Soleh Eko Wibowo bersama sang ibu (Foto: DAAI TV)
Soleh Eko Wibowo (20) siswa SMK Teruna Jaya I Gunungkidul tidak malu memungut sampah sepulang sekolah demi membantu perekonomian keluarganya.
Soleh merupakan siswa kelas XII Jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran asal Padukuhan Jeruklegi, Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, DI Yogyakarta.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini, awalnya selalu berjalan kaki sejauh 10 km dari rumah sampai ke sekolah.
Namun, guru dan tetangganya akhirnya memberikan sepeda untuk mempermudah mobilitas Soleh sehari-hari.
Menggunakan modal tersebut, Soleh pun mulai berinisiatif untuk memungut sampah agar bisa dijual kembali ke pengepul.
Bantuan Sepeda
Saat ini, Soleh memiliki dua sepeda yang didapatkan dari guru di sekolahnya dan dari dokter yang tinggal tak jauh dari rumahnya.
Setiap hari, mereka melihat Soleh menempuh jarak jauh untuk menimba ilmu. Merasa tak tega, akhirnya mereka memberikan sepeda kepada Soleh agar dirinya tak perlu lagi berjalan kaki ke sekolah dengan jarak yang jauh.
“Bu dokter itu bilang ke tetangga katanya mau beliin Soleh sepeda dan sepatu. Terus tetangga bilang ke bapak saya. Akhirnya saya sama bapak ngambil sepeda dan sepatunya ke sana. Dikasih sepedanya pas mau naik kelas XI. Setelah itu, selang satu minggu dikasih sepeda sama bu guru langsung ke rumah,” ujar Soleh kepada DAAI TV, dikutip Senin (25/9).

Memungut Sampah Sepulang Sekolah
Berbeda dari siswa lainnya, sepulang sekolah Soleh tidak bermain dengan teman-temannya. Ia lebih memilih untuk memulung sampah agar bisa dijual kembali.
Sampah yang diambil pun beragam. Mulai dari botol plastik, gelas minuman bekas, kertas, sampai kardus. Di dalam sehari, Soleh bisa mengumpulkan sampah sebanyak 2 kantong plastik.
Biasanya, Soleh mengumpulkan sampah dari tempat sampah yang ada di belakang sekolah, atau di sepanjang jalan menuju rumahnya.
Soleh mengaku, dirinya berinisiatif untuk memungut sampah demi bisa membantu perekonomian keluarganya. Ide ini pun mulai ia jalankan setelah mendapatkan sepeda di kelas XI.
“Saat itu ibu belum bisa memberikan uang saku, terus Soleh punya ide buat cari barang rongsokan. Mengambil rongsokan lebih gampang karena bisa dilakukan sepulang sekolah. Seneng jalaninnya nggak malu sama teman-teman,” kata Soleh.
Sampah yang didapatkan Soleh pun tidak langsung dijual. Ia akan mengumpulkan sampah tersebut sampai dua minggu, sebelum akhirnya diangkut dari rumahnya oleh pengepul.
Pendapatannya dari memungut sampah pun bervariasi. Mulai dari Rp15.000-Rp25.000, sehingga dalam sebulan ia bisa mengumpulkan uang sampai Rp50.000.
Pesan Orang tua
Soleh berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai buruh bangunan, sedangkan sang ibu bekerja sebagai penjual bakmi dan tukang kebun.
Setelah kisahnya ramai di media sosial, Soleh dan orang tuanya mengaku cukup terkejut. Banyak orang yang memberikan komentar di media sosialnya dan berniat untuk membantu Soleh.
“Saya merasa sedih iya, bahagia iya, campur aduk lah nggak bisa diomongin. Saya bangga punya anak seperti Soleh. Dia nurut, pendiam, nggak neko-neko kayak anak-anak zaman sekarang, nggak pernah keluar rumah. Semoga Soleh ke depannya makin baik, makin sukses, rezekinya tambah lancar, barokah,” kata Ibunda Soleh, Painem.
Cita-cita Soleh
Sama seperti anak-anak lainnya, Soleh juga memiliki cita-cita yang tinggi. Soleh yang sejak kecil suka menggambar, bercita-cita menjadi konten kreator atau animator agar bisa membuat komik.
Selain itu, Soleh juga ingin membuka angkringan agar bisa membantu ibunya berjualan makanan.
“Teman-teman yang punya harapan atau hobi yang ingin dicapai, jangan merasa malu atau putus asa. Berjuang dan semangat itu adalah kunci kesuksesan,” tutup Soleh.

