Keluarga Wright (Foto: Matt Ray via Harvard Business Review)
Amy dan Ben Wright membuka kedai kopi di Wilmington, Carolina Utara, Amerika Serikat (AS), dan membuka kesempatan baru bagi 400 penyandang disabilitas di area tersebut.
Amy dan Ben Wright merupakan orang tua dari Bitty dan Beau yang merupakan anak dengan down syndrome.
Berdasarkan statistik, diketahui bahwa 80% penyandang disabilitas di AS tidak memiliki pekerjaan. Melihat data ini, Amy dan Ben Wright berkomitmen agar kedua anaknya tidak menjadi bagian dari statistik tersebut.
Sebagai solusi, Amy dan Ben akhirnya memutuskan untuk membuka sebuah kedai kopi kecil di kampung halaman mereka di Wilmington dan mempekerjakan sebagian besar penyandang disabilitas intelektual dan perkembangan.
Mengutip dari Harvard Business Review, kedai kopi bernama Bitty & Beau’s Coffee tersebut saat ini memiliki 20 lokasi, serta diwaralabakan di 11 negara bagian dan District of Columbia yang secara keseluruhan mempekerjakan lebih dari 400 penyandang disabilitas.
Ide Awal Bitty & Beau’s Coffee
Amy menjelaskan, ide untuk Bitty & Beau’s Coffee muncul di benak Amy ketika sedang mandi. Saat itu, pada tahun 2015, Bitty dan Beau masing-masing berusia 6 dan 11 tahun dan Amy telah memikirkan masa depan mereka saat remaja dan dewasa.
Ketika Amy dan Ben mengetahui bahwa 80% penyandang disabilitas di AS tidak memiliki pekerjaan, mereka bertekad untuk memastikan bahwa Bitty dan Beau tidak akan menjadi bagian dari statistik tersebut.
Akhirnya, Amy memutuskan untuk membuka kedai kopi yang akan mempekerjakan sebagian besar penyandang disabilitas intelektual dan perkembangan.

(Pegawai disabilitas menyiapkan pesanan pelanggan. Foto: Matt Ray)
Kedai Pertama Bitty & Beau’s Coffee
Amy dan Ben mulai merencanakan kedai pertama mereka pada bulan November 2015. Teman-teman dalam bisnis kopi, memberi saran kepada mereka untuk mencari biji kopi berkualitas dan mesin apa yang mereka perlukan.
Selain itu, Amy dan Ben meneliti aspek-aspek lain dari layanan makanan dan minuman secara online. Akhirnya, mereka menemukan tempat seluas 500 kaki persegi untuk disewa dan mulai melengkapinya secara perlahan.
Amy dan Ben memasang papan nama yang menjelaskan misi mereka, serta sebuah monitor TV yang menampilkan statistik disabilitas dan menampilkan anggota timnya.
“Kami menggunakan media sosial untuk mengumumkan rencana peluncuran kami kepada masyarakat dan membuka lowongan pekerjaan,” ujar Amy dikutip dalam keterangannya, Jumat (12/1).
Pada bulan Desember 2015, Amy dan Ben menyewa sebuah ruangan dan mengadakan sesi informasi bagi para calon pegawai. Ruangan itu dipenuhi oleh sekitar 50 orang dari segala usia dan berbagai kemampuan.
Menariknya, sebagian besar dari mereka belum pernah mengikuti wawancara kerja sebelumnya dan tidak memiliki resume, jadi sesi tersebut bersifat informal.
Saat itu, Amy dan Ben hanya menjelaskan bahwa mereka mencari orang-orang dengan sikap positif yang tertarik untuk belajar hal baru, serta meyakinkan mereka untuk mencari tahu melalui proses pelatihan pekerjaan mana yang paling sesuai dengan keahlian dan kepribadian mereka.
Amy dan Ben akhirnya mempekerjakan 19 orang dari kelompok tersebut. Beberapa orang memiliki down syndrome, beberapa dengan spektrum autisme, beberapa dengan cerebral palsy, dan yang lainnya tidak terdiagnosis.
“Kami kemudian menghabiskan waktu bersama mereka di lokasi dan memberikan beberapa tugas. Di antaranya seperti menyapa pelanggan, menjalankan meja kasir, membuat minuman, dan memanggil pesanan ketika siap. Amy dan supervisor neurotipikal lainnya, akan berada di belakang dan membantu hanya jika diperlukan. Kami berkomitmen untuk menjadikan pegawai dengan disabilitas sebagai wajah bisnis kami. Pelanggan akan melihat mereka melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan orang normal, serta berinteraksi dengan mereka secara langsung,” kata Ben.
Pintu Bitty & Beau’s Coffee dibuka pada Januari 2016 dengan sambutan meriah dari masyarakat setempat. Orang-orang pun mulai berdatangan, menerima layanan yang ramah dan efisien, minum kopi yang enak dan yang terpenting berinteraksi dengan pegawai Bitty & Beau’s Coffee.
