Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi autoimun (Foto: Natalia SERDYUK via Getty Images)

Lupus (autoimun) adalah penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ diri sendiri.

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi dan Imunologi dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI., menjelaskan, penyakit autoimun ada yang menyerang satu organ saja, tetapi ada juga yang menyerang banyak organ di tubuh (autoimum sistemik).

Peradangan yang disebabkan oleh lupus dapat mempengaruhi banyak sistem tubuh, seperti persendian, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung, dan paru-paru.

Lupus bisa sulit didiagnosis karena tanda dan gejalanya sering kali mirip dengan penyakit lain. Namun, tanda lupus yang paling mudah dikenali, adalah menimbulkan kelainan di kulit.

Misalnya, seperti ruam wajah yang menyerupai sayap kupu-kupu yang membentang di kedua pipi, demam, nyeri dada, sakit kepala, sampai nyeri sendi yang menyebabkan bengkak.

Beberapa orang dilahirkan dengan kecenderungan bawaan lupus yang mungkin dipicu oleh infeksi, obat-obatan tertentu, atau bahkan sinar matahari. Meskipun tidak ada obat untuk lupus, pengobatan dapat membantu mengendalikan gejalanya.

Umumnya, penyebab lupus belum diketahui secara pasti. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan lupus disebabkan oleh kombinasi antara kondisi genetika dan lingkungan sekitar.

Menurut dr. Suzy, risiko terbesar untuk terkena lupus, adalah kondisi genetik bawaan anggota keluarga terdekat, baik orang tua maupun saudara kandung.

“Penyakit ini juga lebih sering terjadi pada perempuan usia reproduktif. Mulai dari remaja sampai dewasa sebelum mengalami menopause,” ujar dr. Suzy dikutip dalam tayangan YouTube DAAI Family, Rabu (10/5).

Di Indonesia sendiri, sayangnya data pengidap lupus belum tercatat dengan baik, sehingga angka pasti berapa banyak orang yang menderita lupus di Indonesia itu belum diketahui.

Namun, sebuah penelitian menyebutkan, ada sekitar 0,5% atau 5 dari 1.000 orang populasi di Indonesia itu menderita lupus.

Spektrum penyakit lupus sangat luas karena bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh. Kondisi lupus bisa dikatakan ringan jika gejalanya hanya menyerang kulit atau sendi, dan tidak melibatkan organ lainnya.

Meski demikian, kondisi ini bisa berubah menjadi berat jika lupus mengancam atau menyebabkan gangguan ke organ yang bisa mengancam kehidupan.

“Misalnya lupus bisa mengganggu sistem saraf, sehingga menyebabkan orang tersebut tidak sadar atau kejang-kejang. Kemudian lupus bisa mengganggu ginjal yang menyebabkan zat racun meningkat, produksi urine yang sangat rendah, sampai kebocoran ginjal hebat,” kata dr. Suzy.

Meskipun punya spektrum penyakit yang luas, tetapi dr. Suzy menyarankan agar pasien lupus harus rutin melakukan kontrol ke dokter, tidak berhenti berobat, serta tidak melakukan pengobatan pribadi tanpa pengawasan dokter.

Pasalnya, penyakit lupus yang meradang dan tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan kerusakan organ yang yang bisa mengancam nyawa.

Lupus merupakan penyakit kronis yang tidak bisa sembuh. Namun, penyakit ini bisa mengalami remisi atau aktivitas penyakitnya menurun, sehingga pasien berada dalam kondisi baik. Kondisi remisi ini bisa dicapai dengan pengobatan dosis kecil, bahkan tanpa obat sama sekali.

Adapun beberapa obat yang dapat diberikan pada penderita lupus, adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), obat antimalaria, kortikosteroid, hingga obat imunosupresan.

Pasien lupus juga sangat dianjurkan untuk menjalani gaya hidup sehat agar pengobatan bisa berjalan efektif.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: