pemerintah, tidak punya gawai, dan harus fotokopi modul sekolah. Jadi kita support juga, alhamdulillah selama kita jalannya baik ada aja yang support,” kata Adi.

Sampai saat ini, Busa Pustaka semakin berkembang dan ramai dikunjungi anak-anak, mulai dari balita hingga anak usia SMP.

“Awalnya hanya diikuti 10 anak, kini sudah ada lebih dari 60 anak dari berbagai usia belajar di tempat ini,” lanjut Adi.

 

Rencana ke Depan

Ke depannya, Busa Pustaka bisa berkembang menjadi yayasan karena Busa Pustaka juga sudah banyak memberikan dukungan untuk pendidikan anak-anak.

Sampai Juni 2023 lalu, Busa Pustaka telah menanggung biaya 238 anak di Kota Bandar Lampung dan memberikan akses membaca ke lebih dari 20.000 anak.

“Harapan saya untuk perjalanan Busa Pustaka ke depan, adalah bagaimana Busa Pustaka akan menjadi semakin berkembang, semakin bermanfaat, tentunya dengan literasi yang semakin baik lewat peran aktif kita semua,” tutup Adi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: