Ilustrasi Ki Hadjar Dewantara (Foto: ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id)
Hari Pendidikan Nasional (hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, juga bertepatan dengan ulang tahun Ki Hadjar Dewantara yang merupakan pelopor pendidikan Indonesia di era kolonialisme.
Peran pahlawan nasional di bidang pendidikan sangat penting bagi sejarah Indonesia. Tanpa jasa mereka, bidang pendidikan Indonesia bisa jadi tidak akan semaju sekarang.
Meskipun memiliki peran yang berbeda, tetapi para pahlawan nasional ini mempunyai tujuan yang sama, yakni lepas dari penjajahan, meningkatkan mutu pendidikan, dan meningkatkan kecerdasan masyarakat.
Secara terperinci, berikut adalah beberapa pahlawan yang berjasa dalam kemajuan bidang pendidikan di Indonesia.
1. Ki Hadjar Dewantara
Mengutip dari laman Kemdikbud, Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Pada 3 Februari 1928, Raden Mas Suwardi Suryaningrat berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara.
Ki Hadjar Dewantara merupakan pahlawan yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa ini, aktif menyuarakan pendapatnya melalui tulisan.
Ki Hadjar Dewantara mewariskan sistem pendidikan dan semangat juang untuk anak-anak bangsa dalam menempuh pendidikan yang layak.
Salah satunya, juga melalui semboyan ciptaan Ki Hadjar Dewantara yang diabadikan hingga kini, yaitu Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani.
2. Raden Ajeng Kartini
R. A. Kartini lahir pad 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Kartini merupakan anak dari keluarga bangsawan, yakni Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M. A. Ngasirah, sehingga bisa menempuh pendidikan di Europe Lagere School (ELS).
Namun, Kartini hanya mendapat pendidikan hingga usia 12 tahun karena menurut tradisi adat saat itu, perempuan harus tinggal di rumah sejak usia 12 tahun hingga menikah.
Meski tidak bisa mengenyam pendidikan karena sudah menikah, Kartini tetap berusaha menyuarakan gagasannya hingga dimuat di majalah perempuan di Belanda.
Kemudian, Kartini mendidikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912. Sekolah ini, diberi nama “Sekolah Kartini” yang didirikan oleh tokoh politik, yaitu keluarga Van Deventer yang akhirnya bisa berdiri di berbagai daerah.
3. Raden Dewi Sartika
Raden Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1948 di Cicalengka, Jawa Barat. Sama seperti Kartini, Dewi Sartika juga termasuk keluarga priyai, sehingga bisa mendapatkan pendidikan di Eerste Klasse School sampai kelas dua.
Dewi Sartika terkenal sebagai tokoh pahlawan wanita yang memperjuangkan hak perembuan, terutama dalam dunia pendidikan.
Komitmennya dalam memperjuangkan pendidikan, membuat Dewi Sartika mendirikan Sekolah Isteri Pendopo Kabupaten Bandung di tahun 1904. Sekolah ini, dibangun untuk emansipasi wanita agar mereka bisa mengenyam bangku pendidikan.
Di sekolah ini, ada beberapa ilmu yang diajarkan kepada ssiwa perempuan, misalnya seperti menjahit, merenda, menyulam, agama, mengasuh bayi, dan sebagainya. Berkat jasanya, Raden Dewi Sartika dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada 1 Desember 1966.
4. Kyai Haji Ahmad Dahlan
K. H. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah salah satu tokoh agama yang juga dikagumi sebagai pejuang kemerdekaan.
Ahmad Dahlan juga mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912, untuk mewujudkan cita-cita reformasi. Saat itu, Ahmad Dahlan kurang setuju dengan sistem pendidikan kolonialisme yang menuju ke arah sekularisme dan westernisasi.
Menurutnya, pendidikan Islam harus diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.
Ahmad Dahlan memasukkan pendidikan agama di sekolah yang didirikannya, yakni Hooge School Muhammadiyah. Organinsasi Muhammadiyah banyak memberikan ajara Islam yang murni. Muhammadiyah bahkan telah memelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa dengan jiwa ajaran Islam.
Atas perjuangannya, sudah banyak sekolah maupun perguruan tinggi Muhammadiyah yang berdiri. Hal ini membuat Ahmad Dahlan diberi gelar pahlawan nasional, lewat SK Presiden No. 657 pada tahun 1961.
5. Rohana Kudus
Rohana Kudus ditetapkan Presiden Joko Widodo sebagai pahlawan nasional pada 2019 silam. Rohana lahir pada 20 Desember 1884 di Agam, Sumatra Barat.
Ia adalah seorang pers wanita yang peduli dengan dunia pendidikan bagi wanita. Rohana Kudus menunjukkan kepeduliannya dengan mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Kotogadang, Sumatra Barat, pada 1911.
Sekolah keterampilan khusus ini, dibangun khusu bagi perempuan. Di sekolah ini, mereka diajarkan baca-tulis, mengelola keuangan, pendidikan agama, budi pekerti, dan bahasa Belanda.