Menariknya, pelanggan Bitty & Beau’s Coffee tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar. Beberapa orang juga melihat cerita Amy dan Ben yang mereka bagikan di media sosial, lalu berkendara dari seluruh penjuru negeri untuk mengunjungi Bitty & Beau’s Coffee.
Saking ramainya, Amy dan Ben menyadari bahwa mereka membutuhkan lebih banyak tempat. Pada bulan Juni 2016, Amy dan Ben pindah ke area seluas 5.000 kaki persegi, 10x lebih besar dari lokasi sebelumnya.
Amy dan Ben juga berinvestasi dengan membangun tempat pemanggangan kopi sendiri yang sepenuhnya otomatis.
7 tahun kemudian, Amy dan Ben telah memiliki 17 lokasi di 11 negara bagian dan District of Columbia, serta mempekerjakan lebih dari 400 penyandang disabilitas.
“Misi bisnis kami adalah untuk menempatkan penyandang disabilitas untuk bekerja. Kami ingin melihat lebih banyak lagi pengusaha yang mengikuti jejak kami. Namun, kami juga percaya bahwa setiap organisasi bisa membuka pintunya bagi penyandang disabilitas dan bisa menjadikan mereka sebagai keunggulan kompetitif. Anak-anak kami memotivasi kami untuk membuat perbedaan. Kami harap kami dapat melakukan hal yang sama untuk Anda,” ungkap Amy.
Inspirasi Keluarga
Ketika Beau lahir dengan down syndrome pada tahun 2004, Amy dan Ben merasakan perasaan yang campur aduk dan merasa takut akan hal yang tidak pasti. Pasalnya, keduanya tidak memiliki pengalaman dengan disabilitas.
Untuk itu, mereka sangat khawatir dengan kebutuhan anak mereka yang baru lahir dan bagaimana mereka dapat membantunya menjelajahi dunia.
“Untungnya, kami berdua dengan cepat beralih ke pola pikir yang lebih positif, menerima Beau apa adanya dan merasa sangat diberkati untuk memilikinya,” ungkap Amy.
Lima tahun kemudian, ketika Bitty juga terlahir dengan sindrom Down Amy dan Ben tidak merasa takut, khawatir, atau sedih.
“Anak keempat kami tidak hanya berhasil lahir ke dunia ini, meskipun dokter hanya memberinya peluang 25% untuk bertahan hidup, tetapi ia juga memiliki disabilitas yang sama dengan Beau,” lanjut Amy.
Sebagai orang tua dari Beau dan Bitty, Amy dan Ben dengan cepat mengetahui bahwa penyandang disabilitas, terutama yang mengalami gangguan intelektual dan perkembangan, diperlakukan berbeda dari orang lain.
Tentu saja, banyak organisasi amal, advokasi, serta beberapa sistem sekolah berusaha untuk mengubah dinamika tersebut.
Namun, komunitas disabilitas masih menjadi subkultur yang terputus dari masyarakat umum. Orang dewasa masih berjuang untuk berintegrasi dan salah satu hambatan terbesar yang mereka hadapi, adalah kurangnya akses ke pekerjaan.
Amy dan Ben memiliki beberapa saran bagi para pemimpin perusahaan Pertama, mereka perlu menyadari bahwa disabilitas adalah bagian dari kondisi manusia. Beberapa orang terlahir dengan kondisi tersebut. Sebagian lainnya, mendapatkan kondisi disabilitas karena masalah kesehatan atau kecelakaan dan hal itu bisa saja terjadi pada kita semua.
“Namun, disabilitas adalah perbedaan yang terus menimbulkan marjinalisasi yang parah. Mari kita menormalkannya dan bergerak untuk mengintegrasikan penyandang disabilitas ke dalam masyarakat, seperti yang telah kita coba lakukan pada kelompok non-mayoritas lainnya,” ajak Amy.
Seringnya, penyandang disabilitas tidak diberi kesempatan. Para pemberi kerja berpikir bahwa akan membutuhkan banyak usaha untuk membuat mereka bisa bekerja dengan cepat.
“Namun, berdasarkan pengalaman kami, kurva pembelajarannya tidak terlalu curam, dan Anda akan segera memiliki anggota tim baru yang sangat andal, sangat terlibat, dan sangat loyal. Saat Anda membangun bisnis, cobalah untuk melihat karyawan baru Anda dari sudut pandang orang tua. Lihat potensi mereka yang belum dimanfaatkan. Beri mereka kesempatan. Jaga ekspektasi Anda tetap tinggi, tetapi juga berikan mereka pengertian dan pengertian. Jadilah pemandu sorak terbesar mereka,” tutup Amy.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

