Avriza Devano Bestafa (Foto: Puspresnas)
Avriza Devano Bestafa (19) berhasil meraih Beasiswa Indonesia Maju (BIM) ke University of California, San Diego (UCSD), Amerika Serikat (AS), berkat penelitiannya di bidang biologi.
Sejak duduk di bangku SMP Negeri 5 Yogyakarta, Avriza memantapkan diri untuk menekuni dunia riset dan penelitian di bidang biologi.
Berkat konsistensi dan kedisiplinannya, Avriz yang juga Alumni SMA Taruna Nusantara ini membuka jalan impiannya menjadi ilmuwan dengan meraih BIM ke University of California, San Diego di jurusan Bioengineering.
Sejak SMP, Avriz juga aktif mengikuti berbagai lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR). Salah satu penelitiannya bertema pembangkit listrik dari limbah daun asam, terinspirasi dari limbah daun pohon asam yang ada di sekitar sekolahnya. Konsistensi dalam riset dan penelitian pun ia lanjutkan hingga sekolah ke jenjang SMA.
“Saat SMP aku membuat baterai dari limbah daun asam. Itu, kan, contoh pemanfaatan biodiversitas tinggi Indonesia dan bermanfaat bagi orang banyak. Kemudian, saat SMA aku meneliti biodegradasi mikroplastik dengan mikroorganisme yang ada di perairan Yogyakarta,” ujar Avriz dikutip dalam keterangannya, Jumat (6/10).
Menurut Avriz, memilih bidang biologi juga dilatarbelakangi dengan kesukaannya pada tokoh pahlawan super, yakni Spiderman.
Di dalam film, Spiderman banyak terkandung konsep bioteknologi yang membuat Avriz semakin percaya bahwa bidang yang ditekuninya tersebut mampu memberikan manfaat bagi orang banyak.

“Aku suka dengan Spiderman karena di filmnya itu konsep bioteknologinya sering banget ditampilin. Wah, biologi keren banget, nih, apalagi digabungkan dengan teknologi modern dan bisa bermanfaat untuk orang banyak. Seperti pesan moral di filmnya, ‘With great power comes great responsibility’. Jadi dengan kekuatan besar, kita punya tanggung jawab yang besar untuk masyarakat di sekitar kita,” ungkapnya.
Avriz bercerita, dirinya pertama kali mengetahui BIM dari media sosial Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Saat itu ia memberanikan diri untuk mendaffar BIM Program Persiapan S1 Luar Negeri.
“Saat itu aku tahu BIM sebagai suatu kesempatan yang besar. Jadi aku daftar aja. Jujur ekspetasi dulu belum besar karena rapot, esai, dan daftar prestasiku harus melalu kurasi. Alhamdulillah aku lolos,” kata Avriz.
Tak berhenti di situ, perjuangan anak dari pasangan Agtia Bestafa dan Damayanti Sari Rohmaningtyas ini berlanjut, ketika ia harus menyesuaikan waktu dengan sekolahnya dalam mengikuti program pembinaan BIM yang diberikan oleh Puspresnas, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Avriz menjelaskan, “Prosesnya itu banyak. Ada pembinaan seperti TOEFL, IELTS, SAT/ICT, webinar, college counselling, dan ada proyek sosial yang sangat keren. Saat itu aku harus cermat meluangkan waktu untuk mengikuti program persiapan BIM. Mungkin kalau sekolah lain waktunya fleksibel, tapi di SMA Taruna Nusantara yang sangat disiplin aku harus berusaha memanfaatkan dan mencari waktu sebaik-baiknya. Waktu itu merupakan tantangan buat saya harus menyelesaikan tanggungjawab mengikuti BIM dengan konsisten dan disiplin.”
Konsisten dan kedisiplinan Avriz sejak bersekolah pun membuahkan hasil. Pasalnya, Avriz berhasil lolos ke UCSD di jurusan Bioengineering.
Baginya saat pengumuman lolos adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Avriz berharap, bisa mengembangkan dan menerapkan ilmu yang didapatkannya nanti untuk kemajuan Indonesia.
“Harapannya aku belajar di UCSD bisa memperdalam ilmu yang aku tekuni. Indonesia itu potensinya besar banget karena potensi biodiversitasnya sangat tinggi. Aku ingin berperan dalam pengembangan bioengineering dan bioteknologi di Indonesia di masa depan,” harap Avriz.
Selama bersekolah dahulu, Avriz juga telah meraih banyak prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Di antaranya adalah medali emas Olimpiade Penelitian Siswa Nasional (OPSI) tingkat Provinsi D.I Yogyakarta tahun 2018, medali emas Olimpiade Penelitian Siswa Nasional (OPSI) tingkat Provinsi D.I Yogyakarta tahun 2019, medali emas International Conference of Young Scientist (ICYS) di Kuala Lumpur tahun 2019.
Kemudian, ada pula Penghargaan Khusus bidang Karya Tulis Ilmiah pada ajang PORSIMAPTAR (Pekan Olahraga Seni Mahasiswa Pelajar dan Taruna) tahun 2021, medali emas KOMPeK Business Challenge BEM FEB Universitas Indonesia tahun 2022, serta medali emas Indonesia National Science Enterprise Challenge tahun 2022.
Kini, Avriz telah berjarak beratus-ratus kilometer jauh dari orang tuanya. Ia ingin kembali membawa ilmu yang akan dipelajarinya di universitas pilihannya tersebut.
“Jangan takut gagal, jangan takut malu, jangan takut ambil kesempatan. Kalau ada kesempatan yang kamu inginkan ambil dan akan menjadi ceritamu. Tetaplah bergerak menuju cita-cita karena saatnya nanti ada momen titik balik,” tutup Avriz.

