Amadeus Driando (Foto: Instagram.com/driando)
Peneliti tempe Amadeus Driando Ahnan-Winarno (30) membuat Indonesia Tempe Movement. Gerakan ini hadir untuk mempromosikan tempe, serta memberikan akses ke sumber protein yang bergizi, berkelanjutan, dan terjangkau.
Indonesia Tempe Movement diprakarsai oleh keluarga ilmuwan pangan. Dimulai dari sosok Prof. Florentinus Gregorius Winarno di Yogyakarta pada 2015 silam.
Kemudian, gerakan ini diturunkan ke anaknya Wida Winarno, lalu sekarang juga digerakkan oleh generasi ketiga, Amadeus Driando Ahnan-Winarno.
Belum lama ini, Driando bahkan baru saja meluncurkan Kitab Tempe yang dapat menjadi acuan terlengkap mengenai tempe.
Driando mengaku, sebagai mahasiswa bioteknologi saat itu dirinya mencari hasil penelitian terkait makanan. Dirinya sempat terkejut karena ternyata tempe memiliki kandungan yang tidak kalah dengan protein hewani lainnya.
“Tujuan hidup saya itu membuat tempe keren aja, deh,” ujar Driando dikutip dari 20detik, Selasa (4/7).
Upaya untuk Promosi Tempe
Hidup di keluarga ilmuwan pangan yang perhatian dengan lingkungan gizi di sekitar, menjadi inspirasi bgai Driando untuk memperjuangkan agar tempe bisa mendunia.
Ada beragam upaya dilakukan Driando untuk mempromosikan tempe ke seluruh dunia. Pertama, dirinya meneliti tempe saat menempuh pendidikan di S3 Doctoral of Philosophy in Food Science di University of Massachusetts Amherst, Amerika Serikat (AS).
Saat itu, dirinya meneliti potensi antikanker dalam kedelai yang meningkat berkali-kali lipat setelah diolah menjadi tempe.
Setelah meneliti soal tempe antikanker selama lima tahun, Driando akhirnya merangkum semua hasil penelitiannya menjadi satu Kitab Tempe.
Kedua, Driando mendirikan Indonesian Tempe Movement. Lewat gerakan ini, ia bersama ibu dan kakeknya bisa menampung berbagai macam bidang untuk menggerakan misi yang sama dengan tujuan mempromosikan tempe.
Pertama kali Driando menyadari potensi luar biasa dari tempe, adalah ketika dirinya terobsesi dengan binaraga. Saat sedang menyelesaikan pendidikan S1, Driando mencoba setiap sumber protein yang dapat ia akses. Mulai dari konsumsi whey protein, daging, telur, dan susu hampir setiap hari.
Namun, kebiasaan ini membuat keuangan Driando menjadi tidak terkendali, sehingga dirinya mencari alternatif sumber protein yang sama, tetapi dengan harga yang lebih terjangkau. Setelah menemukan tempe, Driando mendedikasikan waktunya untuk meneliti dan menerbitkan Kitab Tempe.
“Sekarang saatnya fermentasi tempe perlu menyebar ke seluruh dunia, sebagai rahasia terbaik Indonesia terkait bagaimana bisa menghasilkan makanan bergizi, berkelanjutan, terjangkau, dan lezat,” kata Driando dikutip dari Ted X.
Upaya ketiga yang dilakukan Driando, adalah membangun startup fermentasi tempe bernama Better Nature Ltd. yang berbasis di Inggris.
Driando mengaku, perusahaan ini didirikan secara tidak sengaja. Saat sedang berkuliah di AS, Driando ikut banyak lomba dan kompetisi agar bisa menang dan punya dana lebih untuk membantu biaya saat kuliah.
Ketika sedang mengikuti lomba di Cambridge University di Inggris, Driando dan timnya memenangkan juara satu. Uang tersebut akhirnya ia gunakan untuk membangun bisnis bernama Better Nature, yakni sebuah brand makanan dengan benang merah tempe, digabung dengan gaya hidup plant-based yang sedang naik daun.
Sampai tahun 2022, Driando sudah berhasil memasarkan produknya di Inggris, Swiss, Jerman, dan Uni Emirates Arab.
“Kami membuat tempe itu dikemas sebagai alternatif daging, tapi memosisikannya sebagai sesuatu yang sangat alami,” tutup Driando.

