Beethoven, komponis ternama di dunia.

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Nama Ludwig van Beethoven tentunya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang. Ia merupakan salah satu musisi terhebat dalam sejarah. Ada dua maha karyanya yang akrab di telinga publik, yaitu Fifth Symphony dan Für Elise. Selain kedua karya musik ini, ada ratusan karya berhasil dia tulis dalam bentuk solo piano, symphony, string kuartet, concerto, sonata piano, sonata untuk piano dan biola, dan opera klasik.

Karir Beethoven yang gemilang tidak selamanya berjalan mulus. Terlebih saat ia mulai kehilangan kemampuannya dalam mendengar. Melansir dari kompas.com, Saat menulis “Für Elise”, Beethoven menyadari bahwa ia mulai kehilangan pendengarannya. Pada awal 1802, Beethoven telah menulis tentang hal ini dalam catatannya.

Ibarat gitar dan dawai, indra pendengaran adalah hal penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bermusik. Menurunnya kemampuan Beethoven dalam mendengar tentu membuatnya sangat terpukul. Ia bahkan pernah mempertimbangkan untuk mengakhiri hidupnya.

Namun pada akhirnya ia mengurungkan niatnya tersebut karena kecintaannya  yang luar biasa pada musik dan panggilan dalam dirinya untuk terus berkarya. Di tengah keterbatasan, ia justru semakin bersinar. Dilaporkan Time, meski Beethoven kehilangan daya dengar secara total di usia 45 tahun, ia tetap memunculkan karya-karya lain, termasuk Ninth Symphony yang melegenda.

Ninth Symphony yang terkenal dengan Ode an die Freude atau Ode to Joy ditampilkan untuk kali pertama di Wina, Austria. Kala itu, Beethoven mememang tak bisa mendengar riuh tepuk tangan dari penonton, namun ia tetap bisa melihat wajah mereka yang haru bercampur bahagia.

Hebatnya, meski tidak bisa mendengar, Beethoven masih bisa menulis musik. Menurut laman classicfm.com, hal ini dikarenakan Beethoven telah mendengar dan memainkan musik selama tiga dekade pertama dalam hidupnya. Sehingga, ia tahu bagaimana instrumen dan suara terdengar, dan bagaimana mereka dapat bekerja sama. Selain itu, ketulian yang dialami Beethoven terjadi secara  perlahan, bukan secara tiba-tiba. Jadi dia selalu bisa membayangkan seperti apa komposisi musik dalam benaknya.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber